Kejagung Ungkap Peranan 3 Tersangka Korupsi BTS 4G BAKTI Kominfo, Ngadi-ngadi Mark-up Anggaran

Tersangka Kasus Korupsi BTS 4G BAKTI Kominfo (Istimewa).
Tersangka Kasus Korupsi BTS 4G BAKTI Kominfo (Istimewa).

Selular.ID – Tiga tersangka kasus penyediaan korupsi infrastruktur base transceiver station (BTS) 4G dan infrastruktur pendukung paket 1, 2, 3, 4, dan 5 BAKTI Kominfo tahun 2020-2022 memiliki peranan yang berbeda.

Sebelumnya, Kejaksaan Agung (Kejagung) melalui Jaksa Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) yang menetapkan tersangka korupsi BTS 4G BAKTI Kominfo.

Kejagung juga menyebut kasus korupsi ini modusnya adalah mark-up anggaran dengan cara membuat persaingan lelang yang tidak kompetitif.

Total ada tiga tersangka dalam penyediaan infrastruktur base transceiver station (BTS) 4G dan infrastruktur pendukung paket 1, 2, 3, 4, dan 5 BAKTI Kominfo tahun 2020-2022.

Tersangka pertama adalah Direktur Utama Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informatika (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Anang Achmad Latif (AAL).

“Menetapkan AAL selaku Direktur Utama BAKTI Kementerian Komunikasi dan Informatika sebagai tersangka,” ujar Ketut dalam keterangannya, Rabu (4/1/2022).

TONTON JUGA:

Selain Anang Latif, Kejagung juga menetapkan dua orang lainnya yaitu GMS selaku Direktur Utama PT Mora Telematika Indonesia dan YS selaku Tenaga Ahli Human Development (HUDEV) Universitas Indonesia Tahun 2020.

Lalu apakah ada tersangka lain yang akan Kejagung seret lagi dalam kasus ini?

Baca juga: Sejarah Berdirinya BAKTI, Lembaga di Bawah Kominfo yang Kini Terbelit Kasus Korupsi

Terkait hal tersebut, Kejagung masih akan melakukan penyidikan dan telah melakukan penggeledahan di empat lokasi berbeda.

“Pada hari ini dalam rangka untuk memperkuat penyidikan, tim penyidik juga melakukan upaya penggeledahan di empat lokasi berbeda yang merupakan tempat tinggal para tersangka,” ungkap Ketut.

Peranan Tersangka

Baca juga: Terungkap Alasan WhatsApp Menghentikan Layanannya di Lebih dari 40 Perangkat Android dan iPhone

Ketut mengatakan, bahwa AAL dengan sengaja mengeluarkan peraturan yang telah dia atur sedemikian rupa untuk menutup peluang para calon peserta lain.

Hal ini membuat tidak terwujudnya persaingan usaha yang sehat serta kompetitif dalam mendapatkan harga penawaran.

“Hal itu tersangka lakukan dalam rangka untuk mengamankan harga pengadaan yang sudah di mark-up sedemikian rupa,” ucapnya.

Baca juga: Dari iPhone hingga Huawei, Ini Daftar Ponsel yang Tidak Bisa Gunakan WhatsApp di Tahun 2023

Lalu, untuk GMS bersama-sama memberikan masukan dan saran kepada AAL ke dalam peraturan direktur utama untuk menguntungkan vendor dan konsorsium serta perusahaan yang bersangkutan dalam hal ini adalah supplier.

“Sementara YS secara melawan hukum telah memanfaatkan Lembaga HUDEV UI untuk membuat kajian teknis yang mengakomodir kepetingan dari AAL,” papar Ketut.

Ketiganya akan Kejagung tahan selama 20 hari di rumah tahan (rutan) terhitung sejak 4 Januari hingga 23 Januari 2023.

AAL dan YS mendekam di Rutan Salemba cabang Kejaksaan Agung dan GMS di Rutan Salemba cabang Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan.

Akibat perbuatannya para tersangka terjerat Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 juncto Pasal 18 Undang-Undang RI Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dan ditambah dengan Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2001 juncto Lalu, Undang-Undang RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Perubahan atas Undang-Undang RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Baca juga: BAKTI Kominfo Bangun 7000 BTS di Daerah 3T, Bagaimana dengan Dananya?