Kajian GSMA: Kebutuhan 5G Meningkat, Namun Alokasi Spektrum Tidak Jelas

Selular.ID – Kebutuhan untuk menggelar layanan 5G ternyata tidak sejalan dengan sumber daya yang diperlukan. Penelitian oleh GSMA mengungkapkan terdapat kesenjangan dalam kesiapan 5G di seluruh kawasan Asia-Pasifik, dengan jalur untuk mengalokasikan spektrum yang tidak cukup jelas di banyak negara, terutama di pada spectrum 700MHz dan mid-band.

Dalam sebuah laporan, asosiasi industri mobile itu menyarankan rata-rata global 2GHz per negara untuk spektrum mid-band diperlukan antara tahun 2025 dan 2030 untuk menuai manfaat dari jaringan ultra-cepat.

Kepala spektrum GSMA Luciana Camargos menjelaskan negara-negara yang paling sukses adalah negara-negara dengan rencana penyebaran 5G yang ditentukan, dengan mencatat “pembeda utama adalah manajemen spektrum”.

Laporan tersebut menguraikan langkah-langkah yang harus diambil oleh pemerintah dan regulator di seluruh kawasan untuk memungkinkan ketersediaan spektrum yang efisien dan efektif.

Prioritas utama adalah mendukung lisensi spektrum teknologi netral, yang menurut GSMA memberikan fleksibilitas yang diperlukan bagi operator selular dalam menyebarkan teknologi generasi baru berdasarkan permintaan pasar, layanan, dan peta jalan jaringan.

Asosiasi tersebut menyatakan bahwa pendekatan tersebut harus berlaku untuk lisensi yang ada dan yang baru, dan mungkin memerlukan perubahan pada undang-undang yang mendasari suatu negara.

Kurangnya fleksibilitas perizinan dapat menyebabkan ketidakpastian dan penundaan yang dapat berdampak pada investasi dan penyebaran jaringan, kualitas, biaya, dan ketersediaan layanan.

Badan ini juga menyoroti perlunya objektivitas, transparansi dan akuntabilitas ketika suatu negara mengalokasikan spektrum.

Baca Juga: 60 Juta Orang di Indonesia Belum Terkoneksi Internet, Meski Sudah Ada Jaringan 5G

Halaman berikutnya

GSMA merekomendasikan spektrum 5G lebih banyak di pita 850MHZ…