Kiprah Patrick Walujo: Investor Pertama GoJek, Kini Komisaris Indosat Ooredoo Hutchison

Patrick Walujo

Selular.ID – Pebisnis muda Patrick Walujo didapuk sebagai salah satu komisaris dalam jajaran BOC Indosat Ooredoo Hutchison (IOH). Operator baru hasil merger antara Indosat dan 3 Indonesia itu, resmi mengumumkan susunan direksi dan komisaris pada Selasa (28/12/2021), setelah turunnya izin dari Kemenkomifo dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Indonesia.

Selain Patrick, mantan menkominfo Rudiantara turut mengisi posisi sebagai komisaris independen. Posisi yang sama juga dipegang Elisa Lumbantoruan, mantan Direktur Pemasaran dan Penjualan Garuda Indonesia. Saat ini Elisa menjabat sebagai CEO ISS, perusahaan jasa cleaning service asal Denmark.

Masuknya Patrick di jajaran BOC IOH, tak lepas dari kiprahnya di 3 Indonesia. Sekedar diketahui, sebelum tuntasnya proses merger,  saham 3 Indonesia dimiliki masing-masing Hutchison Asia Telecom (66%) dan PT Tiga Telekomunikasi (33%) yang dimiliki keluarga Menteri BUMN Erick Thohir.

Pada 2019, keluarga Thohir masuk ke 3 Indonesia dengan menyuntikkan modal segar sekitar Rp 47 triliun (US$ 3,33 miliar). Sebelumnya pada 2013, Thohir membentuk konsorsium dengan Patrick Walujo, pendiri Northstar Group. Perusahaan yang begerak di bidang private equity dan venture capital.

Siapa tak kenal GoJek? Sebelum menjadi raksasa digital di Indonesia saat ini, GoJek bukan apa-apa. Unicorn pertama di Indonesia layak berterima kasih kepada Patrick Walujo. Pasalnya menantu dari pendiri Triputra Group dan CEO Astra Internasional TP Rachmat itu adalah investor pertama GoJek.

Patrick merupakan alumnus Cornell University jurusan teknik industri pada 1997. Karir pria berkacamata itu dimulai saat menjadi investment banker di Goldman Sachs, salah satu bank investasi terbesar di Amerika Serikat (1997 – 2000).

Selepas Goldman Sachs, Patrick berlabuh ke Pacific Century Group di Tokyo Jepang sebagai manajer mergers and acquistions (M & A) hingga menduduki posisi senior vice president. Di sela-sela pekerjaannya itu, Patrick mendirikan Nortstar Group pada Maret 2003, dengan fokus investasi di Indonesia.

Siapa sangka, bersama Glenn Sugita, Patrick mampu menjadikan Nortstar Group sebagai private equity dan venture capital terkemuka, tidak hanya di Indonesia namun juga di kawasan Asia Tenggara.

Selain GoJek, Patrick diketahui juga berivestasi di PT Bank Artos Indonesia Tbk (ARTO). Pembelian saham pada 2019 itu mengantarkan transformasi Bank Artos menjadi Bank Jago. Bank yang identik dengan warna kuning itu disebut sebagai bank digital yang mampu menjawab berbagai tantangan dan permasalahan keuangan di era teknologi saat ini.

Sebelum mentrasformasi Bank GoJek, jejak Patrick juga terlihat di Sumber Alfaria Trijaya (AMRT), pemilik jaringan minimarket Alfamart. Patrick memilih Alfamart karena melihat bahwa jaringan minimarket ini berpotensi untuk terus tumbuh seiring dengan meningkatnya konsumsi di Indonesia.

Pilihannya tidak keliru. AMRT kemudian sukses berkembang sebagai salah satu jaringan minimarket terbesar di Indonesia. Terus berkembangnya AMRT menambah tebal pundi-pundi Patrick. Karena secara tidak langsung ia memiliki 36% saham AMRT. Kepemilikan saham tersebut dicatatkan atas nama PT Cakrawala Mulia Prima, dengan sisa 54% saham lainnya dimiliki oleh Sigmantara dan publik 10%.

Sukses menjadikan AMRT sebagai raksasa retail di Indonesia, Patrick memulai perjudian baru. Hanya dua tahun setelah investasi pertamanya di AMRT, Northstar kemudian mengakuisisi BTPN untuk masuk ke industri finansial.

Patrick juga berinvestasi di PT Surya Esa Perkasa (ESSA), perusahaan yang mengoperasikan kilang iquified petroleum gas  LPG dan pabrik amonia swasta terbesar di Indonesia. Dalam satu kesempatan, Patrick Walujo, mengungkapkan investasi paling menguntungkan Northstar adalah ketika dirinya berinvestasi di ESSA.

Dengan kepercayaan yang tinggi dari praktisi dan industri keuangan global, saat ini Northstar Group mengelola dana dari sejumlah pihak, seperti Government of Singapore Invesment Corp Pte Ltd, Duke University Endowment, Kerry Group, Texas Pacific Group, CIMB, dan Citigroup.

Dengan usia yang terbilang muda dan kiprah yang mengagumkan, tak salah jika Patrick disebut-sebut sebagai the rising star dalam dunia bisnis Indonesia.