spot_img
BerandaNewsSecurityMengantisipasi Penyanderaan Data di Era Digitalisasi

Mengantisipasi Penyanderaan Data di Era Digitalisasi

-

Jakarta, Selular.ID – Berdasarkan laporan Cybercrime, Covid-19 Impact yang disusun The International Criminal Police Organization (Interpol) 2020, terdapat empat jenis distribusi serangan siber selama pandemi Covid-19.

Ransomware menempati peringkat kedua (36%) dibawah Phising/Scam atau penipuan (56%), diikuti domain berbahaya di peringkat ketiga (22%), dan berita palsu (14%) di peringkat keempat.

Andri Hutama Putra, Presiden Direktur PT ITSEC Asia, menjelaskan bahwa di era digitalisasi sekarang ini perlu juga mengantisipasi serangan penyanderaan data karena hal tersebut dapat memberikan dampak sangat merugikan.

Menurutnya, lembaga, organisasi atau perusahaan yang sudah melakukan digitalisasi perlu mengantisipasi serangan siber yang dapat mengakibatkan penyanderaan data. Pasalnya kerugian secara materi dapat terjadi dalam berbagai skala, mulai dari tidak dapat diaksesnya data yang berakibat berhentinya proses operasional, penyanderaan data yang meminta uang tebusan oleh hacker, ataupun penyalahgunaan data atau informasi yang berhasil didapat oleh oknum cybercriminal.

Lebih lanjut Andri Hutama Putra menjelaskan bahwa database informasi dalam volume yang besar dapat menjadi sasaran utama serangan atau data breach. Insiden yang terjadi sering menjadi titik krisis bagi organisasi ataupun perusahaan, oleh karena itu keamanan database harus menjadi poin penting dalam strategi kemanan bisnis atau organisasi.

Ransomware merupakan perangkat lunak yang menyerang file data dengan mengenkripsi serta menyandera data, serangan ini seringkali juga dilanjutkan dengan meminta uang tebusan agar organisasi atau perusahaan dapat kembali mengakses data atau informasi tersebut.

Baca juga :  Kominfo Tutup Situs Pedulilindungi Palsu, Peserta Diminta Bayar Rp1 Juta untuk Pendaftaran Vaksin

“Untuk mengantisipasi penyanderaan data maka perlu dilakukan penguatan kemanan siber yang mumpuni. Aspek penguatan sistem kemananan perlu dilakukan secara berkala yang meliputi proses dan teknologi, seperti melakukan uji penetrasi jaringan (Penetration Test), deteksi ancaman dan perencanaan respon insiden, sampai pada audit sistem keamanan informasi dan analisa resiko, jelas Andri.

Baca Juga:Kebocoran Data Terus Terjadi, Sebenarnya Seberapa Kuat keamanan Siber Indonesia?  

Andri menambahkan, bahwa selain proses dan teknologi, penguatan dari aspek People juga penting dilakukan. Secara internal, organsasi atau perusahaan perlu juga menaruh perhatian dalam penguatan pemahaman dan keahlian teknis dari tenaga kemanan IT. Lembaga atau perusahaan juga dapat menggandeng perusahaan yang handal dalam keamanan IT untuk membangun sistem kemanan database mereka.

Baca juga :  F5: Demi Menjaga Privasi Data Nasional, Keamanan Siber Harus Lebih Diperkuat!

“Pemanfaatan tekonologi di era digitalisasi perlu dibarengi oleh pemahaman pentingnya melindungi data di ranah digital. Ini agar kita semua dapat memaksimalkan kemudahan era digitalisasi sekaligus mengurangi peluang terjadinya kejahatan penyanderaan data yang tentunya berdampak sangat merugikan baik itu untuk lembaga atau perusahaan yang menyimpan database ataupun masyarakat dan konsumen dari organisasi tersebut,” tutur Andri.

spot_img

Artikel Terbaru