Market Update

Krisis Pasokan Chipset Kapan Bakal Berakhir?

Jakarta, Selular.ID – Menurunnya produksi chipset di pasar global diprediksi akan terus berlanjut hingga beberapa tahun ke depan. Proyeksi tersebut disampaikan langsung oleh banyak perusahaan teknologi dunia, termasuk raksasa AS, IBM.

Presiden IBM Jim Whitehurst dilaporkan mengindikasikan kekurangan chipset saat ini yang berdampak pada produksi smartphone dapat berlangsung selama dua tahun lagi. Kondisi itu memaksa IBM menyiapkan langkah-langkah alternatif untuk memenuhi permintaan.

Kepada BBC News, Whitehurst mengatakan bahwa perlu waktu bagi industri untuk menambah kapasitas yang diperlukan untuk mengurangi kekurangan saat ini. Ia  mencatat selain smartphone, krisis telah berdampak luas ke sektor elektronik konsumen lainnya.

Whitehurst menjelaskan lonjakan permintaan elektronik konsumen yang dipicu oleh pandemi Covid-19 (virus korona) berperan, dengan kesengsaraan Huawei di AS juga berdampak penting pada pasokan.

Whitehurst menambahkan bahwa ada “kelambanan besar” antara pengembangan teknologi dan pembuatan chip. Untuk mengatasi hal ini, IBM ingin menggunakan kembali dan memperpanjang umur beberapa teknologi, bersama dengan percepatan investasi pabrik untuk meningkatkan kapasitas.

Sebelumnya produsen chipset nomor satu dunia,  TSMC juga memprediksi hal yang sama. Vendor yang memproduksi prosesor untuk Apple, Qualcomm, AMD, dan banyak perusahaan teknologi besar lainnya, memperingatkan bahwa krisis chipset akan terus berlanjut hingga 2022 mendatang.

“Kami melihat permintaan terus tinggi. Pada 2023, saya berharap kami dapat menawarkan lebih banyak kapasitas untuk mendukung pelanggan. Pada saat itu, kami akan mulai melihat ketatnya ketersediaan rantai pasokan,” kata CEO TSMC CC Wei.

Baca juga :  Absen di Lembaga Riset, Penjualan Smartphone Infinix Naik 200% di Tahun Ini

Komentar Wei senada dengan CEO Intel, Pat Gelsinger. Akibat pasokan yang tidak sebanyak tahun-tahun sebelumnya, ia memperingatkan bahwa perlu waktu beberapa tahun untuk mengatasi krisis chipset global.

Pandangan yang sama juga dilontarkan CFO Nvidia Colette Kress. Menurut Kress, produsen kartu grafis memperkirakan permintaan akan terus melebihi pasokan untuk tahun ini. Meski demikian, Kress mengatakan bahwa pihaknya berharap memiliki pasokan yang cukup untuk unit pemrosesan grafis (GPU) dan chipset untuk konsol game, mobil, dan robotika setelah kuartal pertama 2022.

Kekurangan chipset global sejauh ini telah berdampak pada semua industri. Pandemi Covid-19 memang menjadi salah satu pemicu berkurangnya produksi. Meski demikian, Sanksi Pemerintah Amerika Serikat (AS) terhadap perusahaan teknologi China semakin memperburuk krisis.

Alhiasl, kekurangan pasaokan yang awalnya hanya terjadi di industri otomotif, kini menyebar ke berbagai elektronik konsumen lain, seperti smartphone, komputer, home appliances, hingga konsol game.

Produsen yang membutuhkan chipset dalam memproduksi barangnya pun melakukan aksi beli panik (panic buying), demi mengamankan pasokan. Pasokan semikonduktor semakin tipis. Kekurangan pasokan mengakibatkan biaya produksi seluruh komponen meningkat. Bahkan, komponen berbiaya termurah sekalipun. Akibatnya, harga produk akhir semikonduktor terkerek naik.

Baca juga :  Kehadiran Sub Brand Tidak Jadi Kanibal Perusahaan Induk

Kurangnya pasokan ujungnya memaksa vendor smartphone untuk menaikkan harga. Salah satu produsen yang berencana menaikkan harga adalah Xiaomi.

Reuters melaporkan bahwa imbas dari kurangnya pasokan chip global, otomatis biaya pembuatan smartphone naik. Xiaomi bisa menanggung sebagian dari biaya tersebut untuk kompensasi mencegah harga konsumen naik. Namun, tentu nominal itu juga ada batasannya, terutama karena Xiaomi terus menggaungkan margin keuntungan hardware perusahaan sudah sangat tipis.

Dengan kondisi itu, presiden Xiaomi Wang Xiang mengisyaratkan kenaikan harga ponsel Xiaomi, walaupun tidak secara eksplisit.

“Kami akan terus mengoptimalkan biaya hardware kami, itu pasti,” katanya.

“Sejujurnya, kami akan melakukan yang terbaik untuk menawarkan harga terbaik yang kami bisa kepada konsumen. Namun terkadang, kami mungkin harus memberikan sebagian dari kenaikan biaya kepada konsumen untuk kasus berbeda”, pungkas Wang.

Selain Xiaomi, Samsung juga merasakan dampak dari krisis pasokan chips. Produksi ponsel raksasa Korea Selatan itu, terancam berkurang akibat kelangkaan chipset buatan Qualcomm .

Sumber Reuters melaporkan bahwa kelangkaan ini diperkirakan akan menghantam smartphone Samsung kelas menengah dan low-end. Samsung juga disebutkan kesulitan mendapat pasokan Snapdragon 888. Tapi, tak disebutkan apakah berkurangnya pasokan prosesor itu akan berpengaruh pada produksi ponsel kelas premium Samsung.

About the author

Uday Rayana

Editor in Chief