Beranda Insight Survei F5: Pandemi Dorong Transformasi Digital

Survei F5: Pandemi Dorong Transformasi Digital

-

Jakarta, Selular.ID – F5 mengumumkan laporan 2021 State of Application Strategy. Dalam iterasi ketujuh ini, F5 mengidentifikasi beberapa tren yang terkonvergensi, dimana banyak diantaranya telah terpengaruh ketika sebuah organisasi meningkatkan digital experience mereka sebagai respons terhadap realita konsumen yang berkembang di era COVID-19.

Perusahaan telah mempercepat transformasi digital mereka dalam satu tahun terakhir, dan diprediksi akan terus berlanjut setelah pandemi. Dengan keterbatasan dalam melakukan interaksi secara langsung, aplikasi – dan digital experience lain yang mereka fasilitasi – menjadi identik dengan kehadiran dan kemampuan sebuah organisasi untuk bertahan dan berkembang.

“Laporan tahun ini menyoroti banyaknya perbedaan prioritas yang dihadapi tim IT saat ini. Yang paling umum adalah fleksibilitas serta kenyamanan versus keamanan, juga ketika perusahaan mengorganisir sejumlah besar data dan disaat bersamaan membutuhkan cara untuk melakukan ekstrak data yang bermanfaat,” ucap Kara Sprague, EVP dan GM, BIG-IP, F5.

“Demikian pula, kami menemukan bahwa perusahaan semakin mengandalkan otomatisasi untuk mengurangi biaya operasi, sambil terus menyesuaikan aplikasi dengan digital experience yang berfokus kepada pelanggan. Banyak diantaranya adalah fungsi dari kecepatan sebuah industri menanggapi COVID — yang memaksa banyak sekali pertimbangan operasional, kekhawatiran, dan peluang untuk ditangani secara bersamaan dalam waktu yang singkat,” imbuhnya.

Meningkatkan konektivitas, mengurangi latensi, memastikan keamanan, dan memanfaatkan data insight kini menjadi hal yang sangat penting, karena tim IT merasa hampir tidak mungkin untuk mengimbangi laju perubahan dan digitalisasi. Disamping itu, meskipun microservices, APIs, dan containers dapat mempercepat penerapan aplikasi individu dari perspektif DevOps, jangkauan dan luasnya aplikasi modern juga menjadi lebih kompleks— dimana banyak organisasi yang tidak memiliki keterampilan untuk benar-benar menyederhanakan penerapannya. Hal ini terutama saat mengelola portofolio aplikasi yang lebih luas dan mencakup beberapa generasi dari application architectures. Sejalan dengan itu, penelitian ini berpusat pada empat trend, yaitu peningkatan minat terhadap cloud dan penawaran as-a-service, edge computing, dan keamanan aplikasi serta teknologi pengiriman yang membutuhkan lebih sedikit keahlian untuk menyebarkan dan mengelola sambil menyediakan out-of-the-box insight.

“Di era digital saat ini, setiap organisasi berada dalam bisnis yang membutuhkan digital experience. Konsumen semakin mengandalkan konektivitas digital di semua aspek kehidupan mereka, dan hal ini telah mendorong aplikasi menjadi lebih penting dalam strategi perusahaan dan dalam perekonomian,” ucap Surung Sinamo, Country Manager F5 Indonesia.

“Laporan tahun ini adalah cerminan yang jelas dari tren yang berkembang saat ini. Karena bisnis terus berinvestasi untuk semakin meningkatkan kualitas dari portofolio aplikasi yang dimiliki, penting untuk memastikan bahwa sebuah aplikasi harus dapat beradaptasi, terukur, dan memiliki kemampuan untuk memulihkan diri sendiri dalam berbagai keadaan. Dengan semakin meningkatnya peluang pasca-COVID, pelaku bisnis perlu merancang strategi mengedepankan teknologi seperti edge computing dan data analytics untuk mengoptimalkan aplikasi yang dimiliki sehingga dapat memenuhi keinginan konsumen untuk bisa mendapatkan pengalaman digital kelas dunia.”

Modernisasi Apps and Architectures secara berkelanjutan untuk menciptakan digital experience yang lebih baik

Berdasarkan survei, 87% organisasi menjalankan metode arsitektur modern dan tradisional secara bersamaan, dimana modernisasi dianggap perlu ketika sistem lama kesulitan untuk beradaptasi dengan kondisi bisnis yang berubah dengan cepat. Lebih dari 3/4 responden (77%) melaporkan bahwa mereka saat ini memodernisasi aplikasi internal atau yang berhubungan dengan pelanggan, dengan API sebagai solusi utama dikarenakan kemampuannya untuk menggabungkan fungsi komponen aplikasi tradisional dan modern. Sebagai tambahan, secara persentase jumlah organisasi yang mengelola multiple app architectures terus meningkat, dimana berdasarkan survei didapatkan bahwa penawaran as-a-service dan managed service terus dipandang sebagai pengganti untuk beberapa aplikasi tertentu di mana vendor dapat menyediakan rencana alternatif yang cloud-friendly.

The Rise of the Edge as Containerization Expands

Edge computing umumnya mengacu pada operasi yang dilakukan di luar centralized data center. Dengan karyawan dan konsumen yang login dari lokasi yang tersebar, edge computing telah diidentifikasi sebagai cara yang signifikan untuk mengurangi latensi dan meningkatkan daya respon real-time yang diperlukan oleh aplikasi saat ini. Oleh karena itu, edge harus berkembang untuk lebih mendukung modular application components seperti container yang berada di beberapa lokasi cloud. Selain meningkatkan kecepatan dan efisiensi, penempatan containerized applications di dalam edge juga dapat meningkatkan scalability dan customer experience. Sebagai bukti, hasil survei mencatat bahwa 76% organisasi telah menerapkan atau secara aktif merencanakan penerapan edge, dengan peningkatan kinerja aplikasi serta pengumpulan data / enabling analytics sebagai primary drivers.

Mempercepat Pertumbuhan SaaS dan Cloud Deployments, untuk Menyeimbangkan Fleksibilitas dan Keamanan

Dengan persentase aplikasi yang diterapkan di cloud meningkat, lebih dari 2/3 responden (68%) juga hosting setidaknya beberapa application security dan delivery technologies di cloud. Pada saat yang sama, organisasi memposisikan diri mereka untuk mengatasi architectural complexity yang disebabkan oleh penambahan SaaS dan edge solutions, pemeliharaan lingkungan on-premise dan multi-cloud, serta modernizing applications. Keberhasilan integrasi dari elemen-elemen ini ke dalam strategi aplikasi yang kohesif akan memerlukan peningkatan cara menerapkan alat, rangkaian keterampilan, proses IT, dan metode analitik dalam arsitektur yang dinamis (dynamic architectures). Keamanan akan terus menjadi hal yang utama, dimana dituntut untuk dapat selangkah lebih maju dari para penyerang, umumnya memerlukan kemampuan lebih dari apa yang dimiliki sebuah organisasi. Oleh karena itu mengenai tantangan ini, SaaS for security diidentifikasikan sebagai top strategic trend dari para responden.

Pentingnya Telemetri dalam Memenuhi Perkembangan Ekspektasi Pelanggan dan Bisnis

Pemanfaatan telemetri untuk mengubah volume data yang besar menjadi business insights sangat penting dalam aplikasi adaptif (adaptive applications). Meski begitu, 95% responden masih percaya bahwa mereka kekurangan insights tentang kinerja, keamanan, dan ketersediaan, yang menunjukkan keinginan terhadap solusi yang jelas dan end-to-end, dibandingkan metode pemantauan dan analisis mereka saat ini. Setiap individu dalam suatu organisasi memiliki kesepakatan yang sama tentang topik tersebut, mengutip tiga top insights yang masih dianggap terlewatkan, antara lain: akar dari sebuah masalah pada aplikasi; penyebab penurunan kinerja; dan detail dari potensi serangan. Secara paralel, hampir 3/4 responden berniat memanfaatkan AI untuk mengoptimalkan data telemetri dengan lebih baik, dan lebih dari setengahnya mengharapkan AI dapat membantu organisasi mereka untuk bertransisi ke aplikasi yang dapat secara otomatis beradaptasi untuk lebih baik dalam mempertahankan diri dan responsif dengan kondisi yang terus berubah.

Laporan ini mewakili lebih dari 1.500 responden di seluruh dunia, dengan sebagian besar responden berasal dari Asia Pasifik, dari berbagai industri, organisasi, dan profesional. Pada dasarnya, survei ini berfokus pada pembuat keputusan IT untuk menyoroti prioritas, kekhawatiran, dan ekspektasi bagi mereka yang paling bertanggung jawab untuk menghadapi tantangan terberat dalam ekonomi digital saat ini.

Artikel Terbaru