Beranda News Feature Membandingkan Penetrasi 5G di Asia Timur, Eropa dan AS: Siapa Terdepan?

Membandingkan Penetrasi 5G di Asia Timur, Eropa dan AS: Siapa Terdepan?

-

Jakarta, Selular.ID – Saat ini Asia Timur terus mendominasi pasar konsumen 5G global. Pasar pertama yang diluncurkan, Korea Selatan, memiliki adopsi tertinggi. Tercatat hampir 20 persen koneksi di negara tersebut sekarang menggunakan 5G.

China yang meluncurkan 5G pada akhir 2019, pada gilirannya, memimpin dalam volume dengan lebih dari 200 juta koneksi. Meskipun operator Jepang tidak meluncurkan 5G hingga Maret 2020, namun negeri matahari terbit itu, telah membukukan tingkat pertumbuhan yang mengesankan di setiap kuartal. Sehingga adopsi 5G, akan membuat kinerja operator Jepang terkerek naik.

Secara keseluruhan, ketiga pasar front runner itu, telah  membentuk lebih dari 90 persen koneksi 5G global dan terus berkembang, dengan skala pertumbuhan yang mengesankan.

Apakah ada tempat lain yang siap untuk mencoba mengejar mereka? Mengapa wilayah itu memiliki awal yang mengesankan?

Menurut kajian Matthew Iji – Direktur, Jaringan & Layanan Selular GSMA Intelligence, semua pasar di kawasan Asia Timur memiliki basis pelanggan yang cukup besar dan mereka berpotensi menjadi pelanggan 5G. China khususnya dengan populasi yang sangat besar menjadi lokomotif pertumbuhan 5G global.

Tercatat, dua operator China saling bersaing dalam memperebutkan pelanggan 5G. China Mobile, operator terbesar di dunia dalam hal pelanggan, menambahkan 18,6 juta pelanggan 5G pada November 2020. Total terdapat 147,38 juta pelanggan 5G, dibandingkan dengan 6,7 juta pelanggan 5G pada Januari 2020.

Sementara itu, China Telecom sukes menambahkan 7,62 juta pelanggan pada November 2020, sehingga total basis pelanggan 5G menjadi 79,48 juta. Operator tersebut telah menarik 67,2 juta pelanggan di segmen 5G sejak Januari 2020.

Cepatnya penetrasi 5G di Asia Timur, tak lepas dari kebijakan pengelolaan spektrum. Operator di Asia Timur telah memanfaatkan semua teknologi seluler terbaru. Salah satunya menonaktifkan jaringan 2G dan 3G untuk memastikan sumber daya, sehingga dapat terkonsentrasi pada jaringan 4G dan 5G.

Kondisi berbeda justru terjadi di Eropa. Meskipun telah terjadi aktivitas serupa di Amerika Utara, mayoritas MNO (mobile network operator) di Eropa, masih terus beroperasi dengan jaringan 2G dan 3G bersama dengan 4G dan 5G.

Faktor kunci lainnya adalah jumlah populasi yang siap untuk menggunakan teknologi selular terbaru. Riset GSMA Intelligence menunjukkan lebih dari separuh konsumen di China dan Korea Selatan mengatakan bahwa mereka berencana untuk meningkatkan ke 5G bahkan di masa-masa awal 5G pada 2019.

Meski pandemi covid-19 masih belum sepenuhnya dapat teratasi, namun pada 2020, angka tersebut telah meningkat di kedua pasar, dengan dua pertiga konsumen di China berencana untuk meningkatkan ke layanan 5G jika mereka belum melakukannya.

Sebaliknya, hanya 38 persen konsumen AS yang bermaksud untuk meningkatkan, sementara minat di Eropa bahkan lebih rendah. Agar adil, masing-masing pasar Eropa yang disurvei memang menunjukkan peningkatan peningkatan ke 5G antara 2019 dan 2020. Namun, hasil terbaru menunjukkan bahwa sekitar tiga perempat konsumen di pasar, termasuk Prancis dan Jerman yang tergolong sebagai pasar utama, tidak tertarik untuk meningkatkan versi layanan mereka.

5G di AS

AS adalah pasar 5G terbesar di luar Asia Timur. Pada 2019, operator utama di negara Paman Sam itu dengan cepat meluncurkan 5G. Meski demikian, operator memulai dalam skala kecil yang mencakup daerah perkotaan yang padat di beberapa kota yang dipilih dengan cermat. Sekarang, dengan potensi pelanggan yang terus meningkat, MNO AS mengambil langkah selanjutnya.

Paket Premium Unlimited Verizon menarik pelanggan baru ke jaringan 5G dengan fitur-fitur premium, termasuk Disney Plus, Apple Music, dan penyimpanan cloud di samping konektivitas tak terbatas. Pada saat yang sama, operator berencana untuk menggandakan jumlah situs mmWave 5G yang memperluas cakupannya dan memadatkan area cakupan yang ada.

AT&T juga optimis tentang masa depan 5G, dan meskipun belum mengumumkan jumlah pengguna, operator mengharapkan pertumbuhan yang sebanding dengan 4G pada tahap kematangan yang sama.

Penggabungan T-Mobile AS dan Sprint memberi operator cakupan terluas di negara ini bersama dengan basis pelanggan terbesar kedua, sehingga MNO memiliki potensi yang lebih baik untuk menumbuhkan koneksi 5G.

Peningkatan jaringan termasuk peningkatan 4G dan peningkatan ke 5G sudah membuat perbedaan besar. Berdasarkan data dari Ookla, kecepatan rata-rata telah meningkat sekitar 50 persen di tiga operator besar antara Juli 2020 dan Januari 2021. Dengan lelang spektrum yang memecahkan rekor, membawa spektrum pita menengah yang sangat dibutuhkan ke pasar. Alhasil, 5G ditetapkan menjadi teknologi utama di AS pada 2021.

Prospek 5G Eropa

Sementara MNO Eropa diluncurkan lebih lambat dari pengadopsi awal di Korea Selatan dan AS, 5G telah tersedia di pasar termasuk Italia, Spanyol, Swiss dan Inggris sejak paruh pertama 2019. Namun, sebagian besar, peluncuran ini tidak diikuti dengan ekspansi yang signifikan. Sejumlah pasar utama termasuk Prancis tidak meluncurkan 5G sama sekali hingga akhir 2020.

Pandemi Covid-19 jelas berdampak terhadap upaya penyebaran 5G di benua biru. Terpukul oleh wabah corona, penguncian diberlakukan di seluruh kawasan, sehingga mengurangi kecenderungan pelanggan untuk berbelanja.

Dengan ARPU yang sudah jauh lebih rendah ketimbang pasar AS dan Jepang, dan tanpa skala ekonomi yang tersedia di China, peluncuran jaringan 5G yang mahal akan selalu terpengaruh.

Namun, hal itu bisa saja berubah. Menyusul banyaknya peluncuran 5G pada 2020, hampir setengah dari jaringan 5G di dunia berbasis di Eropa. Selain itu, pada Kuartal keempat 2020, empat pasar Eropa telah memberikan spektrum khusus, termasuk tiga penugasan dalam kisaran pita rendah di mana Eropa tertinggal. Dan meski 2020 jelas merupakan tahun yang harus dilupakan, ada tanda-tanda bahwa paruh kedua tahun ini akan kembali ke semacam normalitas.

Sejak peluncuran 5G, banyak pihak telah menunggu kasus penggunaan (use case) definitif yang akan mendorong adopsi. Meskipun saat ini belum terlihat jelas, namun pasar terus mencari bentuk, didorong oleh ketersediaan handset. Saat ini smartphone flagship yang dikeluarkan oleh vendor-vendor utama, seperti Apple, Samsung, Huawei atau bahkan vendor yang lebih kecil, kemungkinan besar akan hadir dengan 5G sebagai fitur standar.

Tak dapat dipungkiri, cakupan yang semakin meningkat dari pusat kota, dibarengi dengan tarif yang semakin terjangkau, maka konektivitas 5G akan menjadi standar bagi generasi mendatang.

Dengan adopsi yang terbilang cepat, saat ini Asia Timur terus memimpin penyebaran 5G. Bahkan pada 2025 koneksi dari China, Jepang dan Korea Selatan akan membentuk lebih dari setengah koneksi 5G global. Meski demikian, pada akhir tahun ini, AS dan Eropa akan menjadi episentrum baru. Kita akan melihat pasar utama di dua kawasan itu, terus bergerak demi mengejar ketertinggalan mereka.

Artikel Terbaru