Tuesday, October 27, 2020
Home News Market Update Mantan Direktur Marketing Telkomsel, Didaulat Menjadi CEO Baru Singtel

Mantan Direktur Marketing Telkomsel, Didaulat Menjadi CEO Baru Singtel

-

Jakarta, Selular.ID – Raksasa telekomunikasi Asia Tenggara, Singtel menunjuk Yuen Kuan Moon, Kepala Unit Konsumen dan Kepala Bagian Digital Grup, sebagai pengganti CEO Chua Sock Koong yang telah lama menjabat. Chua menyatakan akan pensiun pada 1 Januari 2021.

Dalam pernyataan resmi, Singtel mengatakan bahwa Chua akan tetap sebagai penasihat senior untuk chairman guna membantu proses transisi. Dia telah menjadi CEO selama 13 tahun terakhir dengan rentang karirnya selama 31 tahun dengan Singtel.

Sebagai CEO perempuan, Chua terlibat dalam penambahan operator Australia Optus ke dalam portofolio Singtel. Ia juga membangun jejak yang luas di seluruh Asia dengan kepemilikan saham di perusahaan telekomunikasi di berbagai negara, seperti India, Indonesia, Filipina dan Thailand.

Chua mengungkapkan kebanggaannya atas bagaimana Singtel mengatasi “badai dan tantangan bisnis” termasuk penghancuran gelembung web, krisis keuangan global, dan persaingan yang ketat di India.

“Saya selalu mengatakan bahwa kekuatan Singtel terletak pada ketahanan orang-orang kami,” katanya, sambil menyatakan keyakinan bahwa hal ini juga akan membawa perusahaan melalui “krisis” Covid-19 (virus korona).

Di sisi lain, sebagai CEO baru, Yuen Kuan Moon bergabung dengan grup pada 1993 dan ditunjuk sebagai Kepala Unit Konsumen sejak 2012. Dia memimpin bisnis konsumen Singapura untuk menghadirkan rangkaian layanan selular, broadband, dan TV yang terintegrasi.

Secara bersamaan, Moon bertanggung jawab untuk mendorong transformasi digital Grup sebagai Group Chief Digital Officer, peran yang diciptakan untuk membuka peluang pertumbuhan digital di era disrupsi.

Sejak bergabung dengan Singtel pada Februari 1993, Moon telah memegang beberapa peran kepemimpinan dalam Pemasaran, Pengembangan Bisnis, dan Penjualan, termasuk VP Operasi Regional dan EVP Konsumen Digital.

Pada 2003, Moon ditempatkan di Telkomsel sebagai General Manager for Product Development dan diangkat menjadi Director of Commerce dari tahun 2005 hingga 2007.

Menjabat sebagai Dewan Komisaris di Telkomsel sejak 2009. Moon diangkat menjadi Board of SkillsFuture Singapore pada Oktober 2016, dan Dewan Penasihat Institute of Service Excellence di SMU pada Januari 2018. Ia diangkat sebagai anggota Komite Pengarah Dewan Kesiapan Digital pada November 2018.

Moon memegang gelar Honours Kelas Utama di bidang Teknik dari University of Western Australia dan Master of Science dalam Manajemen dari Stanford University.

Menjadi orang nomor satu di Singtel jelas menjadi kebanggaan sekaligus tantangan bagi Moon. Pasalnya era disrupsi membuat operator perlu mengubah arah bisnis sesuai kebutuhan pelanggan yang didrive oleh layanan internet.

Saat ini Singtel masih menjadi penguasa pasar telekomunikasi di negeri Singa. GSMA Intelligence memperkirakan untuk Q3-2019 Singtel sebagai operator terbesar di Singapura, dengan pangsa pasar 49,5 persen. Meski demikian, kinerja Singtel terlihat turun secara drastis dalam beberapa tahun terakhir.

Puncaknya terjadi pada 2019. Laba bersih tahunan raksasa telekomunikasi Singapura itu, anjlok sekitar 65% yang merupakan level terendah dalam lebih dari dua dekade. Perusahaan tidak memberikan perkiraan untuk tahun berjalan, mengingat ketidakpastian akibat pandemi COVID-19.

Perolehan laba sebesar itu adalah yang terlemah sejak setidaknya pada 1998. Tercatat, laba bersih yang mendasari, yang tidak termasuk barang luar biasa, turun 13% menjadi S$ 2,46 miliar.

Tergerusnya laba Singtel tak lepas dari melonjaknya berbagai biaya yang harus dikeluarkan, terutama dana sebesar S$1,80 miliar yang harus dibayarkan kepada otoritas telekomunikasi India, terkait dengan pelunasan pembayaran biaya spektrum dan lisensi untuk anak perusahaan, Bharti Airtel.

Menurunnya kinerja Singtel sesungguhnya mulai terlihat pada kuartal ketiga 2019. Perusahaan melaporkan kerugian triwulanan untuk pertama kalinya pada November, setelah Airtel dikenakan biaya sebesar $5,49 miliar pasca putusan pengadilan India yang memerintahkan operator untuk membayar ke negara bagian terkait kewajiban iuran di masa lalu.

Melemahnya kinerja keuangan Singtel nyatanya masih terus berlanjut pada tahun ini. Dalam pembaruan kinerja bisnis pada 17 Agustus 2020, perusahaan mengungkapkan bahwa laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) sepanjang Q1-2020, turun sebesar 24,2 persen menjadi SGD 897 juta (USD 654 juta) dari SGD 1,18 miliar (USD 860 juta) tahun lalu.

Untuk menghentikan “pendarahan”, Singtel terpaksa melakukan efisiensi. Salah satunya adalah dengan menutup Hooq. Sejak 30 April 2020, pelanggan hooq di Indonesia tak lagi bisa menikmati layanan video berbayar itu. Tidak hanya di Indonesia, Hooq juga berhenti beroperasi di negara-negara lain seperti Filipina, Thailand, India, hingga Singapura.

Sebagai penyedia layanan video on demand, Hooq hadir di Indonesia sejak lima tahun lalu atau tepatnya Januari 2015. Hooq datang sebagai penantang Netflix dengan dukungan dari Singtel dan Sony Pictures yang membentuk perusahaan patungan itu.

Dengan pasar yang telah terdisrupsi karena kemajuan teknologi internet, mampukah Yuen Kuan Moon mengembalikan kejayaan Singtel? Waktu yang akan membuktikan.

Latest