Saturday, May 30, 2020
Home News Feature Kontroversi Ruang Guru: Bagaimana Singapura Menguasai Bisnis Rintisan di Indonesia

Kontroversi Ruang Guru: Bagaimana Singapura Menguasai Bisnis Rintisan di Indonesia

-

Jakarta, Selular.ID – Di tengah pandemi corona yang semakin mengkhawatirkan, belakangan nama Ruang Guru terseret ke dalam pusaran isu. Pokok pangkal adalah posisi Adamas Belva Syah Devara. Sebagai Direktur Utama Ruang Guru, Belva juga menjadi salah satu staf khusus (stafsus) milenial Presiden Joko Widodo.

Kita ketahui, Ruang Guru merupakan perusahaan rintisan teknologi di bidang pendidikan. Perusahaan itu mendapat “durian runtuh”, karena termasuk satu dari delapan mitra platform digital program Kartu Prakerja.

Seperti diketahui, program Kartu Prakerja adalah program subsidi dari pemerintah bagi kalangan pencari kerja maupun korban PHK. Setiap pemilik Kartu Prakerja akan mendapatkan total manfaat dana senilai Rp 3,55 juta.

Program ini menyasar sekitar 5,6 juta penerima. Alhasil, total dana yang akan diguyur melalui subsidi Kartu Prakerja mencapai Rp 19,88 triliun. Angka yang terbilang fantastis.

Jika ditelisik, dari jumlah yang diterima oleh setiap pemilik Kartu Prakerja, sebanyak Rp 1 juta atau totalnya senilai Rp 5,6 triliun mengucur dalam bentuk subsidi pelatihan melalui “kelas online”. Materi pelatihan itu tersedia di delapan mitra platform digital yang digandeng pemerintah, yakni Tokopedia, Bukalapak, Skill Academy by Ruangguru, Kemnaker, Pintaria, Pijar, Sekolah.mu dan MauBelajarApa.

Proses pelatihan melalui delapan mitra platform digital itulah yang belakangan dipersoalkan. Skema pelatihan ala Kartu Prakerja itu dinilai sebagai “subsidi terselubung” bagi delapan start up tersebut.

Apalagi keterlibatan Ruangguru di program Kartu Prakerja yang merupakan proyek pemerintah, serta posisi Belva yang juga merupakan “pejabat publik” di perusahaan itu, dinilai berbau konflik kepentingan.

Tak urung berbagai kalangan akhirnya bersuara keras mengenai “dualisme” Belva itu. Sebagian besar memintanya mengundurkan diri, karena dinilai tidak etis.

Tak kuat menghadapi tekanan publik, Belva akhirnya menyatakan pengunduran diri sebagai stafsus. Surat tersebut disampaikan langsung kepada Presiden Jokowi pada Jumat (17/4/2020).

“Saya mengambil keputusan yang berat ini karena saya tidak ingin membuat polemik mengenai asumsi atau persepsi publik yang bervariasi tentang posisi saya sebagai staf khusus Presiden menjadi berkepanjangan,” ujarnya dalam akun Instagramnya, Selasa (21/4). Belva menambahkan, tidak ingin memecah konsentrasi pemerintah dalam mengahadapi pandemi Covid-19.

Meski sudah mengundurkan diri, polemik menyangkut Ruang Guru nyatanya belum usai. Sebagian pihak meminta program Kartu Prakerja juga sebaiknya ditiadakan.
Salah satunya dilontarkan oleh Pendiri Perhimpunan Pendidikan Demokrasi Rachland Nasidik. Ia meminta Belva mencabut Ruang Guru dari kemitraan Kartu Prakerja dengan pemerintah. Jika tidak, mantan ketua DPP Partai Demokrat itu menilai  pengunduran diri Belva dari jabatan stafsus Presiden Joko Widodo tak lebih dari cara untuk melindungi kepentingan bisnisnya sendiri di Ruangguru.

“CEO Belva Devara sebaiknya membawa mundur Ruangguru dari kemitraan dengan pemerintah. Mundur dari stafsus itu bukti akal budi. Ruangguru masih dipertahankan itu bukti akal-akalan,” ujar Rachland dalam keterangan tertulisnya.

Senada dengan Rachland, anggota DPR Fadli Zon mengatakan sebaiknya Belva mundur dari proyek Kartu Prakerja. “Sekalian harus mundur dari proyeknya,” ujar politisi Gerindra itu, seperti dikutip dari akun Twitternya, Rabu (22/4/2020).

PMA Singapura

Meski Presiden Jokowi telah menerima pengunduran diri Belva, kontroversi yang melibatkan Ruang Guru sepertinya memang belum usai dalam waktu dekat. Belakangan kepemilikan Ruang Guru juga dipersoalkan.

Apalagi terungkap fakta bahwa hampir 100 persen saham Ruang Guru dimiliki oleh perusahaan asing, sehingga platform pendidikan digital itu, dinilai tak berhak mengelola pelatihan Kartu Prakerja program yang digagas pemerintah.

Mengacu data profil perusahaan dari Administrasi Hukum Umum (AHU) dari Kementerian Hukum dan HAM, badan hukum Ruangguru bernama PT Ruang Raya Indonesia (RRI). Merujuk pada pengesahan anggaran dasar perusahaan, RRI tercatat sebagai perusahaan penanaman modal asing (PMA) sejak 17 Maret 2020.

Dilansir dari laman Kontan (22/4/2020), saat ini Ruangguru hanya dimiliki oleh dua pemegang saham. Mayoritas saham RRI dimiliki oleh Ruangguru Pte Ltd, asal Singapura.

Perusahaan ini tercatat menguasai 6.494.309 unit saham atau setara 99,99%. Ruangguru Pte Ltd sendiri beralamat di 6 Battery Road #38-04, Singapura, 049909. Perusahaan itu diketahui menyetor modal Rp649.430.900.000.

Selain Ruangguru Pte Ltd, pemegang saham RRI lain adalah Muhammad Iman Usman. Meski menduduki posisi sebagai co-founder, pria asal Padang itu hanya memiliki 100 unit saham. Ekuivalen sekitar 0,01% atau Rp 10 juta dari nilai uang yang disetor.

Lantas di mana posisi Belva Syah Devara? Data AHU Kemkumham itu mengungkap bahwa anak muda berusia 29 tahun itu, diserahi sebagai posisi Direktur Utama. Sementara Iman Usman duduk di posisi Direktur. Dengan kata lain, meski memiliki posisi mentereng, Belva hanya merupakan professional belaka. Bagaimana pun posisi itu yang mengantarkan Belva menjadi salah satu stafsus milenial Jokowi.

Adapun posisi komisaris Ruang Guru ditempati oleh tiga orang. Salah satunya adalah Willson Cuaca yang menjabat komisaris utama. Nama Willson terbilang tidak asing di dunia start up. Dia merupakan pendiri dan managing partner perusahaan modal ventura top yang berbasis di Singapura, East Ventures. Bersama  Batara Eto dan Taiga Matsuyama, Willson mendirikan East Ventures pada 2009.

Sepak terjang East Ventures dalam bisnis start up dapat ditelusuri dari kinerja unit bisnisnya, EV Growth yang berhasil menjaring dana investasi sekitar US$ 250 juta. Dana tersebut antara lain disuntikkan ke Ruang Guru, Sociolla, Shopback, Koinworks dan sejumlah start up lain.

Selain di perusahaan tersebut, East Ventures juga berinvestasi di Tokopedia, Traveloka, Tech in Asia dan IDN Media. Ke depan, “Kami berencana menyalurkan US$ 325 juta untuk startup Asia Tenggara, untuk perusahaan tahap awal (seed stage) maupun tahap lanjutan (growth stage),” tulis Willson, Desember 2019.

Di luar nama Willson, ada nama Ashish Saboo yang tercatat menjabat komisaris RRI. Pria berkewarganegaraan India ini boleh dibilang sudah tak asing dengan Indonesia. Sebelum bergabung dengan GA, Saboo menjabat Direktur Pengembangan Bisnis CT Corpora, grup usaha milik pengusaha papan atas Chairul Tandjung, selama 12 tahun.

Dia juga sempat menjabat Executive Director Pricewaterhouse Coopers (PwC) Indonesia. Saboo kini menjabat sebagai Managing Director General Atlantic (GA) untuk Indonesia.

Sekedar diketahui, GA adalah sebuah firma pemodal swasta (private equity) yang berbasis di New York, AS. Tahun lalu, bersama East Ventures dan GGV Capital asal Amerika, GA membenamkan US$150 juta ke Ruang Guru.

Nama terakhir yang duduk di Komisaris RRI adalah Seah Kian Wee. Pria asal Singapura ini merupakan Chief Executive Officer (CEO) dan Managing Director Uob Venture Management Pte Ltd (UOBVM).

Pada 2017, UOBVM, anak usaha United Overseas Bank Limited Singapura, berinvestasi ke Ruang Guru melalui pendanaan Seri B, tanpa mengungkapkan nilainya. Namun berdasarkan berita Dealstreet Asia yang dikutip oleh Tech In Asia, UOBVM membenamkan dana investasi sekitar US$ 7 juta hingga US$ 8 juta ke Ruang Guru.

Cengkraman Singapura

Tak dapat ditepis bahwa Ruang Guru merupakan perusahaan PMA yang berbasis di Singapura. Fakta-fakta tersebut memperkuat pandangan yang beredar selama ini, bahwa sejalan dengan bertumbuhnya bisnis digital yang memberikan peluang sangat besar, Singapura terus memperkuat cengkraman dalam bisnis perusahaan rintisan di Indonesia.

Sebelumnya pada akhir Juli 2018, publik dibikin geger, saat Google dan Temasek merilis hasil riset yang mengatakan terdapat empat perusahaan unicorn berasal dari Singapura. Keempat unicorn yang diklaim milik Singapura itu, adalah Tokopedia, Bukalapak, GoJek dan Traveloka.

Klaim itu tentu saja bikin pemerintah kebakaran jenggot, karena menyebutkan tidak ada sama sekali dari keempatnya yang dimiliki Indonesia. Padahal selama ini, perusahaan-perusahaan itu sudah menjadi kebanggaan Indonesia. Dalam banyak kesempatan, Presiden Jokowi bahkan selalu menyebutkan keempat unicorn itu, sebagai tanda kebangkitan Indonesia di era ekonomi digital.

Meski menimbulkan perdebatan, tentu saja Singapura tidak sekedar mengklaim. Pasalnya keempat start up tersebut memiliki penyuplai modal dari luar negeri, termasuk Singapura.

Gojek sendiri memiliki investor dari perusahaan Singapura, Openspace Ventures. Selain memodali Gojek, perusahaan pembiayaan tersebut juga menjadi investor bagi perusahaan rintisaln lain asal Indonesia seperti Halodoc, TaniHub dan FinAccel.

Traveloka juga memiliki investor yang berasal dari Singapura. Berdasarkan situs Tech Crunch, salah satu pemodal perusahaan booking tiket ini berasal dari East Bank Ventures yang berasal dari ‘Negeri Singa’.

Kemudian,  Tokopedia yang memiliki valuasi mencapai 7 miliar dolar Amerika pada November 2018, diketahui memiliki beberapa investor, salah satunya adalah East Venture.

Di luar keempat unicorn tersebut, jejak Singapura dalam memodali perusahaan start up yang kemudian merambah bisnisnya ke Indonesia terbilang cukup banyak. Kebanyakan bermain di area e-commerce, seperti Shopee, WeShop, Lazada, Zilingo, Carousell, dan RateS.

Selain itu ada Grab (ride hailing), GrabJobs (start up karir), SEA (Digital Entertainment – salah satu brand yang dikenal publik adalah Garena), Bigo (live broadcasting), dan Antler (akselerator perusahaan rintisan).

Di bisnis fintech (financial technology) yang semakin menjamur, Singapura juga memiliki sejumlah jagoan yang sudah merambah pasar Indonesia. Sebut saja Koku, Kredit Pintar, Aku Laku, Pundi X, dan Kredivo.

Agresifnya perusahaan-perusahaan fintech asal Singapura memperluas pasar di Asia Tenggara, terutama Indonesia, tak lepas dari keberhasilan negara itu meraih pendanaan fintech dari banyak private equity global.

Saat ini Singapura menjadi penguasa pendanaan global bagi kalangan perusahaan teknologi finansial (Fintech) di ASEAN. Tercatat pemain-pemain Fintech asal Singapura meraih lebih dari setengah (51%) pendanaan untuk ASEAN.

Menurut kajian Accenture di CB Insight data, investasi fintech di Singapura naik lebih dari dua kali lipat menjadi US$ 365 juta pada 2018 dibandingkan US$ 180 juta pada 2017. Prestasi ini menempatkan Singapura di antara lima pasar fintech teratas di Asia Pasifik, setelah Cina, India, Australia, dan Jepang.

Dengan iklim bisnis yang kondusif, saat ini jumlah perusahaan fintech di Singapura mencapai lebih dari 400 perusahaan. Dan tentu saja, jumlahnya diperkirakan akan terus bertambah setiap tahunnya, mengingat pasar ASEAN terutama Indonesia semakin menggiurkan.

Berdasarkan data Bank Dunia, posisi indeks inklusi keuangan Indonesia pada 2014 sebesar 36%, kalah jauh dari negara tetangga seperti Thailand (78%), Malaysia (81%), dan Singapura (96%). Asosiasi Financial Technology Indonesia atau Aftech menyatakan bahwa adopsi fintech Indonesia masih ada di kisaran 9% atau lebih rendah ketimbang rerata penduduk dunia yang mencapai 33%.

Tidak hanya itu, keterbatasan kemampuan dalam penyaluran kredit oleh perbankan menjadikan pasar Indonesia semakin seksi di mata pemain fintech. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperkirakan kebutuhan pinjaman bagi UMKM Rp 1.700 triliun per tahun.

Nah, dari jumlah itu, lembaga keuangan domestik hanya bisa memenuhi Rp 700 triliun. Praktis kekurangan pendanaan sebesar Rp 1.000 triliun menjadi ceruk pasar bagi perusahaan-perusahaan fintech. Termasuk dari Singapura yang menyerbu Indonesia layaknya burung nazar.

TERBARU

IdeaHub, Papan Tulis Cerdas Besutan Huawei

Jakarta, Selular.ID - Huawei meluncurkan white board pintar dalam seri IdeaHub generasi terbaru, yakni...

Zilingo Berikan Kado Spesial Lebaran Untuk Dunia Pendidikan

Jakarta, Selular.ID - Zilingo dan platform penggalangan dana BenihBaik.com bekerja sama, menghadirkan program penyaluran...

Gelar Acara 5 Juni, Sony Rilis PS 5?

Jakarta, Selular.ID - Usai cukup lama bungkam, Sony akhirnya mengumumkan bakal menggelar acara pada...

Latest