Tuesday, April 23, 2019
Home News Feature Membandingkan Nasib Lenovo di India dan Indonesia

Membandingkan Nasib Lenovo di India dan Indonesia

-

Jakarta, Selular.ID – Handset Lenovo yang dimiliki Motorola mungkin telah menjadi populer di pasar ponsel pintar global dalam beberapa tahun terakhir. Sayangnya, brand smartphone ini telah gagal memperkuat posisinya di India, yang merupakan pasar ponsel cerdas terbesar kedua di dunia.

Seperti diketahui, Lenovo pernah menjadi pemain populer di segmen harga terjangkau dan menengah di India. Namun dalam dua tahun terakhir, bisnis ponsel perusahaan ini tergelincir karena persaingan dengan vendor China yang semakin meningkat.

Menurut Counterpoint Research, pengiriman ponsel pintar Motorola India turun 70 persen year-on-year (YoY) pada  2018. Performa merek ini merosot dari posisi keenam pada 2017 menjadi ke 12 di pasar pada 2018.

“Pengiriman Motorola menurun karena portofolio produk kompetitif Realme dan Xiaomi. Motorola tidak menyegarkan portofolionya dibandingkan dengan pemain China lainnya yang menawarkan spesifikasi yang lebih baik dengan harga kompetitif”, ujar Karn Chauhan, Analis Utama di Counterpoint Research.

Pasca akuisisi, pada Agustus 2015, raksasa teknologi China Lenovo mengumumkan penggabungan divisi ponsel pintar yang sebelumnya telah mereka miliki, termasuk desain, pengembangan, dan manufaktur, ke dalam unit mobilitas Motorola.

Namun line up Motorola terbilang tersendat. Motorola meluncurkan perangkat tiga kali lebih sedikit dibandingkan merek terkemuka lainnya di India sepanjang 2018.

“Merek belum mampu tumbuh pada kecepatan yang bisa ia miliki, semata-mata pada nilai mereknya. Setelah mergernya Lenovo-Motorola, positioning dan portofolio produk justru menjadi kacau. Tidak ada positioning yang berbeda antara Lenovo dan Motorola”, kata Faisal Kawoosa, Pendiri dan Analis Utama firma riset pasar techARC.

“Moto selalu dilihat sebagai merek untuk pengguna yang berevolusi, sesuatu yang memanfaatkan OnePlus. Seandainya Lenovo-Motorola Business Group (MBG) memainkan kartunya dengan baik, Moto bisa menjadi seperti OnePlus hari ini,” tambah Kawoosa.

Di sisi lain, perubahan dalam manajemen puncak juga memengaruhi bisnis Lenovo Motorola di negara ini, kata Counterpoint.

Performa yang menurun, membuat banyak eksekutif Lenovo Motorola yang hengkang. Termasuk Sudhin Mathur.

Ia berhenti pada April 2018 sebagai Kepala Bisnis Ponsel Lenovo-Motorola Group di India bahkan ketika perusahaan itu berjuang untuk melindungi sahamnya di pasar ponsel cerdas yang sangat kompetitif.

Di India, segmen smartphone dengan harga terjangkau saat ini dikuasai oleh Realme yang baru muncul dan Xiaomi yang berkantor pusat di Beijing. Pemain nomor dua, Samsung sekarang juga menargetkan dapat merebut pasar lebih banyak dengan memperkenalkan seri ‘Galaxy M’.

Menurut Anshika Jain, Analis Riset di Counterpoint Research, lanskap kompetitif telah berubah secara signifikan pada tahun lalu. Pihaknya melihat para pemain kunci mendapatkan bagian, sementara merek yang lebih kecil keluar dari pasar saat kompetisi semakin ketat.

Pada 2017, Motorola membuka “Moto Hubs” di India. Fasilitas itu ditujukan untuk memperkuat positioning Motorola karena persaingan di antara para produsen ponsel pintar bergeser untuk mendapatkan ruang offline. Sayangnya keputusan itu tidak berhasil.

Drop di Indonesia

Kondisi Motorola yang kini tertekan di India, tidak berbeda dengan Indonesia. Padahal Lenovo pernah cukup berkibar di pasar domestik.

Periode 2015 dan 2016, bisa disebut sebagai periode terbaik Lenovo. Riset IDC mengungkapkan, vendor asal China itu mampu mengamankan posisi di lima besar produsen smartphone Tanah Air selama dua tahun berturut-turut.

Bahkan lewat seri A yang dibandrol dengan harga terjangkau, yakni hanya US$100, pangsa pasar Lenovo meningkat drastis, mencapai 9,2%. Membuat Lenovo bertengger di posisi tiga besar pada kuartal keempat 2015.

Itu adalah pencapaian yang cukup membanggakan, mengingat Lenovo sebelumnya lebih dikenal sebagai produsen PC dan note book, bukan smartphone.

Dengan pencapaian tersebut, manajemen Lenovo optimis bisa mencapai posisi yang lebih tinggi, yakni tiga besar smartphone di Indonesia.

Namun, terkadang target yang sudah dicanangkan tak selalu mudah untuk diraih. Alih-alih merebut posisi ketiga, sepanjang 2017 dan berlanjut hingga kini, pangsa pasar Lenovo malah melorot drastis, hingga terlempar dari posisi elit.

Tanda-tanda anjloknya pangsa pasar Lenovo, sesungguhnya mudah ditebak. Salah satunya karena line up produk yang menciut drastis. Begitu pun dengan aktifitas pemasaran yang cenderung menurun sejak memasuki pertengahan 2017 dan berlanjut hingga kini.

Tengok saja hingga semester pertama 2018, tak ada satu pun produk baru yang diluncurkan ke pasar. Padahal di awal 2018, perusahaan sudah berjanji akan memperkenalkan varian G Series yang banyak diminati konsumen.

Hal ini sangat berbeda dengan para pesaing, yang rata-rata sudah meluncurkan rata-rata lima hingga delapan smartphone terbaru.

Sebelumnya, demi mengejar market share sekaligus menumbuhkan loyalitas konsumen, Lenovo secara konsisten mengeluarkan sedikitnya lima smartphone baru pada setiap kuartal.

Terutama smartphone 4G untuk berbagai segmen, dengan kualitas produk yang dapat diandalkan dan harga yang terjangkau.

Lenovo baru memperkenalkan produk terbarunya, yakni K9 pada Oktober 2018. Berlanjut dengan Lenovo A5s pada Januari 2019.

Namun yang mengejutkan, kedua varian itu, dijajakan oleh Inone Smart Tech Technology (ISTT), salah satu distributor smartphone di Indonesia.

Dengan keberadaan ISTT, tampak jelas, pemasaran Lenovo di Indonesia sudah bersifat down grade, karena sudah tak lagi ditangani oleh prinsipal seperti sebelumnya.

Laba Pertama

Sejatinya keputusan Lenovo untuk mengurangi bisnis di India, bahkan memilih mundur dari Indonesia dapat dipahami. Pasalnya kinerja mereka belakangan malah pasca perusahaan mengambilalih Motorola pada 2015.

Tengok saja sepanjang 2017, transisi merek dari Lenovo ke Motorola, dibarengi persaingan yang ketat dengan vendor lainnya, berdampak pada keseluruhan pengiriman, yang turun 18 persen tahun ke tahun. Kerugian operasional pra-pajak dari unit sebesar USD 92 juta turun dari USD112 juta tahun ke tahun. 

Memasuki 2019, manajemen Lenovo Motorola baru sedikit lega. Vendor akhirnya mampu membukukan laba sebelum pajak di Q3 fiskal, yang pertama sejak mengakuisisi Motorola pada 2014, meskipun pendapatannya turun dua digit.

Dalam tiga bulan hingga akhir Desember 2018, divisi ini mencatat laba sebelum pajak sebesar USD3 juta dibandingkan dengan kerugian USD124 juta pada periode yang sama tahun 2017.

Pendapatan turun 19,6 persen tahun-ke-tahun menjadi USD1,67 miliar. Itu karena langkah untuk memilih fokus pada pertumbuhan yang menguntungkan di pasar-pasar utama.

Lenovo mengaitkan perubahan haluan tersebut dengan “eksekusi yang baik” pada strategi untuk mengurangi biaya, merampingkan portofolio produknya dan fokus pada pasar inti.

Volume di pasar Amerika Utara melampaui pasar dengan 40 poin dan pendapatan China naik empat kali lipat dari tahun ke tahun, katanya pernyataan resmi perusahaan.

Subscribe to Selular Newsletter

Dapatkan berita menarik seputar harga smartphone terbaru dan informasi telekomunikasi Indonesia.

Latest