Bali, Selular.ID – Huawei belum lama ini merilis Global Connectivity Index 2018. Kajian yang dilakukan oleh vendor jaringan asal China itu, menyoroti perkembangan investasi dan penyebaran TIK untuk mewujudkan ekonomi digital di banyak negara. 

Sejumlah faktor menjadi bahan kajian, seperti ketersediaan permintaan, pengalaman, dan potensi dari lima enabler teknologi, yaitu pita lebar, pusat data, big data, cloud, dan IoT.

Penelitian menunjukkan, bahwa investasi dalam infrastruktur digital berkaitan erat dengan pendapatan domestik bruto (PDB), karena infrastruktur digital meningkatkan dinamika ekonomi, efisiensi, dan produktifitas.

Untuk meningkatkan PDB tersebut, setiap negara perlu fokus pada teknologi dengan berinvestasi pada teknologi baru, dan memastikan teknologi tersebut diadopsi dengan baik oleh pemerintah, industri, dan masyarakat.

Dari berbagai parameter penelitian, saat ini Indonesia masih berada pada zona starters, yakni negara yang baru memulai membangun dan memperluas infrastruktur broadband. Indonesia belum beranjak ke zona lebih tinggi, yakni adopters dan front runners.

BACA JUGA:
China Peringatkan Kampanye Menjegal Huawei Akan Merugikan Banyak Negara

Huawei menetapkan negara dalam kelompok starters memiliki PDB US$ 3.700 dan skor CGI 20 hingga 34.

Untuk kelompok adopters, memiliki PDB USD 16.300 dan CGI score 35-55.

Sedangkan tertinggi, yaitu front runners, nilai PDB sebesar USD54.000. Dengan skor CGI 56-85.

Tahun ini, Huawei menambah jumlah negara yang diukur, yakni 73 negara. Berdasarkan kajian tersebut, skor CGI Indonesia sebesar 33 dan berada di peringkat 64. Skor tersebut menunjukkan Indonesia semakin tercecer, karena pada 2017, peringkat CGI kita sebesar 40.

Apa boleh buat, meski operator sudah membangun banyak BTS dengan teknologi broadband, dari 3G hingga 4G, dan biaya fixed broadband yang semakin terjangkau, Indonesia justru tertinggal dengan negara-negara di kawasan ASEAN. 

BACA JUGA:
Pre-order Perdana Huawei Mate 20 Series Tembus Rp 30 Miliar

Bahkan dibandingkan Vietnam sekalipun. Dalam dua tahun berturut-turut, Vietnam berada di atas Indonesia. Pada 2017, Vietnam memiliki skor 41, di atas Indonesia dengan skor CGI 40.

Kini pada studi yang sama tahun ini, skor CGI Vietnam sudah tiga tingkat di atas Indonesia, yaitu 34. Sekaligus menduduki posisi 61 dari 79 negara. Padahal dalam indeks yang sama 2016, Vietnam masih berada satu strip di bawah Indonesia yang memiliki skor CGI 41.

Menurut Muhammad Rosidi, Director ICT Strategi dan Marketing Huawei Indonesia, terdapat banyak tantangan bagi pemerintah Indonesia untuk meningkatkan indeks konektifitas broadband. Tantangan terbesar terkait dengan luasnya wilayah.

“Luasnya geografis dengan medan yang berbeda-beda, membuat biaya penggelaran dan pemeliharaan jaringan menjadi sangat mahal. Sehingga tidak semua operator bersedia membangun di wilayah-wilayah yang tidak menawarkan revenue dan keuntungan, karena tidak sebanding dengan capex dan opex yang dikeluarkan”, ujar Rosidi, di sela-sela Huawei Media Camp, di Ubud, Bali. 

BACA JUGA:
Huawei Uji Coba OS Google Fuchsia di Kirin 970

Meski demikian, tantangan terbesar, imbuh Rosidi, adalah menyangkut political will dari pemerintah. Jika regulasi yang dikeluarkan dapat merangsang kalangan industri, maka hal dapat memicu penggelaran jaringan broadband secara lebih cepat.

Pembangunan jaringan broadband memang tidak  mudah dan murah. Apalagi saat ini industri tengah suffer. Operator menghadapi dilema karena persaingan yang ketat, membuat revenue drop dan memicu terjadinya negative growth. 

Namun, dengan sinergi yang lebih baik di antara seluruh stake holder, Indonesia dapat mengejar ketertinggalan dari negara-negara lain, pungkas Rosidi.