Jakarta, Selular.ID – Didukung oleh populasi besar dan tren meningkatnya konsumsi data berkat layanan 4G yang mulai merata, pasar smartphone di kawasan Asia Tenggara kini semakin menarik.

Seiring dengan kebangkitan China, sejak lima tahun terakhir, kompetisi telah berubah menjadi pertarungan antara Samsung dan brand-brand asal negeri Tirai Bambu.

Tak dapat dipungkiri, potensi pasar yang besar, kawasan Asia Tenggara kini telah menjelma menjadi medan pertempuran yang keras bagi vendor-vendor ponsel.

Dilansir dari laporan terbaru yang dikeluarkan oleh lembaga survey Canalys, meski dikepung oleh Oppo, Huawei, Vivo dan Xiaomi, Samsung secara umum masih menjadi penguasa pasar di kawasan Asia Tenggara. Meski tak lagi dominan di banding tahun-tahun sebelumnya.

Sepanjang kuartal ketiga 3-2018, Samsung menjadi market leader di empat negara dengan populasi besar di kawasan ini, yakni Thailand, Malaysia, Vietnam, dan Indonesia. Uniknya hanya satu negara yang lepas dari penguasaan Samsung, yakni Filipina. Di negara tersebut, Samsung bahkan tidak masuk dalam top three.

Selengkapnya sebagai berikut :

  • Thailand : Samsung (22,4%), Oppo (19,1%), Vivo (12,4%).
  • Malaysia : Samsung (22,4%), Huawei (17,3%), Oppo (52,7%).
  • Vietnam : Samsung (39,9%), Oppo (19,1%), Huawei (12,4%).
  • Filipina : Oppo (20,0%), Cherry Mobile (19,3%), Vivo (12,5%).
  • Indonesia : Samsung (23,6%), Xiaomi (22,8%), Oppo (20,0%).
BACA JUGA:
Kepakkan Sayap di Asia Tenggara, Realme Sambangi Filipina 29 November

Canalys mengungkapkan, selama kuartal ketiga 2018, Samsung mengirimkan 5,8 juta unit. Pencapaian itu menyegel posisi teratas di empat pasar. Namun posisi Samsung sangat rentan mengingat peringkat kedua Oppo berbeda tipis dalam penguasaan pangsa pasar di negara-negara utama.

Dalam periode tersebut, Oppo sukses mengirimkan 4,8 juta unit. Oppo kini menjadi pemimpin pasar di Filipina. Vendor yang identik dengan warna hijau itu juga sukes, menduduki posisi kedua di Thailand dan Vietnam.

Analis penelitian Canalyst, Jin Shengtao mengatakan Oppo adalah satu-satunya vendor yang muncul di tiga besar dari lima pasar terbesar di kawasan itu.

Bahkan di Filipina, Oppo mampu mengambil alih posisi teratas dari vendor lokal Cherry Mobile. Kudeta itu menjadikan Oppo memimpin untuk pertama kalinya dengan pangsa pasar 20%.

BACA JUGA:
Kepakkan Sayap di Asia Tenggara, Realme Sambangi Filipina 29 November

Di sisi lain, Jin Shengtao mengatakan Samsung terlihat semakin kesulitan dalam mempertahankan kepemimpinannya di wilayah tersebut.

Tecatat, Samsung gagal tumbuh di semua tujuh pasar di Q3 dan mengalami penurunan dua digit di Thailand, Filipina dan Malaysia. Bahkan di Thailand, pangsa pasar Samsung amblas hingga 44% tahun ke tahun.

Lesu Sementara

Menurut data Canalys, meski masih menjadi pasar yang seksi bagi vendor ponsel terkemuka, kawasan Asia Tenggara sesungguhnya tengah dalam tekanan. Hal ini seiring dengan pergulatan ekonomi lokal dan dampak dari perang dagang antara China dan AS. Alhasil, pengiriman di sepanjang Q3-2018 mengalami penurunan di empat dari tujuh negara.

Total pengiriman di tujuh negara di kawasan itu turun 3% tahun ke tahun menjadi 25,4 juta unit. Tercatat tiga dari lima pasar terbesar mengalami penurunan hingga dua digit. Masing-masing Thailand (20,1%), Vietnam (20,1%) dan Myanmar (10,3%). Sementara Filipina turun 3,1%.

Hanya dua negara, Indonesia dan Malaysia yang masih mengalami lonjakan permintaan. Indonesia memimpin pertumbuhan dengan peningkatan hingga 13,2%. Sebagian besar pertumbuhan karena ketersediaan perangkat di saluran-saluran resmi yang sesuai dengan aturan TKDN sebesar 30%.

BACA JUGA:
Kepakkan Sayap di Asia Tenggara, Realme Sambangi Filipina 29 November

Sedangkan Malaysia tumbuh sebesar 5,3%, mendekati tingkat pertumbuhan pada 2016. Begitu pun dengan Kamboja, naik sebesar 6,8%.

Analis Canalys, TuanAnh Nguyen mengatakan koreksi sementara menyebabkan penurunan secara keseluruhan, mengalihkan perhatian dari potensi sebenarnya dari wilayah tersebut.

“Populasi yang terus booming dan rendahnya penetrasi pengguna di luar kota-kota utama, memberikan kesempatan bagi vendor smartphone untuk terus berinvestasi di kawasan ini”, ujar Nguyen.

Nguyen menambahkan bahwa munculnya vendor Cina memulai gelombang konsolidasi yang menyebabkan perubagan yang signiifikan. Beberapa vendor lokal dan internasional malah meninggalkan pasar, seperti Sony, HTC, dan Acer.

Meski pasar sedikit melesu, namun Nguyen memprediksi pertumbuhan sepanjang 2018 diperkirakan akan berakhir dengan catatan positif. Tantangan yang dihadapi setiap vendor adalah persaingan yang ketat dan penguatan dolar AS terhadap mata uang setiap negara. Hal itu berpotensi menekan margin keuntungan.