Jakarta, Selular.ID – Perang harga yang sempat mewarnai industri selular di Indonesia baik di layanan data dan maupun layanan legacy seperti voice dan sms kini dinilai sudah mulai berkurang.

Hal tersebut disampaikan Andri Ngaserin, analis saham dari Bahana Sekuritas. Menurutnya, dalam dua bulan terakhir ini perang harga sudah mulai berkurang dan jika di masa mendatang emiten telekomunikasi tidak lagi melakukan perang harga untuk mendapatkan pelanggan dirinya optimis margin dan kinerja keuangan emiten akan pulih pada akhir tahun ini.

Dari tiga emiten telekomunikasi yang tercatat di Bursa Efek Indonesia, menurut Andri, Telkom melalui Telkomsel masih memiliki ARPU (average revenue per user) terbaik yaitu Rp41 ribu. Sementara XL memiliki ARPU Rp34 ribu. Sedangkan Indosat Ooredoo memiliki ARPU terendah yaitu hanya Rp12 ribu.

Dengan tidak melakukan perang harga diharapkan industri telekomunikasi menjadi lebih sehat. Untuk membuat industri telekomunikasi menjadi sehat, Andri berharap tarif data tidak jor-joran lagi.

BACA JUGA:
XL Tingkatkan Kapasitas 1500 Site

Bahkan analis ini menilai jika harga layanan data dinaikkan 10%-20% dapat membantu memenuhi komitment pembangunan, memperbaiki kinerja keuangan emiten telekomunikasi serta menjaga kualitas serta layanan kepada konsumennya.

“Memang dengan jor-joran tarif emiten telekomunikasi tak akan mampu lagi mempertahankan kualitas dan layanannya. Apalagi untuk mengembangkan jaringan telekomunikasi,” jelas Andri.

Melihat dari laporan keuangan yang dipublikasikan emiten telekomunikasi, PT Telkom Tbk. melalui anak usahanya Telkomsel terlihat cukup agresif membangun jaringan telekomunikasi khususnya broadband. Ini dapat dilihat dari jumlah BTS on air mereka yang meningkat 19.9% dari sebelumnya  147 juta menjadi 176 juta.

Emiten lain yang rajin membangun BTS adalah XL Axiata Tbk. Ini dibuktikan dengan meningkatkan jumlah pembangunan BTS mereka dari 94 ribu menjadi 112 ribu.

BACA JUGA:
Viewers MAXstream Meningkat Signifkan Saat Debat Capres dan Cawapres

Menurut Andri, pembangunan jaringan telekomunikasi harus dilakukan oleh operator telekomunikasi jika mereka ingin mempertahankan kinerja keuangannya dan jumlah pelanggannya. Terlebih lagi jika emiten telekomunikasi ingin meningkatkan jumlah pelanggan data.

Fitch Ratings juga mencatat kebutuhan akan broadband di Indonesia sangatlah tinggi. Dengan tingginya kebutuhan broadband membuat operator telekomunikasi getol menggelontorkan CAPEX. Operator yang saat ini gencar menggeluarkan CAPEX adalah Telkomsel dan XL. Fitch mencatat rata-rata CAPEX yang dikeluarkan operator untuk penggembangan jaringan sebesar 20% dari pendapatan mereka.

Menurut Andri wajar saja operator mengeluarkan banyak banyak dana untuk melakukan investasi untuk menggembangkan layanan data dan digital. Ini disebabkan broadband akan menjadi tulang punggung pendapat emiten telekomunikasi ke depan.

“Nantinya investor hanya akan melirik emiten telekomunikasi yang memiliki komposisi pendapatan data terbesar. Laba bersih Telkom yang mengalami penurunan dikarenakan Telkom dan Telkomsel melakukan investasi yang sangat besar di broadband,” terang Andri.

BACA JUGA:
Dukung Pemberantasan Korupsi, Telkom Diapresiasi KPK

Hingga saat ini emiten yang dinilai Andri memiliki komposisi pendapatan data lebih besar dari legacy adalah XL. Sedangkan Telkomsel dinilai Andri masih mengarah untuk menuju ke layanan data. Analis ini optimis dengan investasi Telkom dan Telkomsel yang besar di layanan data, akan membuat komposisi pedapatan mereka akan berubah dari legacy menjadi ke data dan digital bisnis .

Dari data laporan keuangan Telkom disebutkan bahwa layanan digital Telkomsel mengalami kenaikkan sangat signifikan yaitu 17.5%. Jumlah tersebut memegang kontribusi 49.7% dari total pendapatan Telkomsel. Padahal di tahun lalu digital bisnis hanya memegang 39.3% dari total revenue Telkomsel.