Jumat, Oktober 30, 2020
Beranda News Setelah Rusia Negara Ini Juga Blokir Telegram

Setelah Rusia Negara Ini Juga Blokir Telegram

-

Jakarta,Selular.ID – Baru-baru ini pengadilan tinggi di daerah Moscow, Rusia, memutuskan untuk memblokir aplikasi perpesanan instan Telegram karena menolak untuk memberikan akses kepada kepolisian setempat.

Kini, menyusul Iran pun melakukan hal yang sama. Dilansir The Verge, otoritas hukum Iran secara resmi memerintahkan perusahaan telekomunikasi Iran untuk memblokir Telegram. Keputusan ini diambil setelah melalui proses persidangan di pengadilan tinggi Tehran.

Pemblokiran Telegram diambil setelah adanya protes dari sebagian penduduk Iran dan penggunaan Telegram dalam aktivitas ilegal yang menganggu keamanan dalam negeri Iran.

Menurut data dari Telegram, diperkirakan 40 juta penduduk Iran atau setengah dari populasi Iran, menggunakan Telegram sebagai alat komunikasi. Popularitas Telegram di negara berpenduduk mayoritas muslim itu jauh di atas aplikasi bertukar pesan lainnya.

Upaya memblokir Telegram di Iran sebenarnya sudah dimulai sejak Januari lalu. Saat itu, akses Telegram dibatasi sehingga beberapa fitur yang terdapat dalam Telegram tidak bisa digunakan. Pemerintah Iran saat itu menyarankan agar Telegram menyimpan data servernya di Iran.

Artinya, dengan data server terletak di dalam negeri, pemerintah Iran bisa lebih mudah untuk mengakses data yang terdapat di dalam server Telegram. Permintaan ini ditolak oleh Pavel Durov, pendiri Telegram.

Apa yang dialami Telegram bukan merupakan sesuatu yang baru. Sebelumnya Yuliya Smolina, yang merupakan hakim di pengadilan Rusia menyebutkan bahwa Telegram merupakan platform penyebar informasi di Rusia. Maka dari itu, pihak Telegram harus memberikan akses kepada pemerintah setempat yang akan digunakan untuk melacak hal-hal yang berbau terorisme.

Namun, pihak Telegram rupanya tidak mematuhi regulasi yang pemerintah buat, mereka tidak memberikan kunci enkripsi kepada kepolisian Federal di negara tersebut.

Pavel Durov, bersikeras untuk tidak akan memberikan akses kepada pemerintah Rusia karena dinilai melanggar privasi. Durov juga berdalih bahwa privasi merupakan salah satu bagian dari hak azasi manusia yang tidak dapat diperjualbelikan.

Di Indonesia, Telegram pun sempat menumai masalah, pada Agustus 2017 Kemkominfo memblokir konten-konten yang berkaitan dengan propaganda terorisme pada Telegram, channel-channel yang berbau radikalism.

Namun Durov  kala itu menuturkan bahwa dalam pertemuan yang berlangsung,Telegram dan Kominfo berdiskusi tentang cara untuk Telegram juga sudah menyetujui untuk mengamankan komunikasi dalam percakapan pribadi di Telegram.

Baca juga: Telegram Diblokir di Rusia, Kenapa?

Telegram berupaya membentuk tim khusus untuk memantau gerakan propaganda teroris yang dilakukan melalui percakapan, seperti ISIS. Sehingga Kemkominfo kembali membuka akses Telegram ketika semua disepakati.

Latest