Wednesday, June 19, 2019
Home News Security FireEye: Indonesia Bukan Target Utama Serangan Siber?

FireEye: Indonesia Bukan Target Utama Serangan Siber?

-

FireEyeJakarta, Selular.ID – Empat kelompok penyerang dengan kemampuan tingkat tinggi menyasar Indonesia. Hal itu disampaikan FireEye, platform keamanan virtual berbasis mesin, hari ini (19/4/2016) di Jakarta.

Melalui hasil riset terbaru, perusahaan asal Amerika Serikat itu menunjukkan bahwa 36 persen perusahaan yang disurvei di Indonesia menjadi target serangan siber tingkat tinggi pada paruh kedua tahun 2015 (Juli-Desember). Angka tersebut lebih dari dua kali lipat angka rata-rata global yang hanya mencapai 15 persen.

Meski demikian, Bryce Boland, Chief Technology Officer untuk FireEye Asia Pasifik, mengatakan bahwa Indonesia bukan negara dengan target serangan siber tertinggi. Adalah Taiwan (60%), Hong Kong (43%), dan Korea Selatan (38%) yang menempati urutan teratas dalam surveinya. Indonesia, dikatakan menjadi salah satu prioritas bagi penyerang siber untuk kawasan Asia Tenggara.

Pada bulan April tahun lalu, FireEye mengungkapkan adanya kegiatan spionase siber selama satu dekade oleh pemain ancaman siber asal China. Fokus target operasi mereka antara lain: pemerintahan, bisnis, dan jurnalis, yang memegang kunci politik, ekonomi, dan informasi militer tentang Asia Tenggara dan Asia Selatan. Analisis FireEye terhadap kelompok malware ini menghasilkan petunjuk bahwa kelompok tersebut menyasar Indonesia.

Hasil observasi perusahaan menunjukkan setidaknya ada empat kelompok penyerang tingkat tinggi yang secara gigih menyasar perusahaan-perusahaan di Indonesia.

Kesenjangan keamanan siber di Indonesia patut menjadi perhatian yang harus segera ditangani terutama dalam kaitannya dengan perekonomian dan keamanan nasional. Menurut Bryce, mayoritas perusahaan di Indonesia berada pada level “Detection” atau level terrendah dalam soal pengendalian ancaman siber. Sementara di atasnya masih ada dua level lagi, yakni “Response” dan “Hunting”.

Marshall Heilman, Vice President dan Executive Director, Incident Response dan Red Team Operations untuk FireEye, mengatakan ketika perusahan menjadi korban serangan siber tingkat tinggi, berbagai efek negatif bisa terjadi seperti gangguan operasi, kerugian finansial, rusaknya reputasi, serta tuntutan hukum.

Untuk membangun postur keamanan yang kuat, menurut Marshall, selain menggunakan teknologi untuk mendeteksi dan merespon serangan, sangat penting juga bagi perusahaan untuk memadukan ahli dari dalam dan luar perusahaan serta membangun intelijensi serangan.

Berdasarkan observasi FireEye, di wilayah Asia Pasifik, sektor industri yang paling banyak mendapat serangan APT (advance persistent threat) pada setengah tahun terakhir 2015, antara lain: pemerintahan federal (45%), hiburan/media/hospitality (38%), high-tech (33%), manufaktur (29%), energi (29%), pemerintahan negara bagian dan lokal (28%), jasa/konsultasi (25%), dan jasa keuangan (20%).

Latest