Tuesday, June 18, 2019
Home Headline Rudiantara : TV is The Next Sunset Industry!

Rudiantara : TV is The Next Sunset Industry!

-

Menkominfo Rudiantara (Foto: Hendra/Selular.ID)
Menkominfo Rudiantara (Foto: Hendra/Selular.ID)

Jakarta, Selular.ID – Populasi smartphone yang meningkat rata-rata 30% per tahun mendorong perubahan yang signifikan bagi pengguna ponsel di Indonesia. Dua aktifitas yang meroket adalah pemanfaatan sosial media dan konsumsi video. Kelompok yang didominasi oleh kalangan muda kini lebih akrab dengan gadget dibandingkan media konvesional.

Tak pelak, tren ini membuat banyak pihak memprediksi bahwa industri mobile video ads akan semakin berkembang di Indonesia. Bahkan Menkominfo Rudiantara meyakini bahwa dalam beberapa tahun ke depan, iklan video di perangkat mobile akan segera menggeser porsi revenue iklan yang selama ini didominasi oleh TV konvensional.

“Mengacu kepada perolehan iklan yang semakin menurun, setelah radio dan media cetak, TV konvensional adalah the next sunset industry”, ujar menteri yang akrab dipanggil Chief RA ini, dalam sebuah forum tentang masa depan industri konten di Jakarta (26/1/2016) yang dihadiri kalangan media, periklanan, start up dan penyedia konten.

Rudiantara tak sedang berpolemik. Merujuk pada 2015 baru saja kita tinggalkan, ada beberapa fakta menarik yang terjadi sepanjang tahun lalu, diantaranya menyangkut tren belanja iklan di TV. Selama bertahun-tahun sejak dimulainya komersialisasi TV swasta pada era ’80-an, untuk pertama kalinya para pengelola stasiun TV melihat kenyataan bahwa mereka tak lagi mampu mendulang pendapatan iklan sesuai harapan.

Riset yang dilansir Adstensity hingga 30 November 2015, menunjukkan total belanja iklan TV menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Jika pada 2014 belanja iklan TV mencapai Rp 99 triliun (66% dari total pendapatan iklan nasional), maka sepanjang 2015 iklan TV konvensional hanya meraup sekitar Rp 71,4 triliun.

Hasil ini bukan saja lebih menurun, namun juga meleset jauh dari target yang pernah disebutkan PPPI. Sebelumnya, pada akhir November 2014, Ketua PPPI Harris Thajeb menyebut target belanja iklan nasional untuk tahun 2015 adalah Rp 172,5 triliun, dengan sumbangan iklan TV mencapai Rp 113,5 triliun. Dihitung dari target ini, perolehan iklan TV 2015, hanya tercapai 62,9%.  Perlambatan ekonomi boleh jadi penyebab utama, yang ditandai oleh memburuknya kurs tukar rupiah terhadap dolar Amerika, sehingga banyak rencana belanja Iklan tidak dapat dieksekusi dengan baik.

Selain kondisi ekonomi yang tak kondusif, belanja iklan digital yang menunjukkan peningkatan, juga membuat perolehan iklan TV menjadi terpangkas sangat dalam. Kondisi semakin runyam, karena sejak akhir 2015, empat operator  di Indonesia sudah meluncurkan layanan LTE di 1.800 Mhz, yang mampu menawarkan kecepatan layanan data hingga 3 kali lipat dibandingkan 3G.

Dengan teknologi LTE, diprediksi akan lebih banyak lagi konten video yang dikonsumsi oleh masyarakat. Dengan sendirinya, pola advertising pun akan berpindah ke website dan konten video seperti Youtube dan lain sebagainya.
Saat ini lebih dari 50% konsumsi video diperkirakan telah dinikmati lewat perangkat mobile., seperti smartphone dan tablet. Pada akhirnya, banyak penyedia layanan aplikasi dan e-commerce yang sekarang menerapkan kebijakan mobile first. Jadi saat mereka membuat aplikasi atau layanan, platform mobile akan menjadi prioritas utama. Dengan demikian, pertumbuhan mobile advertising di 2016 diyakini bakal lebih tinggi lagi.

Mengacu pada tren tersebut, Rudiantara mengingatkan bahwa peluang mobile video ads harus dapat direbut oleh para konten developer lokal. Apalagi secara infrastruktur, internet broadband sudah mulai merata di berbagai wilayah di Indonesia.

“Konten video akan semakin diminati, terutama konten kreatif yang mewakili kebutuhan pengguna. Think local act global”, tandas Chief RA mengingatkan.

LIVE BLOG: PELUNCURAN OPPO RENO

Oppo Reno series mengedepankan kamera, performa dan juga daya tahan tahan baterai.

Latest