TelkomVisionSaat PT Telkom memutuskan menjual anak usahanya, PT Indonusa Telemedia (TelkomVision) kepada PT Trans Corpora milik taipan Chairul Tanjung, iklim politik di tanah air sempat memanas. Sejumlah kalangan termasuk DPR, menilai aksi korporasi tersebut tidak ada urgensinya. Komisi I DPR berpendapat, penjualan 1,03 miliar lembar saham atau setara 80 persen saham TelkomVision yang dituntaskan kedua perusahaan pada 8 Oktober 2013 senilai Rp 926,5 miliar adalah tindakan gegabah. Aksi ini bahkan dapat dikatagorikan menjual aset negara.

Menurut DPR, TelkomVision yang berbisnis TV langganan sebetulnya masih berpeluang menjanjikan keuntungan meski kinerjanya tercatat merugi. Akibat penjualan ini, DPR memanggil jajaran direksi PT Telkom dan menteri BUMN saat itu, Dahlan Iskan. DPR pun kekeuh, meminta Telkom membatalkan penjualan tersebut.

Namun seperti kata pepatah “Anjing menggonggong kafilah berlalu”, Telkom tetap memutuskan tak lagi berbisnis TV kabel. Bagi Telkom, tindakan DPR hanya sekedar gertakan semata. Urusan politik tak seharusnya masuk ke wilayah bisnis. Apalagi bisnis TV berlangganan tak lagi seksi. Perusahaan pelat merah itu rupanya tengah menggodok bayi baru di bisnis broadband menggantikan Speedy, yakni IndiHome.

Meski masih bisa bertumbuh, faktanya layanan TV kabel kini tengah berada di persimpangan. Tren global menunjukkan, bisnis TV langganan tak lagi semoncer tahun-tahun sebelumnya. Bahkan di AS, para pemain raksasa mulai kelimpungan karena harga saham mereka terus berjatuhan akibat menurunnya jumlah pelanggan secara drastis juga anjloknya pendapatan dari iklan.

Lima besar pemain di bisnis ini, yakni Walt Disney, Time Warner, Discovery Communications, Twenty-First Century Fox Inc dan CBS Corp, mengalami penurunan saham bervariasi dari 5%  – 10%, sejak Agustus 2015.  Anjloknya harga saham membuat target revenue melorot dan langsung memicu kekhawatiran para investor.

Tanda-tanda anjloknya bisnis TV kabel sebenarnya sudah terdeteksi pada 2011. Seperti yang ditunjukkan oleh Business Insider, rating TV kabel semakin menurun sejak September 2011 lalu dengan satu pengecualian yaitu Olimpiade. Sekitar lima juta orang telah membatalkan langganan kabel mereka sejak awal 2010 dan untuk pertama kalinya, jumlah pelanggan TV turun drastis di bawah 40 juta.

Ditilik lebih lanjut, Time Warner telah kehilangan sebanyak 306.000 pelanggan TV kabel hanya pada kuartal ketiga 2011 saja di samping 24.000 rumah yang menyingkirkan broadband mereka. Perusahaan yang menawarkan langganan broadband dan TV berbayar melaporkan bahwa kurang dari setengah dari pelanggan mereka memiliki paket kabel.

Memasuki 2015, saat ekonomi dunia semakin melesu dan perang kurs tak terelakan, industri hiburan yang disajikan operator TV berbayar semakin lesu darah. Saat ini, hampir delapan juta rakyat Amerika memutuskan untuk tidak lagi menggunakan jasa perusahaan-perusahaan penyedia layanan TV kabel tersebut. Bahkan dalam empat bulan terakhir saja, tercatat hampir setengah juta rumah di Amerika tidak lagi menggunakan jasa mereka.

Lebih jauh, 45% rakyat Amerika mulai beralih ke siaran televisi streaming, yang menggunakan jasa satelit. Angka ini diperkirakan akan meroket menjadi 53% pada 2018 nanti.

Mungkin yang paling dikhwatirkan adalah, semakin banyak orang yang tidak lagi tertarik menonton siaran televisi. Persentase untuk data ini cukup signifikan, yaitu 83,1% rumah di Amerika saat ini tanpa TV kabel. Bahkan 24% anak-anak muda Amerika, dilaporkan malas untuk mengkonsumsi siaran televisi.

Dus, rata-rata jika ditotal, rating TV kabel di Amerika turun 9% sepanjang 2014. Ini berarti turun tiga kali lipat dibanding 2013, serta empat kali lipat pada 2012.

Tidak heran jika muncul prediksi bahwa industri TV kabel, berada dalam kondisi kritis. Masyarakat tak lagi terpengaruh dengan iklan TV kabel yang menawarkan banyak channel. Karena sebetulnya hanya beberapa program saja yang mereka sukai dari puluhan hingga ratusan channel yang ditawarkan.  Alhasil, jika tak menawarkan terobosan, tak sedikit analis yang menilai, investasi bisnis oligopoli yang diperkirakan bernilai 100 milar dolar itu, pelan-pelan mulai menuju jurang kehancuran.

Setali Tiga Uang

Jika tren global menunjukkan bisnis TV kabel mulai ditinggalkan pelanggan, bagaimana dengan Indonesia? Untuk menjawabnya, kita bisa merujuk pada kinerja dua pemain terbesar di bisnis ini, yakni First Media dan MNC Sky Vision.

Sebagai pemain kedua terbesar di bisnis ini, First Media yang merupakan anak perusahaan Lippo Group ternyata mengalami kerugian Rp 279,05 miliar di paruh pertama 2015. Padahal pada periode yang sama tahun lalu emiten berkode KLBV ini masih mencatat laba Rp 1,6 miliar. Operator televisi berbayar dengan merek Big TV itu juga menderita penurunan penjualan di semester I-2015, yaitu sebesar 56% dari Rp 1,1 triliun menjadi hanya Rp 475,1 miliar.

Baca juga :  Mandalika Go Digital, Siap Jadi Destinasi Wisata Kelas Dunia

Selain tertekan karena rugi kurs akibat membengkaknya hutang dalam dollar dan melambungnya beban biaya, anjloknya pendapatan dari jasa langganan untuk TV kabel dan pemasangan iklan juga menjadi faktor surutnya pendapatan yang diraih oleh First Media.

Kondisi yang sama juga dialami oleh MNC Sky Vision. Surutnya jumlah pelanggan membuat kinerja perusahaan milik taipan Hari Tanosudibyo itu nyungsep. Tengok saja, sepanjang semester pertama 2015, emiten yang mengusung merek Indovision ini mencatat kenaikan rugi bersih menjadi Rp 293,80 miliar dari sebelumnya Rp14 miliar pada periode sama tahun lalu. Padahal, selama bertahun-tahun, Indovision yang merupakan market leader di bisnis TV berbayar merupakan tambang emas bagi grup MNC.

Mobile Device

Lantas apa yang menyebabkan layanan TV berbayar cenderung tak lagi diminati masyarakat? Kemana orang Indonesia kini mencari hiburan?

Seperti halnya di AS, sejak layanan streaming video lewat internet mulai marak, sejak itu pula gelombang perpindahan dari TV kabel ke internet mulai terjadi. Berbekal perangkat mobile, pelanggan bisa mengakses video favorit, baik lewat smartphone, tablet atau laptop, tanpa lagi harus menunggu jadwal tayang suatu acara televisi.

Seperti laporan yang dilansir dari eMarketer 2015, sebanyak 69% responden lebih memilih untuk ketinggalan menonton acara favorit di TV daripada ketinggalan smartphone-nya, sehingga kepemilikan smartphone telah menjadi satu hal yang penting, khsususnya bagi kaum muda.

Tidak hanya itu, rata-rata penggunaan internet mobile melalui smartphone menghabiskan waktu kurang lebih tiga jam sehari untuk berselancar di dunia maya.

Oleh karenanya perkembangan pengguna internet berbanding lurus dengan meningkatnya pengguna smartphone. Dari total jumlah populasi penduduk di Indonesia, sebanyak 112% menggunakan smartphone untuk tersambung ke internet.

Hal ini membuktikan bahwa kehidupan kaum muda yang dinamis, tidak bisa terlepas dari dukungan sebuah smartphone. Tidak hanya untuk berselancar, mereka juga aktif sangat dalam social media, chatting hingga streaming.

Selain akses internet secara mobile, jaringan internet yang menjangkau hingga ke perumahan melalui fiber to the home (FTTH), telah mengubah cara pelanggan dalam mengkonsumsi hiburan. Dua sampai tiga tahun lalu, konsumsi TV kabel di Indonesia masih melonjak. Permintaan konsumen yang ingin memasang layanan televisi berbayar sangat besar ketimbang internet di lingkungan perumahan. Akan tetapi, era broadband telah merubah kebutuhan pelanggan terhadap akses internet.

Tengok saja pengalaman Biznet, sejak pertama kali menawarkan layanan fixed broadband untuk perumahan pada 2012, ada kesulitan menerapkan layanan bila hanya menjual internet saja. Sehingga, mau tak mau perusahaan harus membuat paket bundling internet dengan TV kabel.

Terhitung sejak Agustus 2015, Biznet membagi layanan dalam dua pilihan paket, yakni internet-only dan bundling internet + TV kabel. Menariknya, berbeda dengan tren tiga tahun lalu, kini semakin banyak pelanggan yang mengambil paket untuk internet saja, tanpa harus membeli paket TV kabel.

Dengan tren internet broadband yang terus happening,  membuat aksi Telkom menjual TelkomVision adalah hal yang wajar. Telkom optimis IndiHome dapat meraih tiga juta pelanggan di akhir 2015. Telkom sendiri kini harus bersaing dengan banyak pemain lain seperti Biznet, FirstMedia, MNC Play Media, MyRepublic, dan belakangan Dimension Data Indonesia.

Kehadiran pemain-pemain tersebut, menunjukkan potensi yang besar dari bisnis FTTH. Di sisi lain, kue internet broadband, masih sangat luas. Pasalnya, saat ini pengguna internet di Indonesia belum mencapai separuh dari total populasi.

Catatan APJII menunjukkan,  pengguna internet di tanah air baru mencapai 71 juta pada 2014. Diperkirakan hingga akhir tahun ini jumlahnya mencapai kisaran 80-an juta. Prediksi APJII tersebut sedikit berbeda dengan Kemenkominfo yang optimis pengguna internet dapat menembus 137 juta pengguna. Optimisme itu didasarkan pada mulai maraknya layanan 4G LTE yang mendongkrak peneterasi smartphone khususnya di kisaran Rp 1 – 2 juta yang merupakan pasar terbesar. Serta jaringan FTTH yang terus meluas ke berbagai kota di Indonesia.

Pertanyaan, jika nantinya penetrasi pengguna internet sudah menyamai jumlah populasi penduduk Indonesia bahkan lebih seperti pelanggan selular, apakah layanan TV berbayar masih akan eksis? Apakah operator TV berlangganan akan gulung tikar atau masih akan survive karena menawarkan inovasi yang berbeda?

Kelak, waktu yang menjawabnya.

Berita sebelumyaDirut XL : 50% Pengguna Menyatakan Belum Butuh 4G
Berita berikutnyaFacebook Page Garap Tombol Call To Action Baru
Editor in Chief