Pengguna selular di Indonesia terus meraksasa. Saat ini jumlahnya sudah menembus angka 300 juta pelanggan.
Pengguna selular di Indonesia terus meraksasa. Saat ini jumlahnya sudah menembus angka 300 juta pelanggan.

Jakarta, Selular.ID – Seperti halnya migas dan otomotif, telekomunikasi khususnya selular adalah industri strategis. Ia berperan penting dalam membuka keterisolasian, meningkatkan kualitas pendidikan, pengembangan ekonomi, pembangunan sosial, pelestarian lingkungan, hingga pemenuhan kebutuhan gaya hidup modern.

Sejak masuknya teknologi GSM pada 1995, penetrasi pengguna selular semakin berkembang pesat. Sebagai key driver, kehadirannya mampu mengubah arah dan mendorong kemajuan ekonomi bangsa.

Dari berbagai laporan dan hasil riset, pemberitaan media, serta fact sheet yang dikeluarkan kalangan industri dan lembaga, saya mencoba merangkum data dan fakta kemegahan industri selular, juga kontribusinya bagi masyarakat dan negara, seperti berikut ini :

Fakta Pertama : Pengguna selular di Indonesia terus meraksasa. Saat ini jumlahnya sudah menembus angka 300 juta pelanggan. Itu berarti penetrasi pasar sudah saturated, bahkan melebihi populasi penduduk. Di kota-kota besar seperti Jakarta, Medan atau Surabaya, malah sudah melebihi 200 persen. Tiga besar operator (the big three), yakni Telkomsel, Indosat dan XL Axiata, menguasai tak kurang dari 75 persen market share. Telkomsel kini menggaet 125 juta, Indosat 55 juta dan XL Axiata 50 juta pelanggan. Bahkan per Juli 2015, Tri (Huthcinson) mengklaim punya 50 juta pelanggan.

Fakta Kedua : Industri selular menjadi berkah bagi negara berkembang, seperti Indonesia. Hal itu lantaran kian terjangkau dan berkembangnya layanan selular di tengah semakin kurang populernya layanan telepon tetap (fixed phone). Persepsi masyarakat terhadap telepon tetap yang dianggap mahal dan tak praktis, berimbas pada layanan pasca bayar yang kurang diminati. Wajar jika 95 persen dari 300 pengguna juta ponsel saat ini merupakan pelanggan tipe pra bayar.

Pelanggan Simpati menjadi penyumbang revenue terbesar bagi Telkomsel
Pelanggan Simpati menjadi penyumbang revenue terbesar bagi Telkomsel

Fakta Ketiga : Pendapatan industri selular diperkirakan telah menembus di atas Rp 120 triliun per tahun.  Lagi-lagi the big three menguasai lumbung tersebut. Sepanjang 2014 lalu, total pendapatan Telkomsel, XL Axiata dan Indosat mencapai Rp 113,88 triliun. Disusul Smartfren Rp 2,95 triliun, Bakrie Telecom Rp 1,17 triliun (Catatan : di luar Tri dan Bolt-Inernux, yang tak pernah mempublikasikan kinerja secara terbuka).

Pendapatan sebesar itu tak lepas dari besarnya nilai investasi yang sudah ditanamkan. Capex (capital expenditure) yang dibenamkan operator per tahun berkisar Rp 4 – 11 triliun. Investasi mencolok dapat dilihat dari jumlah BTS yang sudah mencapai lebih dari 300 ribu BTS. Khusus 3G, nilai bisnis layanan selular generasi ketiga ini sejak diluncurkan pada 2006 silam, mencapai Rp 400 triliun. Nilai tersebut mencakup biaya lisensi frekuensi, investasi peralatan jaringan, hingga pendapatan operator.

Capex terbesar operator diserap untuk pembangunan BTS
Capex terbesar operator diserap untuk pembangunan BTS

Fakta Keempat : Industri selular menjadi salah satu penyumbang pajak terbesar bagi negara setelah migas dan otomotif. Tengok saja sepanjang satu dekade (2001 – 2011), total kontribusi tiga operator besar (Telkomsel, Indosat dan XL) kepada negara mencapai Rp 154,8 triliun. Angka tersebut terdiri atas lisensi fee atau BHP (Biaya Hak Pemakaian) frekuensi, deviden tunai dan pajak. Dari jumlah itu, Telkomsel menjadi penyumbang terbesar (termasuk deviden melalui PT Telkom) yakni Rp 126 triliun, diikuti Indosat Rp 20,7 triliun dan XL Axiata Rp 8,1 triliun.

Fakta kelima : Sejak akhir 2014, meski masih terbatas di jaringan 900 Mhz, teknologi 4G LTE resmi diperkenalkan di Indonesia. Saat ini proses refarming di frekuensi 1.800 Mhz tengah dikebut. Diharapkan pada akhir 2015, layanan ini sudah dinikmati secara luas di Indonesia.

Hadirnya LTE yang menawarkan akses internet berkecepatan tinggi memunculkan harapan akan tumbuhnya ekosistem digital yang sesungguhnya, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masa depan berbasis TIK.

Indonesia memang wajib menjadikan TIK sebagai basis pertumbuhan. Menurut Ericsson Mobility Report pada 2011, setiap pertumbuhan 10 persen jaringan broadband memberikan tambahan pertumbuhan GDP sebesar 1 persen. Sedangkan setiap penambahan 1.000 pengguna broadband menambah lapangan pekerjaan untuk 80 orang. Survei lain yang dilakukan McKinsey pada 2009 menyebutkan, setiap 1 persen penetrasi broadband akan mendorong pertumbuhan GDP sebesar 0,6-0,7 persen. Selain itu jaringan broadband akan memberikan efesiensi ke seluruh sektor perekonomian sebesar 0,5-1,5 persen

Di sisi lain, catatan World Broadband Commission, Indonesia merupakan negara mobile broadband ke-41 di dunia, dan merupakan salah satu negara dengan pertumbuhan mobile broadband tertinggi di dunia.

Saat ini layanan mobile broadband di Indonesia disediakan oleh 4 operator selular (Telkomsel, Indosat. XL, Tri Hutch), 2 operator CDMA (Smartfren, Bakrie Tel) dan 2 operator FWA (Internux, Berca). Hadirnya 4G LTE dengan teknologi netral, membuat operator tak lagi disekat-sekat dengan berbagai jenis frekuensi seperti sebelumnya.

Dibekap Krisis

Meski menjadi surga ponsel dunia, Indonesia hanya melahirkan pengusaha-pengusaha di bidang retailer.
Meski menjadi surga ponsel dunia, Indonesia hanya melahirkan pengusaha-pengusaha di bidang retailer.

Sayangnya dibalik “kemegahan” itu, industri selular saat ini sudah berada diujung kondisi 3C (competition, change, crisis). Liberalisasi industri telekomunikasi secara besar-besaran yang ditempuh pemerintah pada periode 1995 – 1999, membuat jumlah pemain membengkak, menjadikan Indonesia negara dengan operator terbanyak di dunia. Tak tanggung dari hanya lima pemain pada periode 1993 – 1996, langsung melonjak menjadi 12 pemain pada 2007.

Banyaknya operator memang membuat pilihan semakin beragam..Tarif ritel yang tadinya terbilang tinggi menjadi sangat terjangkau. Riset Deutsche Bank menunjukkan hanya dalam kurun empat tahun (2005 – 2008), perbedaan tarif menjadi sangat timpang. Pada 2005, tarif selular di Indonesia masih yang tertinggi di Asia, yakni US$ 0,15 atau Rp 1.350 per menit. Namun pada 2008, akibat kompetisi yang keras tarif anjlok ke titik terendah, yakni US$ 0,015 atau hanya Rp 135 per menit.

Alhasil, ARPU rata-rata operator pun menukik tajam, terutama di basic service yang kini berkisar Rp 20 – 30 ribu. Bandingkan dengan kondisi sebelumnya yang pernah bertengger Rp 75 – Rp 100 ribu. Di sini, sejumlah operator terutama pemain kecil, mulai sesak nafas karena revenue yang diperoleh tak sebanding dengan Capex dan Opex yang dikeluarkan.

Pasar aplikasi akan semakin cerah seiring dengan tumbuhnya ekosistem digital
Pasar aplikasi akan semakin cerah seiring dengan tumbuhnya ekosistem digital

Dengan kue yang semakin mengecil, tak dapat dipungkiri perang tarif yang terjadi sepanjang 2006 – 2012, merupakan mimpi buruk yang eksesnya masih terus dirasakan hingga kini. Untuk bisa bertahan, konsolidasi pun tak terelakkan. Axis misalnya sudah hilang dari peredaran setelah diakuisisi oleh XL pada 2014 lalu.

Sebelumnya konsolidasi sudah terjalin antara Fren dan Smart Telecom dalam hal penjualan dan network sharing sejak 2010. Diperkirakan, kondisi Bakrie Telecom yang babak belur karena hutang yang menggunung, memaksa operator CDMA itu untuk segera menuntaskan kerjasama dengan Smartfren Telecom.

Meski telah berkurang dari 12 menjadi 8, sesungguhnya Indonesia masih terbilang surplus operator. China saja dengan costumer base yang sudah mencapai lebih dari 1,3 milyar pengguna, hanya dihuni oleh 3 tiga operator. Begitu pun AS dan India dengan empat operator. Jelas jika dibandingkan dengan Indonesia, industri ini sungguh tidak sehat, karena hyper competition membuat pasar menjadi berdarah-darah dan peluang untuk bertahan tidak mudah.

Faktanya, sepanjang 2014 dari seluruh operator selular yang beroperasi hanya Telkomsel yang meraih keuntungan. Lainnya harus menelan kerugian, termasuk Indosat dan XL.

Pada 2014, XL membukukan pendapatan sebesar Rp 23.56 triliun, namun rugi Rp 891 miliar.  Akusisi terhadap Axis membuat XL harus berutang dalam dollar. Membuat rapor operator asal Malaysia itu untuk pertama kali merah menyala. Begitu juga dengan Indosat. Anak usaha Ooredoo Group (Qatar) ini, meraih pendapatan Rp 23,41 triliun, namun masih merugi hingga Rp 2,03 triliun karena beban kurs akibat tingginya hutang dalam dollar AS.

Kondisi serupa dialami Smartfren Telecom yang masih rugi Rp 1,37 triliun, meski sudah menurun 45,5% dibanding periode 2013 sebesar Rp Rp 2,53 triliun. Sebaliknya, hanya Telkomsel yang berhasil meraih pendapatan Rp 66,25 triliun, dan meraup laba bersih Rp 19,4 triliun. Sekaligus mempertahankan pertumbuhan double digit dalam tiga tahun terakhir.

Dengan hanya Telkomsel yang membukukan keuntungan, tak dapat dipungkiri bahwa saat ini industri selular sudah mengarah ke kondisi zero sum game. Ada yang untung, tapi lebih banyak yang rugi.

Kondisi anomali ini semakin diperparah, mengingat rupiah terus terjerembab dihantam dollar AS, sebagai imbas dari ketidakpastian ekonomi global. Operator semakin sesak nafas karena umumnya sebagian besar Capex didanai dalam dollar.

Jika Rupiah terus melemah, dampak jangka panjang yang akan dirasakan oleh pelanggan adalah kualitas dan coverage yang menurun meskipun Capex yang dikeluarkan tetap tetapi jumlah jasa atau barang yang dibeli menjadi berkurang.

Di sisi lain, meski migrasi ke LTE tidak akan melambat, namun yang akan berpengaruh langsung terhadap nilai tukar rupiah adalah handset yang pada akhirnya akan berdampak pada daya beli masyarakat terhadap handset 4G.

Artinya, perlu nafas kuda bagi operator untuk bisa tetap bertahan. Skenario terburuk, bukan tidak mungkin, jumlah operator menyusut lebih cepat.

Industri yang Mandiri

Sejak lama Indonesia hanya menjadi pasar bagi vendor-vendor global
Sejak lama Indonesia hanya menjadi pasar bagi vendor-vendor global

Selain persoalan sustainability, isu lain yang masih menjadi beban adalah menyangkut kemandirian industri selular yang hingga kini masih sangat tergantung pada produk asing. Sejak awal dibangun, pemerintahnya sepertinya memang tak memiliki blue print yang jelas, selain hanya menjadikan Indonesia sebatas pasar belaka.  Ketiadaan regulasi, membuat setiap pemain bebas-bebas saja.

Tidak ada kewajiban untuk membangun pabrik, membangun pusat data, juga pusat riset dan pengembangan. Alhasil, tiga dekade industri selular hanya menghasilkan pemain sekelas distributor, dealer dan retailer yang nota bene semua hanya kepanjangan tangan para vendor global.

Padahal besarnya populasi dan animo yang besar terhadap gadget, membuat  permintaan ponsel terus membengkak, menjadikan industri selular penyumbang defisit transaksi berjalan terbesar kedua setelah migas. Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, pertumbuhan pasar ponsel Indonesia mencapai 15 persen per tahun. Pada 2012, impor ponsel secara nasional mencapai 53 juta unit atau senilai US$ 2,6 miliar. Setahun berikutnya, yakni 2013 impor meningkat menjadi 58 juta unit atau US$ 2,9 miliar. Hingga akhir 2014 nilai impor sudah menembus US$ 4 miliar.

Namun, defisit perdagangan bukan cuma dari impor ponsel secara utuh, tetapi juga dari konten dan aplikasi yang menyertai. Nilai konten aplikasi di smartphone yang mengalir ke luar negeri pun tidak tanggung-tanggung, mencapai Rp 70 triliun pada 2014. Dengan semakin terbentuknya digital society dan layanan M2M (machine to machine) karena meluasnya layanan internet cepat berbasis 3G dan 4G, dipastikan belanja konten dan aplikasi pendukung lainnya akan semakin meningkat pada tahun-tahun mendatang.

Sadar bahwa pasar Indonesia sangat seksi dan terus menjadi incaran banyak pihak, Menkominfo Rudiantara, pada Juni 2015, resmi memberlakukan aturan TKDN 30%. Beleid yang didukung oleh Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perdagangan ini,  mewajibkan para manufacturer handset untuk fokus pada produksi konten lokal yang bisa meningkatkan nilai tambah sekaligus mendorong multiplier effect bagi perekonomian Indonesia. Jika pada Januari 2017 ketentuan ini tak dipatuhi, maka sanksinya tegas, siapa pun vendornya, mereka tak boleh berjualan di Indonesia.

Meski menimbulkan pro dan kontra, sebagai anak bangsa kita harus mendukung aturan ini. Kita mungkin tidak bisa menyaingi China yang sudah menjadi raksasa di industri manufaktur ponsel dan core network. Namun setidaknya kita bisa mengimbangi India yang awalnya sama-sama menjadi pasar, namun kini telah beralih menjadi produsen. Lewat regulasi yang ketat dan skema bisnis yang menarik, India kini merupakan salah satu tujuan investasi di sektor ICT yang terus booming, khususnya industri software yang memiliki prospek sangat bagus di masa depan.

So, apakah kita ingin Indonesia terus terus-terusan menjadi pasar saja?