Ilustrasi Facebook disadap NSA, (credit: BGR.com)
Ilustrasi Facebook disadap NSA, (credit: BGR.com)
Ilustrasi Facebook disadap NSA, (credit: BGR.com)

Jakarta, Selular.ID – Permasalahan Facebook kena sadap oleh Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat (NSA) belum kunjung usai. Mahkamah Eropa (CJEU) mengaku bahwa Safe Harbor Framework tidak cukup melindungi data warga Uni Eropa dari potensi sadap NSA. CJEU menyarankan, cara terbaik untuk meredam kekhawatiran terhadap para pengintai adalah dengan berhenti menggunakan layanan online yang berbasis di AS tertentu, termasuk Facebook. Setidaknya sampai mereka membuka pusat data di Eropa.

“Anda lebih baik mempertimbangkan untuk menutup akun Facebook jika Anda memilikinya,” ujar Bernhard Schima, Juru Bicara Mahkamah Eropa.

NSA menyadap melalui operasi Turbine yang disusupkan pada sebuah implan untuk mendapatkan akses ke komputer sasaran. Implan ini tanpa disadari menyusup ke komputer tatkala seseorang membuka laman populer semacam tautan Facebook palsu yang diumpankan melalui e-mail spam.

Tahun lalu, bos Facebook Mark Zuckerberg sudah menyampaikan protes dengan menelepon Presiden Amerika Serikat Barack Obama. Dalam sebuah blog, Zuckerberg mengatakan Pemerintah Amerika Serikat menjadi ancaman terbesar bagi perkembangan internet.

Selain Facebook, sejumlah perusahaan teknologi yang juga menjadi sasaran penyadapan NSA adalah Microsoft, Yahoo, Apple, dan Skype.

Di Indonesia sendiri, polemik sadap oleh badan intelijen Amerika Serikat sudah berlangsung lama. Empat operator seluler memakai kartu SIM buatan Gemalto yang diduga telah disadap oleh NSA dan Government Communications Headquarters (GCHQ) dari Inggris. Keempat operator tersebut antara lain Telkomsel, XL Axiata, Indosat, dan Tri. Para operator berkilah telah menjamin bahwa penyedia SIM card yang mereka gunakan telah memenuhi GSM Security Standard. (bda)