Monday, April 22, 2019
Home News Ericsson: Urbanisasi Dorong Kebutuhan M-Commerce di Indonesia

Ericsson: Urbanisasi Dorong Kebutuhan M-Commerce di Indonesia

-

21 August 2014 18:30

Sebuah laporan dari Ericsson ConsumerLab telah menemukan kemungkinan meluasnya adopsi m-commerce di negara berkembang di Asia. Negara-negara yang termasuk dalam riset ini adalah Bangladesh, Indonesia dan Vietnam. Riset ini mengungkapkan bahwa 54 persen responden di Indonesia, yang merupakan negara paling maju dalam hal perekonomian, telah menggunakan layanan pengiriman uang (mengirim dan / atau menerima uang), diikuti oleh 45 persen di Vietnam dan 34 persen di Bangladesh.

Ketika berbicara mengenai minat dan kesadaran terhadap layanan pengiriman uang melalui perangkat selular, terdapat variasi yang besar di pasar. Ada sekitar 97 persen responden di Bangladesh menunjukkan minat terhadap layanan tersebut, dan 100 persen mengetahui akan layanan tersebut. Hal ini sebagian besar disebabkan oleh popularitas layanan transfer uang bKash. Di Indonesia, 49 persen responden tertarik dengan layanan pengiriman uang mobile, sementara 35 persen mengetahui layanan tersebut. Untuk Vietnam, persentase untuk masing-masing hal tersebut yaitu 26 persen dan 19 persen. Mengenai jumlah orang yang benar-benar telah menggunakan layanan transfer uang melalui ponsel, hasilnya lebih rendah dari pengetahuan responden terhadap layanan ini, yaitu 4 persen di Bangladesh, dan masing-masing 1 persen di Indonesia dan Vietnam.

Salah satu temuan kunci dari riset ini adalah bahwa urbanisasi, yang mengarah ke banyaknya orang pindah ke kota untuk mencari pekerjaan, merangsang kebutuhan akan transfer uang secara cepat dan dapat diandalkan.

Sofia Jorman, Senior Advisor di Ericsson ConsumerLab, mengatakan: “Alasan untuk ini adalah bahwa sementara beberapa anggota keluarga pindah ke kota, yang lain tinggal di pedesaan dan tetap bergantung pada orang-orang yang pindah, khususnya mengenai masalah keuangan. Di berbagai negara berkembang, di mana pendapatan biasanya rendah, ada kebutuhan untuk secara cepat mengirim dan menerima uang.”

Semua pasar yang diteliti sebagian besar masih menggunakan ekonomi tunai, yaitu perkonomian yang mengandalkan uang tunai pada transaksi sehari-hari. Ericsson ConsumerLab menemukan bahwa ekonomi ini ditandai dengan lingkaran kepercayaan – kelompok anggota keluarga, teman atau tetangga – yang menyimpan uang secara kolektif dan meminjamkan kepada satu sama lain saat diperlukan.

Namun, masyarakat berbasis uang tunai memiliki risiko terkait keamanan. Contohnya adalah salah jumlah uang kembalian ketika konsumen melakukan pembelian dan bahaya dari uang palsu. Akibatnya, sebanyak 78 persen konsumen di Bangladesh dan 57 persen di Indonesia tertarik untuk menggunakan pembayaran mobile. Sedangkan di Vietnam adalah 37 persen. Singkatnya, ada kepentingan umum yang tinggi dalam layanan keuangan mobile di negara berkembang di Asia, khususnya di bidang jasa pengiriman uang dan pembayaran tagihan ponsel.

Di Indonesia sendiri, Hardyana Syintawati, VP Marketing and Communications Ericsson Indonesia, mengatakan, “Masih banyaknya penduduk Indonesia yang belum tersentuh layanan perbankan membuat layanan keuangan melalui ponsel atau M-Commerce dapat menjadi alternatif utama yang paling memungkinkan untuk diimplementasikan bagi sebagian besar penduduk Indonesia yang masih belum dapat mengakses layanan perbankan,” jelas Hardyana. (Deni Sukma)

 

Sumber : www.selular.co.id

Subscribe to Selular Newsletter

Dapatkan berita menarik seputar harga smartphone terbaru dan informasi telekomunikasi Indonesia.

Latest