Selular.ID -

InfraNexia Siapkan Konektivitas Latensi Rendah untuk Pertumbuhan AI

BACA JUGA

Selular.ID – PT Telkom Infrastruktur Indonesia (InfraNexia), operating company Telkom Indonesia, memperkuat infrastruktur konektivitas untuk mendukung pertumbuhan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di Indonesia.

Pengembangan mencakup peningkatan kapasitas jaringan, perluasan konektivitas antardata center, serta penguatan jalur cadangan untuk menjaga keandalan layanan, termasuk konektivitas antara Hyperscale Data Center (HDC) di Cikarang dan Batam dengan latensi di bawah dua milidetik.

Direktur Planning InfraNexia Ronny Arnaz menyampaikan strategi tersebut dalam sesi panel Bali Tech Week 2026 di Denpasar, Kamis (22/10/2026).

Menurutnya, perkembangan AI membutuhkan jaringan yang mampu menghubungkan pusat data, penyedia layanan, dan pengguna dengan kapasitas memadai serta waktu pertukaran data yang rendah.

“Infrastruktur yang siap mendukung AI harus mampu menangani pertukaran data dalam jumlah besar dan menjaga layanan tetap berjalan. Karena itu, kami terus meningkatkan kapasitas, memperluas jangkauan, serta memperkuat keandalan jaringan seiring pertumbuhan kebutuhan pelanggan,” ujar Ronny.

InfraNexia telah menghubungkan kawasan HDC Cikarang dan Batam ke jaringan backbone nasional.

Tonton juga:
Video Rekomendasi Untuk Anda

Backbone merupakan jaringan utama yang membawa lalu lintas data antarlokasi dan menjadi penghubung bagi jaringan yang lebih luas.

Ketersediaan konektivitas ini menjadi bagian dari dukungan infrastruktur untuk kebutuhan pusat data dan layanan digital.

Infrastruktur Fiber dan Konektivitas Antardata Center

Untuk mendukung konektivitas di kawasan pusat data, InfraNexia memiliki infrastruktur berupa 76 kilometer dark fiber di Cikarang dan 96 kilometer jaringan fiber untuk konektivitas data center di Batam.

Dark fiber merupakan kabel serat optik yang telah dipasang tetapi kapasitasnya belum diaktifkan untuk layanan transmisi oleh penyedia jaringan.

Infrastruktur ini dapat dimanfaatkan untuk membangun konektivitas sesuai kebutuhan pelanggan setelah dilengkapi perangkat transmisi yang diperlukan.

InfraNexia juga menyediakan layanan data center interconnect (DCI), yaitu koneksi yang menghubungkan satu pusat data dengan pusat data lainnya.

Teknologi ini memungkinkan pertukaran data antarlokasi tanpa harus mengandalkan satu pusat data saja.

Perusahaan menyebut layanan tersebut didukung konektivitas dengan latensi di bawah dua milidetik. Latensi mengacu pada waktu yang dibutuhkan data untuk menempuh perjalanan dari satu titik ke titik lain.

Dalam pengoperasian layanan digital, latensi rendah dapat membantu mempercepat komunikasi antarsistem, meskipun kinerja keseluruhan juga dipengaruhi kapasitas jaringan, jarak, dan perangkat yang digunakan.

Kebutuhan konektivitas antardata center semakin relevan seiring berkembangnya komputasi AI.

Pemrosesan AI dapat melibatkan pertukaran data dalam jumlah besar antara server, sistem penyimpanan, dan infrastruktur komputasi yang tersebar di beberapa lokasi.

Karena itu, jaringan yang menghubungkan pusat data perlu menyediakan kapasitas memadai sekaligus menjaga kestabilan layanan.

Infrastruktur tersebut menjadi salah satu komponen pendukung bagi penyedia cloud dan perusahaan yang menjalankan beban kerja AI.

Tingkatkan Kapasitas hingga 800G pada 2030

Untuk mengantisipasi peningkatan trafik data, InfraNexia memprioritaskan penambahan kapasitas pada 14 jalur data center dengan trafik tertinggi sepanjang 2026.

Langkah ini ditujukan untuk memperkuat kemampuan jaringan dalam menangani pertukaran data yang meningkat di antara pusat data.

Dalam rencana pengembangan jangka panjang, perusahaan menargetkan penerapan teknologi data center interconnect dengan kapasitas hingga 800G per panjang gelombang pada 2030.

G merupakan singkatan dari gigabit per detik dalam konteks kapasitas transmisi, sedangkan panjang gelombang merujuk pada kanal optik yang digunakan untuk mengirimkan data melalui serat optik.

Teknologi transmisi optik berkapasitas tinggi memungkinkan lebih banyak data dikirim melalui infrastruktur fiber.

Penerapannya dapat mendukung kebutuhan konektivitas antarpusat data yang terus berkembang, bergantung pada implementasi jaringan dan kebutuhan pelanggan.

InfraNexia juga merencanakan perluasan jangkauan konektivitas ke wilayah Batam–Bintan pada 2027 dan Kalimantan pada 2028.

Perluasan tersebut menjadi bagian dari arah pengembangan jaringan perusahaan untuk menjangkau lebih banyak kawasan di Indonesia.

Rencana ini melengkapi konektivitas yang telah dibangun di Cikarang dan Batam.

Namun, perusahaan belum memerinci nilai investasi, tahapan konstruksi, maupun kapasitas awal untuk masing-masing wilayah dalam informasi yang disampaikan.

Perkuat Keandalan melalui Jalur Alternatif

Selain kapasitas, InfraNexia menempatkan keandalan jaringan sebagai bagian dari strategi pengembangan infrastruktur AI.

Perusahaan mengoperasikan jalur alternatif melalui rute darat dan laut yang berbeda untuk menjaga keberlangsungan konektivitas ketika salah satu jalur mengalami gangguan.

Pemisahan rute memungkinkan trafik dialihkan melalui jalur lain apabila terjadi gangguan pada infrastruktur tertentu, termasuk dalam kondisi force majeure atau keadaan di luar kendali yang dapat menghambat operasional.

Strategi ini membantu mengurangi risiko satu insiden berdampak pada beberapa jalur konektivitas sekaligus.

Keandalan jaringan menjadi faktor penting bagi layanan digital yang memerlukan pertukaran data secara berkelanjutan.

Gangguan konektivitas antardata center dapat memengaruhi komunikasi antarserver maupun akses terhadap sumber daya komputasi yang berada di lokasi berbeda.

InfraNexia juga menerapkan prinsip netralitas dan keterbukaan akses dalam pengembangan infrastrukturnya.

Melalui pendekatan ini, operator telekomunikasi, penyedia layanan cloud, dan penyedia AI dapat memanfaatkan jaringan dengan ketentuan layanan yang setara.

Prinsip tersebut menempatkan infrastruktur konektivitas sebagai layanan pendukung bagi berbagai penyedia teknologi, bukan hanya untuk satu jenis layanan atau pelanggan tertentu.

“Melalui infrastruktur yang terbuka dan andal, kami ingin mendukung lebih banyak mitra mengembangkan layanan AI di Indonesia. Dengan fondasi konektivitas yang semakin kuat, pemanfaatan AI diharapkan dapat menjangkau lebih banyak sektor dan wilayah,” kata Ronny.

Pengembangan jaringan InfraNexia mencakup peningkatan kapasitas pada jalur dengan trafik tertinggi, penerapan DCI berkapasitas hingga 800G per panjang gelombang pada 2030, serta perluasan konektivitas ke Batam–Bintan dan Kalimantan.

Perusahaan juga mengandalkan jalur alternatif dan keterbukaan akses untuk mendukung kebutuhan operator, penyedia cloud, serta pengembang layanan AI di Indonesia.

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU