Selular.ID – Prudential Indonesia bersama GreatNusa memperkuat literasi keuangan, asuransi, dan digital masyarakat melalui program Smart Money, Healthy Life yang berlangsung secara hybrid pada Juni hingga Agustus 2026.
Program yang digelar di Kendari, Pontianak, Blitar, Medan, dan Jakarta Utara tersebut menjangkau lebih dari 2.100 peserta, dengan materi yang mencakup pengelolaan keuangan pribadi, perencanaan jangka panjang, perlindungan finansial, serta penggunaan teknologi digital secara aman.
Inisiatif tersebut hadir di tengah meningkatnya akses masyarakat terhadap layanan keuangan formal sekaligus perkembangan penggunaan kecerdasan buatan (AI).
Data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan indeks literasi keuangan nasional mencapai 69,57%, sedangkan inklusi keuangan mencapai 93,61%.
Namun, kelompok usia 15–17 tahun mencatat literasi 56,04% dengan inklusi 89,13%.
Untuk sektor asuransi, data SNLIK 2025 menunjukkan tingkat literasi perasuransian berada di 45,45%, sedangkan inklusi perasuransian mencapai 28,50%. OJK mendefinisikan literasi keuangan melalui pengetahuan, keterampilan, keyakinan, sikap, dan perilaku, sementara inklusi mengukur penggunaan produk dan layanan jasa keuangan.
Di sisi teknologi, pemerintah juga mencatat tingginya penggunaan AI dalam aktivitas masyarakat. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut sekitar 80% pengguna internet di Indonesia telah menggunakan fitur AI dalam aktivitas sehari-hari.
Data tersebut menunjukkan bahwa kemampuan memahami informasi, menilai risiko, dan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab menjadi bagian dari kecakapan digital yang semakin relevan.
Edukasi keuangan menjangkau lima wilayah
Melalui Smart Money, Healthy Life, Prudential Indonesia dan GreatNusa menggabungkan edukasi keuangan dengan literasi asuransi serta pemahaman teknologi digital. Format hybrid digunakan agar materi dapat disampaikan melalui sesi tatap muka sekaligus menjangkau peserta secara daring.
Rangkaian kegiatan berlangsung di lima wilayah, yakni Kendari, Pontianak, Blitar, Medan, dan Jakarta Utara. Lebih dari 2.100 peserta mengikuti program tersebut sepanjang Juni hingga Agustus 2026.
Materi yang diberikan tidak hanya membahas pengelolaan pemasukan dan pengeluaran. Peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai perencanaan keuangan jangka panjang, kebutuhan perlindungan finansial, serta cara memanfaatkan teknologi secara aman dan bertanggung jawab.
Pendekatan tersebut menempatkan literasi keuangan dalam konteks penggunaan layanan digital sehari-hari. Bagi masyarakat, keputusan finansial kini dapat bersinggungan dengan berbagai informasi yang diperoleh melalui platform digital, termasuk konten yang dibuat atau dibantu AI.
Karin Zulkarnaen, Chief Customer & Marketing Officer Prudential Indonesia, mengatakan perkembangan teknologi membuat literasi keuangan perlu mencakup kemampuan yang lebih luas daripada sekadar pengelolaan uang.
“Kemudahan akses terhadap layanan keuangan dan teknologi harus diikuti kemampuan untuk memahami manfaat, mengenali risiko, dan menilai informasi secara kritis. Karena itu, kami menghadirkan edukasi yang tidak berhenti pada pengetahuan dasar keuangan, tetapi juga membantu masyarakat memahami pentingnya perlindungan dan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab,” ujar Karin dalam keterangan Prudential Indonesia.
Menurut Karin, kolaborasi dengan GreatNusa diarahkan untuk memperluas akses edukasi sehingga masyarakat dapat memahami keputusan finansial berdasarkan kebutuhan dan tujuan masing-masing.
AI menambah kebutuhan literasi digital
Perkembangan AI membuat kemampuan memverifikasi informasi menjadi bagian penting dalam penggunaan teknologi.
Pemerintah menyebut adopsi AI di Indonesia telah berkembang ke berbagai sektor, mulai dari pertanian dan kesehatan hingga penggunaan komputasi awan untuk pemantauan proses produksi.
Dalam konteks keuangan, kemampuan tersebut berkaitan dengan cara masyarakat menerima dan mengevaluasi informasi sebelum mengambil keputusan.
Materi Smart Money, Healthy Life karena itu tidak hanya menghubungkan literasi keuangan dengan produk finansial, tetapi juga memasukkan pemahaman mengenai pemanfaatan teknologi digital.
Pendekatan ini relevan terutama bagi kelompok yang sudah memiliki akses terhadap layanan keuangan tetapi masih membutuhkan penguatan dari sisi pengetahuan.
Data SNLIK 2026 memperlihatkan kelompok usia 15–17 tahun memiliki indeks inklusi 89,13%, tetapi literasinya baru 56,04%.
Selisih tersebut menunjukkan bahwa akses terhadap layanan keuangan dan pemahaman mengenai cara menggunakan layanan tersebut merupakan dua aspek yang berbeda.
Secara nasional, hasil SNLIK 2026 menunjukkan indeks literasi keuangan 69,57% dan inklusi 93,61%. Angka tersebut meningkat dibandingkan SNLIK 2025 yang mencatat literasi 66,64% dan inklusi 92,74% berdasarkan cakupan komprehensif.
OJK, LPS, dan BPS juga menyatakan hasil 2026 telah melampaui target RPJMN 2025–2029 untuk 2029, yaitu literasi 69,35% dan inklusi 93%.
Pada sektor perasuransian, tantangannya masih terlihat dari hasil SNLIK 2025. Indeks literasi asuransi sebesar 45,45% berada di bawah indeks literasi keuangan nasional, sementara indeks inklusi asuransi tercatat 28,50%.
OJK menilai peningkatan literasi dan inklusi tetap diperlukan untuk memperkuat pemahaman masyarakat mengenai perlindungan risiko.
Prudential hadirkan Levela untuk pembelajaran mandiri
Selain program tatap muka dan daring, Prudential Indonesia juga memperkenalkan Levela, aplikasi edukasi keuangan gratis yang ditujukan untuk membantu masyarakat, khususnya generasi muda, belajar secara mandiri.
Levela menyediakan materi pembelajaran praktis mengenai berbagai aspek keuangan dalam format digital.
Kehadiran aplikasi tersebut melengkapi pendekatan edukasi Prudential Indonesia yang tidak hanya mengandalkan kegiatan langsung, tetapi juga menyediakan kanal pembelajaran yang dapat diakses secara lebih fleksibel.
Pengembangan edukasi berbasis digital juga sejalan dengan meningkatnya penggunaan internet dan AI di Indonesia.
Pemerintah mencatat jumlah pengguna internet Indonesia telah mencapai sekitar 235 juta orang dengan tingkat penetrasi sekitar 81% pada 2026.
Pada saat yang sama, sekitar 80% pengguna internet disebut telah menggunakan fitur AI dalam aktivitas sehari-hari.
Bagi Prudential Indonesia, kombinasi literasi finansial dan digital menjadi bagian dari upaya memperluas pemahaman masyarakat mengenai pengelolaan uang, risiko, dan perlindungan.
Program tersebut juga dikaitkan perusahaan dengan Gerakan Nasional Cerdas Keuangan (GENCARKAN) yang diinisiasi OJK.
Prudential Indonesia juga menyebut komitmen tersebut memperoleh pengakuan melalui Financial Literacy Awards 2026, dengan penghargaan sebagai Juara 3 PUJK dengan Program Literasi Keuangan Terbaik untuk kategori perusahaan perasuransian, penjaminan, dan dana pensiun, serta penghargaan sebagai perusahaan perasuransian, penjaminan, dan dana pensiun dengan Program Literasi Keuangan Teraktif.
Ke depan, Prudential Indonesia menyatakan akan melanjutkan kolaborasi dan memperluas akses terhadap edukasi yang menggabungkan pengelolaan keuangan, pemahaman perlindungan finansial, serta penggunaan teknologi secara aman.
Program Smart Money, Healthy Life dan Levela menjadi dua bentuk pendekatan yang digunakan perusahaan untuk memperluas pembelajaran tersebut di tengah meningkatnya akses layanan keuangan dan penggunaan teknologi AI di Indonesia.
Baca Juga: Kolaborasi Ovo dan Prudential Lahirkan Asuransi Syariah Prutect Care-Hospital Cash


