Selular.ID -

Bukan Sekadar Telko! Indosat Buka Suara Soal Tantangan AI & Regulasi Digital Indonesia

BACA JUGA

Selular.ID – Industri telekomunikasi Indonesia tengah mengalami pergeseran paradigma besar-besaran.

Tidak lagi sekadar menjadi penyedia konektivitas (Telko Company), pelaku industri kini dituntut bertransformasi menjadi perusahaan berbasis teknologi (TechCo).

Merespons tren ini, Vice President Head of Ecosystem Regulatory Affairs Indosat Ooredoo Hutchison (IOH), Machdi Fauzi, menegaskan bahwa fondasi infrastruktur yang kuat tidak akan optimal tanpa dukungan ekosistem regulasi yang kondusif.

“Infrastruktur memang berada di lapisan paling dasar (OSI layer) untuk memungkinkan aplikasi dan platform digital tumbuh. Namun, semua itu membutuhkan dukungan regulasi yang adaptif agar industri di bawahnya tetap sehat dan berkembang,” ujar Machdi.

Dilema Biaya Spektrum dan Pemerataan Jaringan

Meskipun menyambut baik langkah Komdigi (Kemenkominfo) merilis spektrum 700 MHz dan 2,6 GHz, Indosat menilai masih ada PR besar terkait keseimbangan regulasi.

Beban regulasi (regulatory incentive), terutama terkait biaya hak penggunaan (BHP) frekuensi atau spectrum fee pada frekuensi eksisting (seperti 900 MHz), dinilai masih cukup tinggi jika dibandingkan dengan manfaat cakupan yang dihasilkan.

Tonton juga:
Video Rekomendasi Untuk Anda

“Perlu ada evaluasi dan kolaborasi untuk rebalancing harga spektrum frekuensi eksisting agar seimbang dengan frekuensi baru,” ujar Machdi.

“Hal ini penting demi menjaga affordability dan mempercepat pemerataan kualitas layanan digital hingga ke pelosok pedesaan (rural),” sambungnya.

Baca juga:

Sinergi Infrastruktur & Era Baru AI

Selain spektrum, isu efisiensi infrastruktur melalui infrastructure sharing dan spectrum sharing juga menjadi sorotan.

Regulasi seperti PP No. 46 dan PM No. 5 Tahun 2021 sudah memayungi hal ini, namun implementasi teknis di lapangan masih kerap terhambat oleh pandangan lama terkait kepemilikan aset (asset ownership).

Padahal, menurut Machdi, era digital masa kini menuntut model bisnis yang lebih fleksibel, seperti halnya raksasa teknologi global yang berkembang pesat tanpa harus memiliki seluruh aset fisik.

Apalagi, pergeseran dari Telko ke TechCo menuntut investasi masif pada teknologi masa depan seperti Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT), dan layanan berbasis cloud.

Indosat sendiri telah menegaskan komitmennya selama beberapa tahun terakhir untuk menjadi pionir dalam mendorong penetrasi AI di Tanah Air.

“Konektivitas tetap menjadi fondasi utama, tetapi monetisasi terbesar di masa depan ada pada lapisan atas—seperti aplikasi, solusi digital, dan AI,” ungkap Machdi.

“Kolaborasi antara regulator dan operator adalah kunci utama agar ekosistem digital Indonesia bisa melompat lebih jauh,” pungkasnya.

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU