Selular.ID – Persoalan hukum yang membelit Roy Suryo kini memasuki babak baru. Tuduhan ijazah palsu terhadap mantan presiden Indonesia, Joko Widodo yang disuarakan oleh pakar telematika itu, bersama dengan sejumlah aktifis lainnya, termasuk dr. Tifa, mulai memasuki masa persidangan.
Namun berbeda dengan dr. Tifa yang sidangnya sudah berjalan sejak 2 Juli lalu, persidangan terhadap Roy Suryo masih belum terlaksana. Pasalnya, Roy Suryo tengah menggugat penangkapannya oleh kepolisian yang dinilai melanggar ketentuan.
Seperti diketahui, pasca penangkapannya pada akhir Juni lalu, Roy membawa kasus ini ke pengadilan. Dalam sidang pra peradilan yang saat ini masih berlangsung, Roy meminta pengadilan memutuskan bahwa penetapan dan penangkapan dirinya oleh kepolisian tidak sah. Sehingga dengan sendirinya batal demi hukum.
Seperti apa kelak keputusan hakim terhadap nasib Roy Suryo dan kawan-kawan? Tentunya, publik masih menunggu karena prosesnya masih berjalan.
Meski demikian, sebagai seorang public figure – sebagian orang mungkin menilai cukup kontroversial – Roy Suryo punya rekam jejak yang panjang.
Karirnya terbentang luas. Mulai dari akademisi, anggota DPR dua periode, hingga puncaknya pernah mengisi kursi Menpora di era pemerintahan Presiden SBY.
Jauh sebelum berkecimpung di dunia politik, Roy Suryo dikenal luas sebagai pengamat telekomunikasi dan telematika. Ia sering menganalisis keaslian foto, video, maupun rekaman suara dalam berbagai skandal.
Salah satu yang menyedot perhatian publik adalah saat ia terlibat sebagai saksi ahli dalam kasus video asusila yang melibatkan Ariel, vokalis Peterpan beberapa tahun lalu.
Baca Juga: Nokia dan Indosat Perluas 5G Indonesia dengan Integrasi AI
Dari sekian banyak bidang yang dimasukinya itu, satu fakta yang jarang yang terungkap adalah keterlibatan Roy Suryo bersama Nokia.
Untuk diketahui, saat Nokia masih menguasai pasar ponsel di Indonesia (sekitar 1999 – 2013), raksasa asal Finlandia itu kerap mengundang Roy Suryo, dalam sejumlah peluncuran produk terbaru, seperti varian Communicator.
Seperti diketahui, Nokia Communicator adalah ponsel multimedia legendaris. Menyasar kaum berduit, kelebihan utamanya Communicator adalah keyboard QWERTY fisik yang lengkap, layar lebar dan ganda, fitur GPS, serta fungsi kerja layaknya komputer mini.
Ponsel yang merupakan embrio dari smartphone yang sekarang ini berkembang luas, memiliki banyak kelebihan yang sulit ditandingi oleh para kompetitornya saat itu. Di antaranya bisa mengirim faks, email, dan mengetik dokumen dengan mudah saat bepergian.
Wajar jika Communicator popular di kalangan pebisnis yang membutuhkan ponsel tidak sekedar basic service (voice dan SMS).
Dengan desain unik, dan spesifikasi yang terbilang sangat maju di jamannya saat itu, tak heran jika Nokia Communicator yang memang didesain sebagai ponsel kelas premium, hanya dimiliki kalangan tertentu.
Memilikinya membuat seseorang terlihat seperti pebisnis hebat. Dengan harga sangat mahal, mencapai sekitar Rp 9 juta (varian 9200) dan sekitar Rp 15 juta (varian 9500), ponsel ini menjadi simbol status sosial yang tinggi.
Meski kerap diundang dalam berbagai acara yang dibesut oleh Nokia, namun menurut Usun Pringgodigdo, Roy Suryo tidak didapuk secara resmi sebagai KOL (Key Opinion Leader).
Usun yang saat itu menjabat sebaga Manager Pengembangan Bisnis Nokia, menyebutkan kehadiran Suryo membawa warna tersendiri.
Dengan gayanya yang khas, Usun menilai Roy Suryo mampu menjelaskan berbagai kelebihan yang diusung Nokia Communicator dengan bahasa sederhana kepada para audiens yang hadir dalam acara yang dibesut oleh Nokia.
Baca Juga: Nokia hingga TCL Hidupkan Lagi Tren Feature Phone Stylish 2026


