Selular.ID – SiteMinder, platform teknologi distribusi dan pemesanan untuk industri perhotelan, mengungkap bahwa adopsi teknologi berbasis data real-time menjadi faktor kunci di balik proyeksi pemulihan bisnis hotel di Indonesia pada September 2026.
Fifin Prapmasari, Country Manager SiteMinder Indonesia, menjelaskan sistem yang mampu mengintegrasikan data pemesanan dari berbagai kanal distribusi secara real time memungkinkan hotel membaca dari mana permintaan berasal.
Kapan permintaan itu muncul, dan segmen wisatawan mana yang paling responsif terhadap penawaran tertentu.
“Teknologi kini menjadi kebutuhan penting bagi industri perhotelan. Dengan teknologi yang tepat, hotel dapat memperoleh informasi pasar secara real time dan menyesuaikan strategi penjualan maupun distribusi kamar dengan lebih cepat ketika tren permintaan berubah,” kata Fifin.
Platform manajemen kanal (channel manager) dan mesin pemesanan (booking engine) berbasis cloud, seperti yang disediakan SiteMinder.
Memungkinkan hotel menyesuaikan harga kamar dan ketersediaan unit ke berbagai platform pemesanan online (OTA) secara serentak tanpa proses manual.
Kemampuan ini menjadi relevan terutama saat permintaan bergeser cepat antarmusim, seperti yang terlihat pada pola kunjungan wisatawan internasional ke Indonesia sepanjang Juni hingga September.
Dengan proyeksi pertumbuhan pemesanan pada September, laporan SiteMinder menunjukkan bahwa hotel-hotel yang mengadopsi sistem distribusi digital dan analitik data secara konsisten berada pada posisi lebih siap menangkap momentum pemulihan permintaan.
Arah kebijakan strategi harga dan distribusi kamar ke depan akan bergantung pada seberapa cepat pelaku industri perhotelan Indonesia mengintegrasikan data pasar.
Berdasarkan laporan SiteMinder’s Hotel Booking Trends yang dirilis pada Juni 2026, pemesanan hotel diperkirakan tumbuh 2,3% pada September dibandingkan periode yang sama tahun lalu, setelah sempat mengalami tren penurunan berturut-turut sejak Juni.
Data tersebut diolah dari platform SiteMinder yang memproses lebih dari 135 juta pemesanan hotel setiap tahun secara global, mencakup jaringan hotel di berbagai negara termasuk Indonesia.
bahwa perlambatan pemesanan hotel pada pertengahan tahun tidak sepenuhnya menggambarkan kondisi industri secara menyeluruh.
Fifin mengatakan, kondisi pertengahan tahun yang cenderung lebih tenang tidak sepenuhnya menggambarkan situasi industri perhotelan di Indonesia.
Di balik perlambatan tersebut, kami melihat permintaan dari wisatawan internasional tetap kuat, serta harga kamar dan lama menginap juga terus meningkat.
“Ini menunjukkan bahwa masyarakat tidak mengurangi aktivitas bepergian, melainkan menjadi lebih selektif dalam menentukan destinasi dan waktu perjalanan mereka,” ujar Fifin.
Sepanjang Juni hingga Agustus 2026, pemesanan hotel di Indonesia tercatat menurun masing-masing 4,5%, 4,6%, dan 5,8% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya, sehingga permintaan pertengahan tahun turun 3,9% secara agregat.
Meski demikian, kontribusi wisatawan mancanegara terhadap total pemesanan justru meningkat, dari 93,3% pada 2025 menjadi 94,1% pada 2026.
Capaian ini menempatkan Indonesia di posisi ketiga se-Asia dengan proporsi wisatawan internasional tertinggi, setelah Singapura (97%) dan Thailand (96,6%).
Peningkatan didorong oleh musim liburan panas di belahan bumi utara serta musim dingin di Australia yang bertepatan dengan periode Juni–September.
Di tengah pergeseran pola permintaan tersebut, harga kamar hotel turut mengalami kenaikan.
Rata-rata wisatawan membayar US$226 per malam, naik 2% dibandingkan tahun sebelumnya, dengan tarif tertinggi tercatat pada Juli senilai US$241 per malam.
Durasi menginap juga memanjang menjadi rata-rata 3,1 malam, meningkat 3% dari tahun lalu, dan menjadi yang terlama di Asia bersama Thailand.
Baca Juga:Penjahat Siber Kini Menargetkan Bisnis Perhotelan Serangan Melalui Email
Menurut Fifin, dinamika pasar yang cepat berubah ini menuntut pelaku industri perhotelan untuk mengandalkan teknologi sebagai instrumen pengambilan keputusan.



