Selular.ID – Pada Juni lalu, SpaceX menyelesaikan IPO terbesar dalam sejarah, mengumpulkan $75 miliar dengan harga $135 per saham dan segera mengubah sektor antariksa dan pasar secara lebih luas.
Sebelum melakukan IPO, perusahaan memberikan gambaran langka tentang kinerja keuangannya.
Pada kuartal pertama 2026, perusahaan mencatat pendapatan sebesar $4,7 miliar, naik 15,4% dibandingkan tahun sebelumnya.
Pada periode yang sama, perusahaan mencatat kerugian bersih sebesar $4,3 miliar, dibandingkan dengan $528 juta pada kuartal yang sama tahun sebelumnya.
Sementara sepanjang 2025, perusahaan menghasilkan pendapatan sebesar $18,7 miliar, naik 33%. Divisi Konektivitasnya, yang dipimpin oleh Starlink, merupakan pendorong pertumbuhan utama.
Pelanggan layanan ini meningkat dari 2,3 juta pada 2023 menjadi 4,4 juta pada 2024, dan melonjak hingga mencapai 8,9 juta pada 2025. Pada akhir kuartal pertama 2026, perusahaan memiliki 10,3 juta pelanggan, dengan pendapatan sebesar $3,3 miliar.
Angka terakhir ini naik 31,6%. Pendapatan untuk Konektivitas mencapai $11,4 miliar pada 2025, naik 50%, dengan pendapatan sebesar $4,4 miliar yang mewakili peningkatan 120%.
Neraca keuangan SpaceX menunjukkan aset senilai $102 miliar, yang mencakup roket dan peralatan lainnya. Namun utang bersihnya juga sangat besar, mencapai $60,5 miliar.
Baca Juga: Cara Membeli Saham SpaceX (SPCX) yang Melantai di Nasdaq
IPO SpaceX sukses besar karena investor bertaruh pada potensi dominasinya di masa depan, bukan pada kinerja keuangan atau semata pada keuntungan/kerugiannya saat ini.
Bagi investor, SpaceX bukan sekadar perusahaan antariksa biasa. Perusahaan ini mendominasi peluncuran komersial melalui Falcon 9, mengoperasikan jaringan satelit Starlink yang berkembang pesat, dan ingin membangun pusat data berbasis ruang angkasa.
Investor yang ingin mendapatkan eksposur ke ekonomi antariksa tetapi sebelumnya harus membeli alternatif kelas kedua tiba-tiba mendapatkan akses ke pemimpin pasar.
Hal itu menciptakan kekosongan likuiditas sementara. Uang mengalir keluar dari perusahaan antariksa yang lebih kecil dan masuk ke SpaceX.
Dengan berbagai gambaran tersebut, pada akhirnya investor bersedia mengabaikan kerugian yang dialami oleh SpaceX karena empat alasan utama:
-
Satu Pusat Keuntungan Raksasa Mendanai Sisanya
SpaceX beroperasi seperti tiga perusahaan dalam satu. Bisnis internet satelitnya, Starlink, sangat menguntungkan. Uang yang dihasilkan di sana membayar eksperimen roketnya yang merugi (Starship) dan AI, serta pusat data luar angkasa.
-
Analogi “Amazon 1997”
Seperti Amazon di masa-masa awalnya, SpaceX menghabiskan banyak uang untuk membangun infrastruktur global yang besar.
Investor percaya bahwa setelah jaringan luar angkasa yang mahal ini dibangun, akan sulit bagi pesaing untuk mengejar ketinggalan, yang akan menghasilkan keuntungan besar di kemudian hari.
-
Monopoli Besar di Luar Angkasa
SpaceX mengendalikan roket termurah dan paling andal di dunia. Pemerintah dan perusahaan teknologi besar bergantung padanya untuk meluncurkan satelit dan muatan militer, memastikan kontrak pemerintah yang stabil dan jangka panjang.
-
Kekuatan Penggemar
Berbeda dengan CEO perusahaan teknologi lainnya, Elon Musk lebih dari sekedar selebritis. CEO SpaceX itu, memiliki basis penggemar yang setia. Dia sengaja menawarkan sebagian besar saham IPO langsung kepada penggemar biasa dan investor ritel. Hal ini menciptakan permintaan pembelian yang sangat besar dan emosional pada hari pertama.
Baca Juga: Tak Hanya Elon Musk, Banyak yang Ketiban Untung Dari IPO SpaceX



