Tuesday, 3 March 2026
Selular.ID -

Teknologi AI Anthropic Digunakan Militer AS dalam Operasi Serangan ke Iran

BACA JUGA

Selular.ID – Militer Amerika Serikat dilaporkan memanfaatkan sistem artificial intelligence (AI) buatan Anthropic, yakni model Claude, untuk mendukung operasi militer terhadap Iran.

Penggunaan teknologi tersebut terjadi di tengah kebijakan pemerintah AS yang baru saja memerintahkan penghentian pemakaian AI Anthropic oleh lembaga federal.

Informasi ini pertama kali diungkap oleh The Wall Street Journal berdasarkan sumber militer dan pihak yang mengetahui perencanaan operasi.

Dalam laporan tersebut, Claude disebut digunakan sebagai sistem pendukung analisis, bukan sebagai pengendali senjata atau pengambil keputusan akhir di lapangan.

Menurut sumber yang sama, unit militer AS di bawah komando United States Central Command (CENTCOM) memanfaatkan Claude untuk membantu pemrosesan data intelijen, identifikasi pola target, serta simulasi awal berbagai skenario operasional.

Seluruh keputusan taktis dan eksekusi tetap berada pada rantai komando militer.

Operasi yang dimaksud berlangsung pada Sabtu (28/2) dan melibatkan serangan udara terhadap sejumlah fasilitas militer strategis di Iran.

Baca Juga: Aplikasi Tak Terkenal Tiba-tiba Jadi Nomor Satu

Hingga kini, pemerintah AS belum merilis pernyataan resmi yang merinci pemanfaatan AI dalam operasi tersebut, namun juga tidak membantah laporan media internasional terkait penggunaan sistem analitik berbasis AI.

Sorotan terhadap penggunaan Claude muncul karena hanya sehari sebelumnya, Donald Trump menginstruksikan seluruh lembaga federal untuk menghentikan penggunaan teknologi AI Anthropic.

Instruksi tersebut disampaikan dengan alasan kekhawatiran terhadap risiko rantai pasok dan perbedaan pandangan terkait pembatasan penggunaan AI.

Meski demikian, sistem Claude telah terintegrasi dalam sejumlah platform intelijen militer jauh sebelum kebijakan penghentian diumumkan.

Departemen Pertahanan AS disebut memberikan masa transisi hingga enam bulan untuk penghentian bertahap, guna menjaga kontinuitas sistem analitik yang telah berjalan.

Pelibatan Claude dalam konteks militer bukan pertama kali dilaporkan. Militer AS sebelumnya juga menggunakan sistem AI tersebut saat operasi untuk menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada Januari lalu.

Dalam kasus-kasus tersebut, peran AI dibatasi sebagai alat bantu analisis data berskala besar dan pendukung pengambilan keputusan.

Anthropic sendiri, di bawah kepemimpinan Dario Amodei, secara terbuka menyatakan pendekatan kehati-hatian terhadap penggunaan AI dalam konteks militer ofensif.

Perusahaan menegaskan pembatasan internal tetap berlaku, termasuk penolakan terhadap akses tanpa batas untuk penggunaan yang dinilai berisiko tinggi.

Seiring kebijakan tersebut, pemerintah AS juga memperluas kerja sama dengan pengembang AI lain, termasuk OpenAI, untuk memastikan ketersediaan teknologi analitik yang sesuai dengan kebutuhan pertahanan dan intelijen nasional.

Kasus ini mencerminkan semakin luasnya adopsi AI komersial dalam sistem keamanan negara, sekaligus menyoroti tantangan tata kelola ketika teknologi sipil digunakan dalam konteks berisiko tinggi.

Pemerintah AS hingga kini masih menyusun kerangka regulasi lanjutan terkait pemanfaatan AI di sektor pertahanan.

Baca Juga: Anthropic Tuduh DeepSeek Curi Kemampuan Claude untuk Latih Model Sendiri

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU