Wednesday, 4 March 2026
Selular.ID -

Harga Smartphone Baru Melambung, Pedagang Ponsel Second Panen Raya

BACA JUGA

Uday Rayana
Uday Rayana
Editor in Chief

Selular.ID – Keterbatasan chip imbas ledakan AI yang mendorong pemanfaatan yang massif terutama untuk fasilitas data center, mulai memukul pasar ponsel di Indonesia.

Brand utama seperti Samsung, Apple, Vivo, Oppo, dan Xiaomi mulai terdampak, dengan potensi kenaikan harga, terutama segmen flagship mencapai 10%.

Kenaikan ini juga memengaruhi Transsion Group (Itel, Tecno, Infinix) yang merupakan penguasa kelas entry-level dan mid-range.

Faktanya, memasuki Januari 2026, sejumlah brand smartphone terpantau telah menaikkan harga. Kebijakan yang kurang popular di mata konsumen itu, terpaksa dilakukan demi mengimbangi kenaikan berbagai komponen RAM yang melonjak hingga 50% pada tahun ini.

Salah satu jenama smartphone terkemuka yang secara bertahap mulai menerapkan kenaikan harga adalah Xiaomi.

Vendor smartphone yang berbasis di Shenzhen, China itu, terpantau merevisi harga jual Xiaomi 15T dan 15T Pro di pasaran, kenaikannya pun terbilang lumayan.

Berdasarkan pantauan Selular di situs resmi Xiaomi Indonesia maupun gerai rekanan seperti Erafone pada Selasa (6/1/2025), kenaikan harganya bervariasi mulai Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta.

Lonjakan harga paling terasa ada pada varian terendah, yaitu Xiaomi 15T 12/256 GB. Padahal saat pertama kali meluncur pada 30 September 2025 lalu, smartphone yang menyasar kelompok high end ini hanya dibanderol Rp 6.499.000. Namun kini, harga varian tersebut telah melonjak menjadi Rp 7.499.000.

Begitu pula dengan Xiaomi 15T Pro untuk varian 12/512 GB yang naik dari Rp9.999.000 menjadi Rp10.499.000. Untuk Xiaomi 15T Pro varian tertinggi 12 GB/1 TB yang terpantau di situs resmi Erafone, kini dibanderol Rp 11.499.000 dari harga awal Rp 10.999.000.

Seperti halnya Xiaomi, Vivo juga harus menyesuaikan banderol yang mencerminkan kondisi ekonomi saat ini. Namun Vivo terlihat hanya memfokuskan langkahnya di lini Y series.

Tengok saja Model Vivo Y21D. Varian paling dasar yang dulu berada di kisaran dua jutaan kini mendekati dua setengah juta rupiah. Varian tertinggi bahkan menembus tiga juta lebih.

Selain Y21D, Vivo Y04s juga mengalami kenaikan meski dalam skala lebih kecil. Model ini awalnya dilepas di kisaran satu koma empat juta dan kini naik sekitar seratus lima puluh ribu rupiah.

Selain langsung membandrol dengan harga baru, Vivo juga menambah opsi memori lebih besar yang otomatis membawa harga lebih tinggi.

Sementara itu, segmen mid range dan premium yang diwakili oleh lini V series dan X series relatif stabil sehingga konsumen di kelas ini tidak terlalu merasakan dampaknya.

Baca Juga: IDC: Pasar Smartphone 2026 Turun 12,9% Karena Krisis Chip Memori

Penjualan Ponsel Baru Melambat

Dampak kenaikan RAM yang memicu kenaikan harga ponsel, mulai tercermin di sejumlah pusat-pusat belanja ponsel terkemuka di Jakarta.

Tengok saja aktivitas penjualan ponsel baru dipusat penjualan Hp di ITC Roxy Mas dan Roxy Square Jakarta Pusat yang terpantau melambat selama Ramadan 2026.

Sejumlah pedagang menyebut konsumen cenderung menahan belanja perangkat baru dan beralih ke ponsel bekas dengan harga lebih terjangkau, terutama di kisaran Rp500 ribuan.

Maul, Karyawan Master Cell di Roxy Square Jakarta Pusat, mengatakan permintaan ponsel baru turun dibanding periode sebelum Ramadan.

Namun di saat yang sama, penjualan ponsel second justru meningkat.

“Yang paling laris sekarang harga Rp500 ribuan. Konsumen cari yang m2urah dulu,” ujar Maul saat ditemui Selular.ID 26/2/2026.

Ia menjelaskan, model lama seperti perangkat Xiaomi generasi sebelumnya dan Oppo A3s masih diminati karena harga terjangkau dan ketersediaan unit cukup banyak.

Untuk kategori ponsel bekas, kenaikan harga disebut masih dalam batas wajar, berkisar Rp200 ribu hingga Rp300 ribu, tergantung kondisi fisik, kesehatan bateraiserta kelengkapan aksesori.

Linda, karyawan Kautzar ITC Roxy Mas Jakarta Pusat, menambahkan seri Samsung seperti A07 banyak dicari, juga Poco C71 masih dicari pembeli.

Sementara untuk harga, seri-seri ponsel yang dicari pembeli harganya memang masih baik. Kendati sudah dirilis cukup lama, dan sudah ada yang seri terbarunnya harganya masih bagus.

“Hp second di harga Rp1 hingga Rp3 juta memang masih dominan penjuannya,”tutur Linda.

Kondisi Ramadan dinilai memengaruhi pola belanja konsumen. Sejumlah pedagang menyebut prioritas pengeluaran masyarakat bergeser ke kebutuhan pokok dan persiapan Idulfitri.

Hal ini berdampak langsung pada penjualan ponsel baru, khususnya di segmen entry-level dan menengah dengan rentang harga Rp2 juta hingga Rp3 juta yang sebelumnya menjadi penopang volume penjualan.

Segmen ponsel second menunjukkan karakter pasar yang berbeda. Harga unit second lebih fleksibel karena dipengaruhi kondisi barang dan negosiasi langsung antara penjual dan pembeli.

Pedagang menyebut stok ponsel bekas relatif stabil karena bersumber dari tukar tambah (trade-in) dan penjualan perorangan.

Baca Juga: Panduan Membeli Ponsel Bekas di Online Maupun Offline

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU