Selular.ID – Keterbatasan chip imbas ledakan AI yang mendorong pemanfaatan yang massif terutama untuk fasilitas data center, mulai memukul pasar ponsel di Indonesia.
Brand utama seperti Samsung, Apple, Vivo, Oppo, dan Xiaomi mulai terdampak, dengan potensi kenaikan harga, terutama segmen flagship mencapai 10%.
Kenaikan ini juga memengaruhi Transsion Group (Itel, Tecno, Infinix) yang merupakan penguasa kelas entry-level dan mid-range.
Faktanya, memasuki Januari 2026, sejumlah brand smartphone terpantau telah menaikkan harga. Kebijakan yang kurang popular di mata konsumen itu, terpaksa dilakukan demi mengimbangi kenaikan berbagai komponen RAM yang melonjak hingga 50% pada tahun ini.
Salah satu jenama smartphone terkemuka yang secara bertahap mulai menerapkan kenaikan harga adalah Xiaomi.
Vendor smartphone yang berbasis di Shenzhen, China itu, terpantau merevisi harga jual Xiaomi 15T dan 15T Pro di pasaran, kenaikannya pun terbilang lumayan.
Berdasarkan pantauan Selular di situs resmi Xiaomi ZIndonesia maupun gerai rekanan seperti Erafone pada Selasa (6/1/2025), kenaikan harganya bervariasi mulai Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta.
Lonjakan harga paling terasa ada pada varian terendah, yaitu Xiaomi 15T 12/256 GB. Padahal saat pertama kali meluncur pada 30 September 2025 lalu, smartphone yang menyasar kelompok high end ini hanya dibanderol Rp 6.499.000. Namun kini, harga varian tersebut telah melonjak menjadi Rp 7.499.000.
Begitu pula dengan Xiaomi 15T Pro untuk varian 12/512 GB yang naik dari Rp9.999.000 menjadi Rp10.499.000. Untuk Xiaomi 15T Pro varian tertinggi 12 GB/1 TB yang terpantau di situs resmi Erafone, kini dibanderol Rp 11.499.000 dari harga awal Rp 10.999.000.
Seperti halnya Xiaomi, Vivo juga harus menyesuaikan banderol yang mencerminkan kondisi ekonomi saat ini. Namun Vivo terlihat hanya memfokuskan langkahnya di lini Y series.
Tengok saja Model Vivo Y21D. Varian paling dasar yang dulu berada di kisaran dua jutaan kini mendekati dua setengah juta rupiah. Varian tertinggi bahkan menembus tiga juta lebih.
Selain Y21D, Vivo Y04s juga mengalami kenaikan meski dalam skala lebih kecil. Model ini awalnya dilepas di kisaran satu koma empat juta dan kini naik sekitar seratus lima puluh ribu rupiah.
Selain langsung membandrol dengan harga baru, Vivo juga menambah opsi memori lebih besar yang otomatis membawa harga lebih tinggi.
Sementara itu, segmen mid range dan premium yang diwakili oleh lini V series dan X series relatif stabil sehingga konsumen di kelas ini tidak terlalu merasakan dampaknya.
Baca Juga: IDC: Pasar Smartphone 2026 Turun 12,9% Karena Krisis Chip Memori
Beli Ponsel Second Bukan Semata Harga Lebih Terjangkau
Kenaikan harga komponen memori (RAM) hingga 50% pada 2026 telah memicu lonjakan harga smartphone baru, yang secara signifikan menguntungkan pasar ponsel bekas.
Konsumen kini lebih memilih perangkat seken untuk menghindari harga baru yang mahal.
Kondisi ini dipastikan bakal meningkatkan permintaan, membuat harganya lebih stabil, bahkan berpotensi naik untuk model tertentu. Lonjakan permintaan jelas akan menguntungkan para pedagang ponsel bekas.
Bagi konsumen, selain pertimbangan harga yang tidak bikin dompet nangis, pilihan membeli ponsel bekas juga didasari sejumlah faktor lain. Seperti pilihan yang lebih beragam, dan teknologi yang tidak ketinggalan.
Jika konsumen kebetulan adalah orang yang peduli dengan lingkungan, membeli ponsel bekas juga merupakan bagian dari gaya hidup yang mendukung kelestarian lingkungan, karena bisa mengurangi limbah elektronik.
Meski demikian, pilihan membeli ponsel bekas perlu dibarengi dengan kehati-hatian. Pasalnya, jamak ditemukan konsumen yang kecewa karena ponsel bekas yang dibelinya tidak sesuai dengan kualitas atau kondisi yang digembar-gemborkan.
Di sini, kata-kata populer “Teliti Sebelum Membeli” bukan sekedar slogan semata. Supaya tidak nangis Bombay gara-gara tertipu dalam membeli ponsel bekas, wajib hukumnya bagi konsumen untuk lebih teliti.
Hal utama yang harus diperiksa adalah nomor IMEI (pastikan terdaftar di Kemenperin), kondisi fisik secara keseluruhan (layar, bodi, kamera), fungsi tombol dan port, serta performa baterai.
Pastikan penjual tepercaya (lebih bagus dari tangan pertama), lengkapi transaksi dengan nota, dan hindari ponsel bekas yang sudah terlalu tua atau sering diservis.
Baca Juga: Panduan Membeli Ponsel Bekas di Online Maupun Offline



