Selular.ID – Aplikasi kripto, melalui produk Pintu Futures memperketat manajemen risiko trading derivatif kripto dengan menghadirkan lima fitur unggulan, di tengah tekanan harga pasar aset digital pada Februari 2026.
Langkah ini diumumkan baru-baru ini saat harga Bitcoin (BTC) tercatat berada di kisaran USD 68.000 setelah sebelumnya sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di sekitar USD 126.210 pada Oktober 2025.
Kondisi pasar yang bergejolak membuat instrumen derivatif kripto kembali menjadi alternatif bagi sebagian trader.
Melalui skema derivatif, pelaku pasar dapat mengambil posisi long ketika memperkirakan harga naik, atau short saat memproyeksikan harga turun.
Namun, volatilitas tinggi juga meningkatkan risiko likuidasi, terutama bagi pengguna leverage.
Iskandar Mohammad, Head of Product Marketing PINTU mengatakan bahwa pengembangan fitur di Pintu Futures difokuskan pada pengendalian risiko, bukan sekadar mengejar potensi imbal hasil.
Menurut dia, sepanjang 2025 perusahaan terus menghadirkan pembaruan fitur untuk membantu pengguna mengelola eksposur risiko secara lebih terukur.
Produk trading derivatif kripto milik Pintu tersebut telah terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), seiring peralihan pengawasan aset kripto ke otoritas tersebut.
Pintu Futures menyediakan fitur Take Profit dan Stop Loss yang memungkinkan trader mengatur target keuntungan dan batas kerugian secara otomatis.
“Dengan mekanisme ini, sistem akan menutup posisi ketika harga menyentuh level yang telah ditentukan sebelumnya,”ujar Iskandar.
Fitur ini umum digunakan dalam perdagangan derivatif untuk membatasi potensi kerugian akibat pergerakan harga ekstrem.
Selain itu, tersedia Adjustable Leverage hingga 25x. Leverage merupakan fasilitas yang memungkinkan trader membuka posisi lebih besar dari modal awal dengan menggunakan dana pinjaman.
Di Pintu Futures, pengguna dapat menyesuaikan leverage mulai dari 1x hingga 25x, sesuai strategi dan profil risiko masing-masing.
Semakin tinggi leverage, potensi keuntungan meningkat, namun risiko likuidasi juga bertambah besar.
Fitur ketiga adalah Price Protection, yang dirancang untuk meminimalkan slippage atau selisih harga eksekusi akibat volatilitas tajam.
Pengguna dapat mengatur toleransi pergerakan harga, misalnya 0,2 persen, 1 persen, atau 2,5 persen.
Jika pergerakan melebihi ambang tersebut, sistem akan membatasi eksekusi agar tidak terjadi transaksi di harga yang terlalu jauh dari ekspektasi.
Pintu Futures juga menghadirkan Initial Margin (IM) Buffer. Fitur ini memungkinkan trader menambahkan margin cadangan pada posisi yang sudah terbuka sehingga memperpanjang jarak menuju titik likuidasi.
Dalam perdagangan derivatif, likuidasi terjadi ketika nilai jaminan tidak lagi mencukupi untuk menahan kerugian akibat pergerakan harga.
Fitur kelima adalah Stop Order, yang memungkinkan trader menempatkan order otomatis saat harga mencapai level tertentu berdasarkan analisis teknikal.
Dengan pendekatan ini, pengguna tidak harus memantau pasar secara terus-menerus untuk mengeksekusi strategi masuk atau keluar dari pasar.
Data dari Coinglass menunjukkan bahwa saat harga Bitcoin turun ke level USD 60.000 pada 6 Februari 2026, pasar crypto mengalami likuidasi sebesar USD 4,85 miliar.
Pada periode yang sama, indeks fear & greed tercatat turun ke level 6, menjadi salah satu titik terendah pada awal 2026. Data tersebut mencerminkan tekanan signifikan di pasar derivatif dan tingginya risiko akibat penggunaan leverage.
Dalam pernyataannya, Iskandar menegaskan bahwa derivatif kripto termasuk kategori high risk high return.
Karena itu, selain memanfaatkan fitur manajemen risiko, pengguna juga didorong untuk memahami kondisi pasar dan memperdalam literasi melalui kanal edukasi perusahaan, seperti Pintu Academy dan Pintu News.
Strategi Pintu memperkuat fitur pengendalian risiko di Pintu Futures sejalan dengan dinamika pasar yang semakin fluktuatif dan pengawasan regulator yang semakin ketat.
Baca Juga:Pintu Imbau Unduh Aplikasi Hanya Lewat Google Play
Dengan kombinasi fitur teknis dan edukasi, perusahaan menempatkan manajemen risiko sebagai fondasi dalam pengembangan layanan derivatif kripto di Indonesia.





