Jalan Berliku Borje Ekholm Mengembalikan Bandul Kejayaan Ericsson

Selular.ID – Pada akhir Agustus 2019, media terkemuka Swedia Dagens Industry, melaporkan bahwa CEO Ericsson Borje Ekholm akan digantikan oleh CEO Saab, Hakan Buskhe dalam waktu enam bulan.

Investor AB tampaknya memainkan peran besar dalam rencana pergantian. Investor AB adalah perusahaan investasi Swedia yang telah berdiri sejak 1916.

Menurut laporan Reuters, grup perusahaan ini merupakan pemegang saham terbesar di Ericsson dan Saab, masing-masing 23% dan hampir 40%.

Sumber anonim untuk Dagens Industry mengatakan, “Borje telah membawa Ericsson keluar dari krisis dan melakukannya dengan baik. Sekarang seseorang perlu masuk dan memindahkan semuanya.”

Mengomentari rumor tentang kepergian Ekholm, juru bicara Ericsson saat itu mengatakan, “Tim eksekutif sepenuhnya fokus pada penerapan strategi fokus kami dan membangun Ericsson yang lebih kuat dalam jangka panjang. Ericsson menolak mengomentari rumor dan spekulasi.”

Faktanya, rencana pergantian kekuasaan dari Borje Ekholm ke Hakan Buskhe, hingga hari ini tak pernah terjadi.

Tampaknya sejauh ini, Investor AB sebagai pemegang saham utama Ericsson, masih mempercayai Ekholm sebagai nahkoda, meski kinerja Ericsson saat ini masih terbilang turun naik.

Untuk diketahui, Börje Ekholm menjabat sebagai Presiden dan CEO Ericsson Group, sejak 16 Januari 2017. Sebelumnya Ekholm adalah CEO Patricia Industries, sebuah divisi di dalam Investor AB. Sepanjang 2005 – 2015, Ekholm adalah Presiden dan CEO Investor AB.

Jabatan lainnya termasuk Kepala Investasi Baru dan Presiden Investor Growth Capital. Ekholm juga pernah menjabat berbagai posisi di Novare Kapital AB dan McKinsey & Co Inc.

Börje Ekholm meraih gelar Master of Science in Electrical Engineering dari KTH Royal Institute of Technology, Stockholm, Swedia, serta Master of Business Administration, dari INSEAD, Prancis.

Kompetisi yang Keras Membuat Ericsson Menelan Kerugian Besar

FILE PHOTO: Ericsson Chief Executive Officer Borje Ekholm holds a news conference during the Mobile World Congress in Barcelona, Spain February 26, 2018. REUTERS/Yves Herman/File Photo

Borje Ekholm didaulat sebagai CEO Ericsson setelah pencopotan Hans Vestberg pada Juli 2016. Di era kepemimpinan Hans Vestberg, Ericsson terjebak ke dalam masa-masa sulit.

Ericsson susah payah bertahan di tengah perlambatan permintaan dan ketatnya persaingan yang berdampak pada penurunan kinerja.

Untuk pertama kalinya, vendor yang bermarkas di distrik Kista – Stockhom itu, melaporkan kerugian besar karena persaingan dengan vendor jaringan lainnya, restrukturisasi biaya, serta besarnya investasi dalam teknologi 5G. Kombinasi ketiga faktor itu, dengan cepat mendorong Ericsson ke dalam zona merah.

Tercatat, raksasa telekomunikasi itu, membukukan rugi bersih 35,1 miliar kronor (3,6 miliar euro, $4,4 miliar) pada 2017, dibandingkan dengan laba 1,9 miliar kronor tahun sebelumnya.

Grup tersebut juga membukukan kerugian pokok atau operasional sebesar 38,1 miliar kronor (SEK) pada 2017 setelah laba 6,3 miliar kronor pada 2016, sementara pendapatan turun 10 persen menjadi 201,3 miliar kronor.

Mewarisi kinerja yang babak belur, Borje Ekholm bergerak cepat. Berbagai inisiatif strategis diluncurkan, terutama program yang berfokus pada R & D dan pengurangan biaya.

Tak ada pilihan, Ekholm harus menggencarkan program restrukturisasi, dalam upaya untuk menghidupkan kembali kejayaan perusahaan.

Ia menempatkan fokus membangun 5G, sebagai langkah strategis agar bisa bersaing dengan vendor China yang makin menggurita.

Namun, hal itu dibarengi dengan biaya restrukturisasi sebesar SEK2.8 miliar selama kuartal 3-2017, termasuk biaya SEK1.6 miliar terkait keputusan untuk menutup pusat ICT di Kanada.

Perusahaan juga terpaksa melakukan pemangkasan lanjutan terhadap 3000 karyawan, dengan alokasi dana kompensasi hingga SEK4 miliar.

Berbagai langkah penghematan termasuk melakukan PHK terhadap ribuan karyawan, ditargetkan mencapai 9 miliar kronor atau setara 1,05 miliar dollar AS per tahun.

Langkah restrukrturisasi yang dilakukan Ericsson pada akhirnya tak sia-sia. Pemangkasan biaya secara signifikan, membantu perusahaan mengubah kerugian menjadi laba pada Q3-2018.

Dalam periode itu, perusahaan mencetak laba bersih sebesar SEK2,7 miliar (US$ 301 juta), dibandingkan dengan kerugian SEK3,5 miliar pada kuartal yang sama 2017.

Total pendapatan tercatat naik 9 persen tahun-ke-tahun menjadi SEK53.8 miliar. Penjualan yang disesuaikan di divisi jaringannya juga naik 5 persen tahun ke tahun.

Halaman berikutnya

Ericsson Klaim Kuasai 39% Pangsa Pasar 5G Global