Beranda News Policy Mengejutkan, AS Siap Bubarkan Google Karena Langgar UU Persaingan Usaha

Mengejutkan, AS Siap Bubarkan Google Karena Langgar UU Persaingan Usaha

-

Jakarta, Selular.ID – Bola panas terus menghantam Google. Pemerintah AS resmi melayangkan gugatan kepada rakasasa mesin pencari itu pada Selasa (20/10/2020). Otoritas setempat menuduh perusahaan senilai $ 1 triliun itu secara ilegal menggunakan kekuatan pasarnya untuk membuat saingannya pincang. 

Gugatan yang dilayangkan pemerintah AS ini menjadi babak baru, sekaligus menandai tantangan terbesar terhadap kekuatan dan pengaruh Big Tech dalam beberapa dekade.

Seperti dilaporkan Reuters, gugatan Departemen Kehakiman dapat mengarah pada pembubaran sebuah perusahaan ikonik yang hampir identik dengan internet dan mengambil peran sentral dalam kehidupan sehari-hari miliaran orang di seluruh dunia. Namun proses pembubaran masih belum dapat dipastikan. Penyelesaian dari kasus tersebut kemungkinan akan membutuhkan waktu bertahun-tahun.

Meski demikian, gugatan terhadap Google menandai pertama kalinya AS menindak perusahaan teknologi besar sejak menggugat Microsoft karena praktik anti-persaingan pada 1998. Namun saat itu keputusan yang diambil membuat perusahaan tetap utuh. Sebelumnya pemerintah AS telah menyelidiki kasus sejenis yang melibatkan Big Tech, yakni kasus 1974 melawan AT&T – berujung pada pemecahan AT&T dan jaringannya, Sistem Bell, menjadi tujuh operator regional, Baby Bells. 

AT&T mempertahankan layanan jarak jauhnya, bersama dengan Bell Telephone Laboratories, cabang penelitian legendarisnya, dan Western Electric, anak perusahaan manufakturnya. Sejak saat itu, perusahaan mengalami banyak pasang surut. Memulai bisnis baru, memisahkan divisi, mengakuisisi, hingga menjual perusahaan. Tapi pada akhirnya menyerah. Sekarang AT&T hilang.

Keluhan pemerintah federal terhadap Alphabet yang merupakan induk Google, tak berbeda jauh dengan tuduhan yang sudah dialamatkan pada perusahaan sejauh ini. 

Departemen Kehakiman menuduh bahwa Google bertindak melawan hukum untuk mempertahankan posisinya dalam pencarian dan iklan pencarian di internet. Hingga saat ini, gugatan yang dilemparkan kepada Google sudah diikuti oleh 11 negara bagian. 

“Tanpa perintah pengadilan, Google akan terus menjalankan strategi antikompetitifnya, melumpuhkan proses persaingan, mengurangi pilihan konsumen, dan menghentikan inovasi,” gugatan tersebut menyatakan.

Pemerintah mengatakan Google memiliki hampir 90% dari semua permintaan mesin pencari umum di Amerika Serikat dan hampir 95% pencarian di layanan selular.

Jaksa Agung Bill Barr mengatakan para penyelidiknya telah menemukan Google tidak bersaing dalam kualitas hasil pencariannya, melainkan membeli kesuksesannya melalui pembayaran kepada pembuat ponsel dan lainnya.

“Hasil akhirnya adalah tidak ada yang dapat dengan mudah menantang dominasi Google dalam penelusuran dan periklanan penelusuran,” kata Barr.

Ketika ditanya melalui telepon konferensi apakah departemen sedang mencari perpisahan atau solusi lain, Ryan Shores, seorang pejabat Departemen Kehakiman, berkata, “Tidak ada yang salah, tetapi pertanyaan tentang perbaikan sebaiknya ditangani oleh pengadilan setelah ada kesempatan untuk mendengar semua bukti. “

Dalam keluhannya, Departemen Kehakiman mengatakan bahwa orang Amerika disakiti oleh tindakan Google. Dalam “permintaan bantuan,” katanya mencari “bantuan struktural yang diperlukan untuk menyembuhkan bahaya anti-persaingan.” “Bantuan struktural” dalam masalah antitrust umumnya berarti penjualan aset.

“Pada akhirnya, konsumen dan pengiklan yang menderita karena pilihan yang lebih sedikit, inovasi yang lebih sedikit, dan harga iklan yang kurang kompetitif,” gugatan tersebut menyatakan. 

“Jadi kami meminta pengadilan untuk memutuskan cengkeraman Google pada distribusi penelusuran sehingga persaingan dan inovasi dapat berlangsung.”

Sekedar diketahui, Departemen Kehakiman AS dilaporkan mulai menyelidiki praktik kecurangan yang dilakukan Google pada 2019. 

Google sendiri terus menghadapi kasus serupa di banyak negara. Raksasa internet yang berbasis di Mountain View (California) itu, didenda € 2,4 miliar denda pada 2017 dan € 4,3 miliar denda pada 2018 oleh Komisi Eropa karena melanggar undang-undang persaingan. Tuduhan yang sama kini dihadapi Google di Korea Selatan dan India. 

Buyer's Guide

Samsung Galaxy A21s Kini Tampil dengan Warna dan Memori...

Jakarta, Selular.ID - Samsung Indonesia kembali menghadirkan varian baru dari Galaxy A21s. Perangkat lini...

7 Smartphone Xiaomi dengan Fast Charging Hingga 65W

Jakarta, Selular.ID – Bulan lalu kami menghadirkan panduan belanja tujuh smartphone Xiaomi dengan fitur...

5 Smartphone Oppo dengan Quad Camera Terbaik

Jakarta, Selular.ID -   Kamera kini menjadi salah satu fitur penting dalam memilih sebuah smartphone....

Smartphone Refresh Rate 90Hz Harga Rp2 Jutaan

Jakarta, Selular.ID - Bagi penggemar game mobile, teknologi refresh rate sangat diperlukan supaya bisa...

Xiaomi Redmi 9 Lunar Gold Meluncur di Indonesia

Jakarta, Selular.ID - Xiaomi kembali merilis anggota baru dari jajaran Redmi 9 Series. Perangkat...

Oppo Reno4 Pro Banting Harga

Jakarta, Selular.ID - Memasuki bulan November, dua ponsel Oppo mendapat penyesuaian harga. Baru diluncurkan...

Artikel Terbaru

Kategori Terkait