Beranda News Kurangnya Strategi Keamanan, Perusahaan Jadi Target Serangan Siber

Kurangnya Strategi Keamanan, Perusahaan Jadi Target Serangan Siber

-

IMG_20171123_140719

Jakarta, Selular.ID – Serangan siber saat ini sangat bervariasi. Kebanyakan penjahat siber lebih memilih perusahaan yang minim perlindungan atau sama sekali tidak memillki perlindungan, dengan cara menyerang secara bersamaan.

Hal itu dikatakan Dony Koesmandarin Territory Channel manager  Indonesia, menurut dia, saat ini, semakin banyak perusahaan di Indonesia yang terus memobilisasi proses bisnis inti mereka melalui berbagai aplikasi dan layanan terkait, baik di PC ataupun mobile.

“Pertumbuhan tersebut juga dibarengi dengan aksi kejahatan siber terhadap aplikasi di perangkat mobile yang semakin luas dan sama berbahayanya seperti ancaman siber di laptop dan komputer tablet bagi pengguna dalam beberapa tahun terakhir ini,”ujar Dony di Jakarta (23/11/17).

Dikatakan Dony dalam jangka waktu beberapa bulan, aksi kejahatan siber berskala besar, termasuk serangan ransomware WannaCry dan ExPetr mengguncang perusahaan di seluruh dunia dan menegaskan kebutuhan untuk mengamankan aset penting seperti aplikasi milik perusahaan serta mencegah hilangnya data pengguna.

Penelitian yang dilakukan Kaspersky Lab mengungkapkan bahwa serangan yang ditargetkan menjadi salah satu ancaman siber dengan pertumbuhan tercepat di tahun 2017, meningkat secara keseluruhan sebesar 11% untuk koorporasi. Lalu dua pertiga responden yakni 66% dalam penelitian tersebut setuju bahwa ancaman menjadi semakin komplek dan 52% sulit membedakan antara serangan umum dan yang kompleks.

“Ada kebutuhan yang jelas akan solusi kemanan yang melampaui pencegahaan dan menyediakan paket lebih lengkap. Seperti menambahkan fungsi deteksi dan respons. Misalnya 56% perusahaan setuju bahwa mereka memerlukan alat yang lebih baik untuk mendeteksi dan merespons advanced persistent threata (APT) canggih dan serangan yang ditargetkan,” kata Dony.

Hal itu menurut Dony benar, mengingat fakta bahwa kecepataan deteksi sangat penting dalan mengurangi dampak finansial dari serangan. Menurut penelitian pada tahun lalu hanya seperempat (25%) perusahaan menemukan insiden keamanan yang serius dalam jangka waktu sehari.

Namun deteksi yang cepat secara signifikan menurunkan biaya rata-rata pemulihan, misalnya US$1.2m bagi perusahaan yang butuh waktu seminggu untuk mendeteksi ancaman tersebut, menjadi US$456K bagi perusahaan yang dapat langsung mendeteksi ancaman.

Dony menambahkan SDM adalah komponen penting lainnya, 53% perusahaan setuju bahwa mereka perlu memperkerjakan lebih banyak spesialis dengan pengalaman khusus dalam hal kemanan TI yaitu manajemen SOC, yakni respon terhadap insiden sebagai sebuah proses, bukan tujuan.

Artikel Terbaru