Beranda Fokus ​Skema TKDN Manufaktur  Sudah Serap 143 Juta Dollar AS

​Skema TKDN Manufaktur  Sudah Serap 143 Juta Dollar AS

-

Mesin pengetesan ponsel di pabrik Haier (Foto: Indra/Selular.ID)
Mesin pengetesan ponsel di pabrik Haier (Foto: Indra/Selular.ID)

Jakarta, Selular.ID.  Aturan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) yang dibuat oleh pemerintah, mewajibkan siapa saja vendor ponsel yang ingin menjual smartphone 4G di Tanah Air, harus bisa membenamkan komponen lokal di dalam perangkat tersebut. Untuk tahun ini, minimal komposisi komponen lokal yang harus dipenuhi sebesar 20%, dan harus meningkat menjadi 30% pada 1 Januari 2017.

Seperti diketahui, aturan TKDN bertujuan untuk lebih memberdayakan bangsa Indonesia, baik dari brainware dan value added. Bukan jadi tempat impor saja. Sebanyak 60% komponen ponsel adalah software dan Indonesia diyakini punya kemampuan di sana. Beleid ini juga sekaligus untuk menekan impor ponsel yang selama ini terus membengkak. Seperti diketahui, nilai impor ponsel Indonesia rata-rata per tahun mencapai USD 3,5 miliar. Nilai tersebut berkontribusi pada defisit transaksi perdagangan. Ditargetkan aturan ini, bisa mengurangi hingga 30% impor ponsel pada 2017.

Dalam catatan Kementrian Perindustrian (Kemenperin), saat ini terdapat sejumlah pemegang merek yang lolos TKDN 4G dengan komposisi bervariasi, dari 20% hingga 30% yakni  PT Hartono Istana Teknologi (Polytron), PT Aries Indo Global (Evercoss), PT Arga Mas Lestari (Advan), PT Tera Data Indonusa (Axioo), PT Maju Express Indonesia (Mito), PT Sinar Bintang Nusantara (Gosco), PT Supertone (SPC), PT Zhou Internasional (Asiafone).

Berikutnya, PT Samsung Indonesia (Samsung), PT Vivo Indonesia, PT Indonesia Oppo Electronics (Oppo), PT Hair Electrical Appliances Indonesia (Haier), PT Huawei Tech Investmen dengan produk di PT Panggung Electronic Citra Buana (Huawei), PT Smartfren Telecom (Smartfren), PT Panggung Electronic Citra Buana bekerjasama dengan PT ZTE Indonesia (Bolt), PT Tridharma Kencana bekerjasama dengan PT Lenovo Indonesia (Lenovo), dan PT SAT Nusa Persada bekerjasama dengan PT Tata Sarana Mandiri (Ivo) dan Asus.

Demi memenuhi aturan 30% TKDN, pemerintah sudah menerapkan peraturan yang lebih flexible. Peraturan yang dimaksud adalah Permen Perindustrian No 65 tahun 2016. Terdapat tiga skema yang dipilih oleh vendor yakni dengan melakukan investasi yang dominan di hardware, dominan di software, atau rencana investasi lain dengan nilai dan realisasi tertentu.

Selain Apple yang memilih skema investasi dengan mendirikan Innovation Center yang akan menghabiskan dana USD 44 juta, kebanyakan vendor lebih memilih jalur manufaktur atau hardware. Menurut  catatan AIPTI (Asosiasi Industri Perangkat Telematika Indonesia), investasi yang telah digelontorkan oleh para anggota AIPTI sejauh ini sudah mencapai 143 juta Dollar AS.

“Dengan terus tumbuhnya permintaan terhadap smartphone 4G, maka nilai investasi yang akan ditanamkan oleh para anggota AIPTI di masa datang, dipastikan juga akan terus meningkat”, ujar ketua AIPTI Ali Soebroto.

Besarnya nilai investasi dengan skema manufaktur,  menunjukkan bahwa industri ponsel di Indonesia mulai menggeliat dan berpotensi menyerap puluhan ribu tenaga kerja dan investasi barang modal yang besar, menyerap teknologi tinggi di bidang elektronika, digital, internet, software, serta telekomunikasi, imbuh Ali.

Menurut Ali, ponsel diperkirakan memiliki nilai konten hardware sekitar 70%, sedangkan sisanya diasumsikan sbg nilai konten sofware, namun sebenarnya merupakan bagian pembiayaan aktifitas R&D yang apabila produknya sukses dipasar pembagian biaya per unit menjadi kecil dan kelebihannya menjadi keuntungan perusahaannya. “Sebaliknya apabila gagal maka pengeluaran biaya R&D akan tetap menjadi 100% biaya pembiayaan R&D”, pungkasnya.

Artikel Terbaru