Industri telekomunikasi di tanah air tak bisa lepas dari kisah dua incumbent, Telkom dan Indosat. Warna-warni perjalanan kedua korporasi ini, menjadi nafas yang tak terpisahkan. Pernah sama-sama menyandang predikat sebagai flagship carrier Indonesia, keduanya harus berpisah jalan. Telkom, meski telah menjadi perusahaan publik, namun statusnya tetap BUMN yang dikuasai negara. Sementara Indosat, pasca keputusan pemerintah melepas 41,94% saham ke Singapore Technologies Telemedia Pte Ltd, anak perusahaan SingTel pada 2004, membuat statusnya berubah menjadi PMA (Perusahaan Modal Asing).

Namun larangan monopoli membuat SingTel harus melepas sahamnya di Indosat kepada Qatar Telecom. BUMN asal Singapura itu memilih untuk tetap mempertahankan 35 persen kepemilikannya di Telkomsel, anak perusahaan Telkom. Di sisi lain, sejak Februari 2013, Qatar Telecom memperkenalkan Ooredo sebagai merek dagang baru menggantikan brand sebelumnya, Qtel. Sejak itu, Indosat tak lepas dari nama Ooredo Group.

Satu dekade lebih pasca berpisah jalan, tentu menarik untuk mengkaji performa Telkom dan Indosat. Dan tentu saja bicara performa tak bisa dilepaskan dari sentuhan masing-masing CEO (Chief Executive Officer). Kebetulan, saat ini CEO dari kedua perusahaan punya nama depan yang sama, yakni Alex. Telkom dipimpin Alex Sinaga dan Indosat dikomandoi Alexander Rusli. Segudang tantangan menghadang kedua CEO itu di tengah kondisi pasar yang telah jenuh, namun menyimpan peluang yang besar di sisi bisnis digital yang terus tumbuh fenomenal. Mari kita sedikit telisik kiprah kedua Alex itu.

Alex Sinaga, Mimpi Jadikan Telkom King of Digital

Alex-j-SInagaTak berlebihan jika Alex Sinaga disebut-sebut sebagai salah satu tokoh telekomunikasi di Indonesia. Ia juga figur penting di balik transformasi Telkomsel. Memang sebelum mejabat sebagai Dirut PT Telkom, Alex Sinaga selama hampir tiga tahun (April 2012 – November 2014) adalah Dirut Telkomsel.

Dalam masa bakti yang terbilang singkat, pria kelahiran Tigabalata, 11 km dari Pematang Siantar ini, telah menerapkan fondasi yang kuat bagi pertumbuhan Telkomsel di tengah melandainya industri dan kerasnya gempuran dari pesaing. Tak tanggung-tanggung, selama menjabat sebagai orang nomor satu di operator yang identik dengan warna merah itu, Alex Sinaga mampu meraih pertumbuhan double digit selama tiga periode berturut-turut.

Sebelum naik kelas menjadi Dirut PT Telkom, Alex Sinaga sukses mendorong Telkomsel meraup untung Rp 19,4 triliun atau naik 11,9% selama 2014. Tentu saja, pencapaian double digit dalam tiga periode merupakan credit tersendiri, pasalnya semua operator selular lain dalam periode yang sama justru mencatat kinerja negatif, termasuk dua pesaing terdekatnya, XL Axiata dan Indosat.

Tak pelak keberhasilan tersebut, membuat Alex Sinaga layak diganjar posisi yang lebih tinggi yakni sebagai orang nomor satu di PT Telkom, mulai November 2014. Alex Sinaga resmi menggantikan Arief Yahya, mentornya yang juga naik kelas menjadi Menteri Pariwisata.

Seperti halnya saat mengomandani Telkomsel, di Telkom Alex Sinaga pun langsung tancap gas. Bagi penyuka pisang barangan ini, tak ada waktu berleha-leha. Belanja modal atau capex di Telko langsuang ia tingkatkan 25%-30% dari total pendapatan tahun 2014 sebesar Rp 89,7 triliun. Dengan demikian, capex Telkom tahun ini sekitar Rp 22 Triliun – Rp 26,9 triliun.

Alex Sinaga bilang, 60% capex akan digunakan untuk penguatan Infrastruktur mobile, 30% untuk penguatan broadband darat dan laut serta 10% untuk anak usaha. Untuk mendanai capex, Telkom berencana menerbitkan obligasi.

Dengan capex sebesar itu, ia pun berani pasang target tinggi. Pada pada bisnis seluler, melalui Telkomsel perseroan menargetkan pertumbuhan tetap double digit dengan dukungan mobile broadband. Di layanan berbasis kabel, Telkom ditargetkan menjadi juara dengan layanan Fiber To The Home (FTTH) melalui IndiHome yang menawarkan Triple Play (internet, telepon dan IPTV). Sementara untuk backbone Telkom terus memperkuat Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) yang membentang dari Aceh hingga Papua.

Dengan formasi lengkap, yakni darat, laut dan udara, Alex Sinaga optimis mampu menjadikan Telkom “King of Digital” sekaligus sebagai pemain yang disegani di kawasan regional dengan intermediate objectives pada 2015 mampu meraih pendapatan Rp 100 triliun dan market capitalization hingga Rp 300 triliun.

 Alexander Rusli, Optimis Terdepan di Layanan 4G LTE

Alex-RusliDibandingkan Telkomsel dan XL Axiata, Indosat terbilang telat dalam memodernisasi jaringan. Namun hal tersebut tak lantas membuat Indosat surut. Sejak kick-off pada 2013, program modernisasi jaringan yang telah menelan dana hingga Rp 15 triliun, mulai menuai hasil yang signifikan. Per April 2015, sebanyak 23 kota seluruh Indonesia telah di-cover. Tahap selanjutnya dilakukan di puluhan kota kabupaten di pulau Jawa guna mengantisipasi musim Lebaran. Indosat pun menjanjikan koneksi internet kencang hingga 42 Mbps.

Modernisasi jaringan memang menjadi salah satu fokus Indosat dalam upaya menyalip posisi Telkomsel dan XL Axiata. Sebagai CEO, Alexander (Alex) Rusli menginginkan agar Indosat dapat all-out, karena kualitas jaringan merupakan kunci utama dalam memenangkan persaingan, apalagi di era data dimana pelanggan tak terlalu memusingkan faktor harga, namun lebih kepada kualitas jaringan yang ditawarkan oleh operator.
(Baca: Alex)

Alex Rusli yang mewarisi tongkat estafet dari CEO sebelumnya Harry Sasongko pada 1 November 2012, juga optimis program modernisasi jaringan dapat menggenjot pertumbuhan pengguna data hingga 50%. Saat ini, total pelanggan Indosat mencapai 63,2 juta, dengan lebih dari setengahnya adalah pengguna data. Modernisasi jaringan juga sejalan dengan target perusahaan yang ingin segera mengimplementasikan LTE di jaringan 1.800 Mhz.

“4G-LTE di 1800 Mhz kita akan all out. Ini real LTE speed, kita yang terdepan. Persiapannya sudah dari dua tahun lalu. Begitu pemerintah on, kita akan on 10 Mhz di frekuensi ini,” ujar Alex Rusli yang dikenal punya hobi masak ini.

Alex Rusli yang dikenal murah senyum in bilang, kehadiran 4G LTE merupakan momentum yang sangat ditunggu-tunggu. Pasalnya, hal itu bisa menjadi kesempatan bagi Indosat untuk meraih kembali kepercayaan pelanggan yang sempat hilang. Dengan modernisasi yang massif di banyak kota di Indonesia, ia yakin persepsi bahwa Indosat kini memiliki kualitas jaringan yang handal, akan kembali terbentuk di benak masyarakat, sehingga pelanggan, khususnya pengguna data tak ragu memakai jasa Indosat. Lewat dua strategi yang diusung, yakni memberikan pengalaman terbaik (best experience) dan pengalaman yang lebih baik (better experience), Alex Rusli yakin Indosat dapat bersaing dengan para kompetitor.

Di sisi lain, Alex Rusli optimis sukses di 4G LTE, kelak akan membantu kinerja keuangan perusahaan yang masih belum menggembirakan. Tercatat, Indosat masih mengalami kerugian sebesar Rp 1,98 triliun sepanjang 2014. Namun kerugian tersebut sudah turun 28,6% dibandingkan periode sama 2013 sebesar Rp 2,78 triliun. (bda)

 

Berita sebelumyaIntip Promo GrabTaxi Selama Bulan Mei 2015
Berita berikutnyaFoto: Peluncuran ZTE Blade S6 di Indonesia
Editor in Chief