Selular.ID – Teknologi AC dan kulkas tanpa freon berpotensi menjadi terobosan besar dalam industri pendingin.
Setelah puluhan tahun mengandalkan refrigeran berbasis bahan kimia, para ilmuwan mengembangkan teknologi yang justru memanfaatkan garam untuk menghasilkan efek pendinginan.
Teknologi tersebut dikenal sebagai siklus ionokalori (ionocaloric cycle). Pengembangannya didorong kebutuhan mencari alternatif refrigeran yang lebih ramah lingkungan, terutama untuk menggantikan hydrofluorocarbon (HFC) yang memiliki potensi pemanasan global tinggi.
Peneliti dari Lawrence Berkeley National Laboratory dan University of California, Berkeley, mengembangkan metode tersebut dengan memanfaatkan perubahan fase material untuk menyerap dan melepaskan energi panas.
Bagaimana Garam Bisa Menggantikan Freon?
Sistem pendingin konvensional bekerja dengan mengalirkan refrigeran melalui proses penguapan dan kondensasi.
Perubahan fase tersebut memungkinkan panas diserap dari satu tempat kemudian dilepaskan ke tempat lainnya.
Baca juga:
- Infinix Bawa Mini PC, NAS, Space Max hingga Genie Badge bersama XBOOK 14 NEO
- Kulkas LG InstaView Rayakan 10 Tahun, Siapkan Program Khusus di Indonesia
Prinsip perubahan fase juga terjadi ketika es mencair. Es membutuhkan energi untuk berubah menjadi air sehingga menyerap panas dari lingkungan di sekitarnya.
Pada teknologi ionokalori, peneliti mencoba memicu perubahan fase tanpa hanya mengandalkan perubahan temperatur.
Caranya dengan menambahkan ion atau partikel bermuatan. Prinsipnya mirip penggunaan garam pada jalan bersalju untuk menurunkan titik beku air dan mencegah terbentuknya es.
“Belum ada solusi alternatif yang sukses menciptakan dingin, yang bekerja dengan efisien, memenuhi aspek keselamatan, dan tidak berdampak buruk untuk lingkungan. Kami pikir siklus ionokalori punya potensi besar,” ungkap Drew Lilley dari Lawrence Berkeley National Laboratory.
Cuma 1 Volt, Suhu Berubah 25 Derajat Celsius
Hasil eksperimen teknologi pendingin berbasis garam tersebut cukup menjanjikan.
Peneliti menggunakan garam berbahan yodium dan natrium untuk mencairkan etilena karbonat. Dalam eksperimen, sistem mampu menghasilkan perubahan temperatur hingga 25 derajat Celsius dengan tegangan sekitar 1 volt.
Etilena karbonat yang digunakan juga dapat diproduksi menggunakan karbon dioksida sebagai bahan baku.
Pendekatan tersebut membuka kemungkinan sistem pendinginan dengan dampak iklim sangat rendah, bahkan berpotensi negatif karbon jika seluruh proses produksinya memenuhi kondisi yang diperlukan.
Keunggulan ini menjadi penting karena AC dan kulkas digunakan dalam skala sangat besar di seluruh dunia.
Pergantian refrigeran dengan teknologi yang memiliki dampak lingkungan lebih rendah berpotensi membantu mengurangi emisi dari sektor pendinginan.
AC dan Kulkas Masa Depan Tak Lagi Pakai Freon?
Meski menjanjikan, teknologi ionokalori belum berarti AC dan kulkas berbasis freon akan langsung menghilang.
Tantangan berikutnya adalah mengubah eksperimen laboratorium menjadi sistem pendingin yang praktis, efisien, aman, tahan lama dan ekonomis untuk diproduksi massal.
Para peneliti juga masih mencari kombinasi material yang mampu memberikan kinerja terbaik.
Pengembangan berikutnya antara lain mengeksplorasi berbagai jenis garam, termasuk material berbasis nitrat, untuk meningkatkan efektivitas sistem.
Jika tantangan tersebut dapat diatasi, teknologi ionokalori berbasis garam berpotensi membuka generasi baru perangkat pendingin.
Bukan hanya membuat AC dan kulkas tanpa freon semakin mungkin diwujudkan, teknologi ini juga menawarkan pendekatan berbeda: menghasilkan udara dingin dengan memanfaatkan perubahan fase material dan ion, sekaligus menekan dampak pendinginan terhadap pemanasan global.


