Selular.ID – Red Hat dan Google Cloud pada 31 Maret 2026 mengumumkan perluasan kolaborasi strategis untuk mempercepat modernisasi aplikasi dan migrasi cloud melalui platform Red Hat OpenShift.
Kolaborasi ini menghadirkan Red Hat OpenShift langsung di konsol Google Cloud serta menandai ketersediaan umum Red Hat OpenShift Virtualization pada layanan Red Hat OpenShift Dedicated on Google Cloud.
Langkah ini memperkuat posisi kedua perusahaan dalam menyediakan platform aplikasi yang terintegrasi bagi enterprise untuk membangun, menjalankan, dan mengelola berbagai jenis beban kerja, mulai dari aplikasi berbasis kontainer, virtual machine (VM), hingga workload berbasis kecerdasan buatan (AI) di lingkungan cloud.
Mike Barrett, Vice President dan General Manager, Hybrid Cloud Platforms Red Hat, menegaskan bahwa pendekatan hybrid cloud yang konsisten menjadi fondasi utama kolaborasi ini. “Kolaborasi yang diperluas dengan Google Cloud ini semakin memberdayakan organisasi melalui kemampuan cloud-native dari Red Hat OpenShift, baik untuk mempercepat pengembangan aplikasi maupun menyederhanakan proses migrasi ke cloud,” ujarnya.
Dari sisi Google Cloud, Nirav Mehta, Vice President Product Management Google Cloud Compute Platform, menyatakan bahwa integrasi ini memberikan jalur yang lebih sederhana bagi pelanggan dalam mengelola infrastruktur sekaligus meningkatkan inovasi.
Menurutnya, kehadiran OpenShift di Google Cloud memungkinkan organisasi menjalankan beban kerja virtualisasi dan kontainer secara konsisten di atas infrastruktur global Google.

Integrasi Red Hat OpenShift ke dalam konsol Google Cloud menjadi salah satu pembaruan utama dalam kolaborasi ini.
Dengan integrasi tersebut, pelanggan dapat mengakses dan mengelola layanan OpenShift langsung dari satu platform, tanpa perlu berpindah antarmuka.
Proses onboarding juga menjadi lebih sederhana karena pengguna dapat memvalidasi kebutuhan teknis sebelum melakukan provisioning klaster melalui Red Hat Hybrid Cloud Console.
Selain itu, model penagihan dan pengadaan juga diintegrasikan melalui Google Cloud Marketplace.
Skema ini memungkinkan organisasi memanfaatkan model pembayaran pay-as-you-go, sekaligus mengkonsolidasikan biaya langganan OpenShift sebagai bagian dari komitmen belanja cloud mereka.
Kolaborasi ini juga memperkuat integrasi OpenShift dengan layanan native Google Cloud.
Beberapa layanan yang terintegrasi meliputi Google Cloud Secret Manager untuk pengelolaan kredensial, Certificate Authority Service untuk keamanan sertifikat digital, serta Workload Identity Federation yang memungkinkan autentikasi lintas sistem tanpa kredensial statis.
Integrasi ini dirancang untuk meningkatkan keamanan, efisiensi operasional, dan fleksibilitas pengelolaan aplikasi.
Di sisi lain, Red Hat OpenShift Virtualization yang kini tersedia secara umum di OpenShift Dedicated on Google Cloud menjadi komponen penting dalam strategi modernisasi infrastruktur.
Fitur ini memungkinkan organisasi menjalankan virtual machine tradisional berdampingan dengan aplikasi berbasis kontainer dalam satu platform Kubernetes yang konsisten.
Pendekatan ini memberikan fleksibilitas bagi perusahaan untuk melakukan modernisasi secara bertahap.
Beban kerja lama berbasis VM dapat tetap berjalan sambil secara paralel dikembangkan menjadi aplikasi cloud-native.
Hal ini mengurangi kebutuhan migrasi besar sekaligus meminimalkan risiko gangguan operasional.
OpenShift Virtualization juga mendukung penggunaan bare metal instances Google Cloud C3, yang memberikan akses langsung ke sumber daya komputasi seperti CPU dan memori.
Konfigurasi ini penting untuk aplikasi yang membutuhkan performa tinggi atau memiliki keterbatasan lisensi tertentu.
Dari sisi operasional, integrasi ini menghadirkan model manajemen terpadu yang memungkinkan tim IT mengelola berbagai jenis workload—baik di lingkungan on-premise, cloud, maupun edge—dengan standar operasional yang sama.
Hal ini berdampak pada peningkatan efisiensi dan konsistensi dalam pengelolaan infrastruktur hybrid.
Untuk mendukung proses migrasi, Red Hat juga menyediakan berbagai tool seperti toolkit migrasi untuk virtualisasi dan Red Hat Ansible Automation Platform.
Kedua solusi ini membantu organisasi memindahkan beban kerja dari sistem lama ke lingkungan cloud dengan downtime minimal serta proses yang lebih terotomatisasi.
Red Hat OpenShift Dedicated on Google Cloud sendiri merupakan layanan fully managed, di mana operasional platform dikelola oleh tim Global Site Reliability Engineers.
Pendekatan ini memungkinkan organisasi lebih fokus pada pengembangan aplikasi inti tanpa terbebani kompleksitas operasional infrastruktur.
Perluasan kolaborasi antara Red Hat dan Google Cloud mencerminkan kebutuhan enterprise terhadap platform yang mampu mengakomodasi berbagai model aplikasi sekaligus mendukung transformasi digital secara bertahap.
Dengan integrasi yang lebih dalam antara OpenShift dan Google Cloud, organisasi memiliki jalur yang lebih fleksibel untuk mengadopsi arsitektur cloud-native tanpa harus meninggalkan sistem yang sudah ada.
Baca Juga: Solusi Red Hat OpenShift Membuat Inovasi Farmasi Hadir Lebih Cepat



