Selular.ID – Upaya Huawei untuk mengembangkan chip kecerdasan buatan (AI) sendiri belum menghasilkan peningkatan pendapatan dua digit seperti para pesaingnya, karena perusahaan-perusahaan China masih berupaya mempersempit kesenjangan dengan AS dalam hal AI.
Raksasa teknologi yang berbasis di Shenzhen itu mengungkapkan, pendapatan komputasi awan dari pelanggan eksternal turun 3,5% pada 2025 menjadi 32,16 miliar yuan ($4,6 miliar).
Meskipun kurang dari 4% dari total pendapatan Huawei, perusahaan ini merupakan penyedia layanan komputasi awan terbesar kedua di China setelah Alibaba.
Laporan Huawei menambahkan, pendapatan komputasi awan secara keseluruhan termasuk pelanggan internal meningkat 4,8% menjadi 72,8 miliar yuan, namun segmen infrastruktur TIK utama melaporkan pertumbuhan pendapatan yang melambat menjadi 2,6%, turun dari 4,9% pada 2024.
Itulah segmen yang mencakup solusi chip AI Ascend yang dikembangkan sendiri oleh Huawei, yang dimaksudkan untuk menyaingi Nvidia.
Total pendapatan TIK Huawei sepanjang 2025 adalah 375,01 miliar yuan.
Untuk diketahui, sejak pertengahan 2019, AS telah memasukkan Huawei ke dalam daftar hitam. Belakangan, AS juga membatasi akses perusahaan-perusahaan China ke chip Nvidia tercanggih.
Di sisi lain, Beijing berusaha mendorong kemandirian teknologi di dalam negeri. Huawei berada di garis depan dalam upaya membangun chip yang setara dengan Nvidia.
Penurunan pendapatan cloud Huawei dari pelanggan eksternal terjadi bersamaan dengan pertumbuhan pesat bisnis cloud AI ByteDance di China dalam beberapa bulan terakhir, meskipun dari basis yang kecil.
Pemilik TikTok dilaporkan meningkatkan akses ke chip Nvidia kelas atas dalam kesepakatan kemitraan dengan pusat data Malaysia yang direncanakan.
ByteDance dan Alibaba juga berencana untuk memesan chip AI baru Huawei, Reuters melaporkan pekan lalu, mengutip sumber.
Angka pertumbuhan cloud Huawei yang moderat terjadi di tengah ekspansi industri yang pesat di seluruh dunia dan pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat di China.
Laporan Omdia menunjukkan, secara global, pengeluaran untuk layanan infrastruktur cloud meningkat sebesar 29% pada kuartal keempat dalam kuartal keenam berturut-turut ekspansi pasar lebih dari 20%,. Lembaga riset telekomunikasi terkemuka itu, memprediksi pertumbuhan cloud sebesar 27% pada 2026.
Pada awal Maret lalu, Alibaba, perusahaan komputasi awan terbesar berdasarkan pangsa pasar di China, melaporkan peningkatan pendapatan segmen sebesar 36% menjadi 43,28 miliar yuan pada 2025.
Pemain kunci lainnya, Tencent mengatakan peningkatan pendapatan layanan cloud di dalam negeri dan internasional membantu mendorong peningkatan pendapatan layanan bisnis sebesar 22% dari tahun ke tahun pada 2025.
Di sisi lain, promosi lokal bulan ini di China untuk alat AI OpenClaw juga mendorong banyak penduduk setempat untuk mengunduh agen tersebut dan membayar layanan cloud dan model AI terkait. Meski demikian, pengeluaran konsumen China tetap lesu sejak pandemi.
Baca Juga: Telkomsel dan Huawei Perkuat 5G dan Broadband Indonesia

Lewat AI Dorong Pertumbuhan Pasar Cloud di Indonesia
Meski pendapatan dari bisnis cloud khususnya pelanggan eskternal menurun sebesar 3,5%, namun Huawei tetap berkomitmen membangun pasar komputasi awan di sejumlah negara, termasuk Indonesia.
Hal itu tercermin dari penyelenggaraan Huawei Cloud Summit Indonesia 2025 di Jakarta pada 2 Desember 2025. Menandai langkah ekspansi perusahaan di sektor cloud Indonesia yang tumbuh signifikan.
Dalam event tersebut, Huawei Cloud menegaskan komitmen barunya untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai motor penggerak utama perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) di kawasan Asia Tenggara.
Perusahaan berkomitmen untuk terus memperkuat infrastruktur lokal dan kapabilitas AI full-stack, dalam upaya mendorong laju transformasi kecerdasan bersama dengan mitra ekosistem.
Salah satu inti dari strategi Huawei Cloud adalah penguatan kerja sama dengan pelopor digital Indonesia. Sejauh ini, Huawei telah menjalin kemitraan strategis dengan lebih dari 300 mitra nasional, termasuk Telkomsel, Indosat, XL Smart, PLN, Bluebird, BCA, CT Corp, dan Alfamart.
Kolaborasi tersebut diharapkan mampu mempercepat transformasi digital lintas industri dan membuka peluang ekonomi berbasis AI lebih luas bagi Indonesia.
Pasalnya, Indonesia memiliki modal yang cukup, populasi besar dan perekonomian dinamis, untuk menjadi pusat AI terdepan di kawasan ASEAN.
Sejatinya, gelaran Huawei Cloud Summit Indonesia 2025, merupakan langkah besar Huawei dalam mendukung transformasi digital di Indonesia.
Sebelumnya Huawei telah meresmikan Region Indonesia, pada 23 November 2022. Huawei Cloud Data Center (HCDC) diyakini sebagai salah satu pilar ekonomi digital Indonesia.
Keberadaan HCDC bertujuan mendukung strategi “Making Indonesia 4.0” Indonesia, dan membantu lebih banyak usaha mikro, kecil, dan menengah untuk melakukan transformasi digital.
Huawei menyebutkan, Region Indonesia merupakan hub regional KooVerse, infrastruktur global penyimpanan, komputasi, dan sumber daya jaringan Huawei Cloud.
Dengan potensi ekonomi digital Indonesia yang menjanjikan, Huawei siap merogoh investasi jumbo. Mencapai Rp 4,7 triliun atau USD300 juta demi meningkatkan infrastruktur cloud lokal.
Baca Juga: Vakum 5 Tahun, Huawei Siap Boyong Mate 80 Pro ke Indonesia


