Selular.ID – Ketegangan antara AS, Israel, dan Iran meningkat sepanjang tahun lalu, menandai fase kunci dalam krisis Timur Tengah yang sedang berlangsung.
Alih-alih mereda, ketegangan yang sempat terjadi pada pertengahan 2025, malah semakin memburuk. Puncaknya, AS dan Israel melakukan serangan militer gabungan terhadap Iran pada Sabtu (28/2/2026).
Eskalasi ini telah meningkatkan risiko geopolitik di seluruh kawasan dan meningkatkan ketidakpastian pasar global.
Konflik militer antara Israel dan Iran bukanlah hal baru. Seperti diketahui, pada Juni 2025, kedua negara terlibat dalam konflik selama 12 hari di mana infrastruktur nuklir Iran juga menjadi sasaran.
Meskipun konflik tersebut memengaruhi kedua belah pihak, dampak ekonomi yang lebih luas masih bersifat terbatas.
Saat perang singkat tahun lalu, pasar regional, termasuk pasar ponsel pintar di Timur Tengah, Eropa, Afrika, dan Amerika, hanya mengalami volatilitas jangka pendek tanpa gangguan struktural.
Namun eskalasi terbaru tampaknya lebih kompleks dan berpotensi lebih lama, didukung oleh kehadiran militer yang lebih besar di kawasan tersebut, dan target yang lebih strategis dan serius untuk mengubah rezim yang berkuasa di Iran.
Apalagi Iran bukan seperti Venezuela yang tak mudah ditaklukkan. Terbukti setelah perang memasuki pekan keempat, Presiden AS Donald Trump seperti kebingungan.
Sejauh ini tak ada exit strategy yang mudah bagi AS dan Israel yang memulai agresi. Karena semua opsi memiliki resiko. Apalagi jika perang darat benar-benar terjadi.
Pasalnya, perang darat di negara mullah itu akan memicu krisis energi global dengan potensi harga minyak melampaui 150 dollar AS per barel.
Konflik ini bakal mengguncang pasar keuangan global, menyebabkan kerusakan infrastruktur, gangguan rantai pasok global (farmasi/pangan), serta meningkatkan inflasi dan biaya logistik secara signifikan di seluruh dunia.

Biaya Logistik Meningkat Menjadi Beban Bagi Vendor Smartphone
Menurut lembaga riset Counterpoint, jika konflik berlanjut, perang Iran – AS Israel dapat lebih membebani stabilitas regional dan perdagangan global, termasuk pasar smartphone (ponsel pintar).
“Bagi industri ponsel pintar, logistik tetap menjadi faktor risiko utama. Pasalnya, mayoritas pengiriman ponsel pintar global diangkut melalui udara”, ujar Ahmad Shehab, Research Analyst pada Counterpoint Research .
Meskipun biayanya lebih tinggi dibandingkan dengan pengiriman laut, transportasi udara lebih disukai karena nilai yang tinggi dan “umur pakai” ponsel pintar yang pendek.
Pengiriman yang lebih cepat mencegah kekurangan persediaan dan penurunan nilai, terutama untuk peluncuran model baru.
Oleh karena itu, krisis Timur Tengah yang berkepanjangan dapat berdampak pada rute pengiriman, biaya operasional, dan perencanaan persediaan di seluruh pasar ponsel pintar global.
Selama ini vendor atau produsen OEM (Original Equipment Manufacturer) memanfaatkan jalur penerbangan yang saling terhubung untuk memasok pasar utama dengan ponsel pintar di seluruh Timur Tengah, Eropa, Afrika, dan Amerika. Dalam jaringan ini, Timur Tengah memainkan peran sentral.
Bandara Internasional Dubai di UEA dan Bandara Internasional Hamad di Qatar berfungsi sebagai tempat persinggahan teknis utama dan pusat transshipment kargo.
Bandara-bandara ini memungkinkan konsolidasi dan redistribusi kargo sebelum pengiriman berlanjut ke Eropa, Afrika, atau Pantai Timur AS.
Di tengah krisis Timur Tengah yang sedang berlangsung, opsi pengalihan rute tersedia tetapi disertai dengan konsekuensi.
Menurut kajian Counterpoint, pengiriman ke Eropa mungkin bergeser ke pusat-pusat Asia Tengah seperti Tashkent, sementara kargo ke arah barat menuju Pantai Timur AS mungkin melalui Asia Timur dan Amerika Utara.
Untuk pasar Afrika dan beberapa pasar regional, alternatif seperti Addis Ababa dan Mesir dapat digunakan. Namun, penyesuaian ini pada dasarnya merupakan pergeseran dari efisiensi ke ketahanan.
Di sisi lain, Iran telah mengumumkan penutupan Selat Hormuz, yang secara efektif mengganggu koridor yang menyumbang sekitar 20% dari pasokan minyak global, menurut data EIA AS. Pengumuman ini telah memicu lonjakan harga minyak sekitar 6% pada tanggal 2 Maret.
Harga minyak diperkirakan akan tetap berada di bawah tekanan kenaikan seiring meningkatnya ketegangan geopolitik, terutama setelah laporan serangan terhadap kapal tanker minyak di Teluk dan keputusan Saudi ARAMCO untuk menghentikan operasi di kilang Ras Tanura setelah serangan drone.
Menurut Shehab, peristiwa-peristiwa ini kemungkinan akan semakin memperketat pasar energi, mendorong harga bahan bakar yang lebih tinggi dan karenanya biaya pengiriman yang lebih tinggi.
Pada hari biasa, Boeing 777F, pesawat kargo jarak jauh, biasanya mengkonsumsi 7-8 ton bahan bakar per jam terbang, menurut perpustakaan sumber daya AVIEX, yang bernilai rata-rata $8.250 per jam menurut perkiraan EIA 2026.
Selain itu, menyewa dua pilot untuk penerbangan lebih dari 14 jam pada tahun 2026 membutuhkan biaya sekitar $12.000 menurut Proyeksi Sekolah Penerbangan Pelican.
“Namun dalam banyak kasus, pengalihan rute otomatis menambah setidaknya dua hingga tiga jam waktu penerbangan”, ujar Shehab yang tinggal di Dubai, Uni Emirat Arab.
Meskipun ini mungkin tampak kecil, tambahan tiga jam penerbangan dapat berarti sekitar $25.000 untuk biaya bahan bakar saja, di samping potensi biaya penanganan darat untuk persinggahan, premi asuransi khusus rute dan tujuan, dan biaya tenaga kerja yang lebih tinggi.
Untuk pengalihan rute yang lebih lama yang memperpanjang total waktu penerbangan menjadi 12 hingga 14 jam atau lebih, peraturan istirahat awak kabin mungkin mengharuskan penggandaan awak penerbangan, yang berpotensi menambah biaya tenaga kerja sekitar $24.000 atau lebih.
Dampak konflik juga meluas ke perangkat pendukung, termasuk suku cadang. Sementara ponsel pintar baru dikirim melalui udara, suku cadang yang digunakan dalam perbaikan sebagian besar dikirim melalui laut.
Oleh karena itu, gangguan yang membatasi akses ke Pelabuhan Jebel Ali di Dubai, pusat transshipment regional utama untuk suku cadang, menciptakan kendala operasional yang lebih nyata bagi rantai pasokan perbaikan.
Semua peristiwa ini, imbuh Shehab, memperburuk situasi rantai pasokan ponsel pintar yang sudah tegang, di mana biaya memori yang tinggi sangat membebani OEM dan membatasi fleksibilitas margin.
Jika gangguan terus berlanjut, biaya logistik secara keseluruhan akan terus meningkat, termasuk penyesuaian asuransi dan waktu penanganan di darat yang lebih lama.
Meskipun peningkatan ini mungkin tampak tidak signifikan jika dibagi rata di pesawat yang membawa ratusan ribu ponsel pintar, biaya tambahan tersebut akan menambah alokasi logistik per unit yang sudah terbatas.
“Akibatnya, bahkan peningkatan absolut yang kecil pun dapat diterjemahkan menjadi peningkatan persentase yang signifikan per perangkat, secara bertahap menekan margin ponsel pintar, strategi penetapan harga, dan perencanaan inventaris di pasar global”, pungkas Shehab.
Baca Juga: Perang Iran – AS Untungkan Produsen Mobil Listrik China, Jepang Semakin Tertinggal



