Selular.ID – Penggunaan chipset yang mendukung 5G menjadi kebutuhan yang tidak terhindarkan bagi vendor smartphone.
Hal ini berdampak langsung pada biaya produksi perangkat, karena komponen 5G umumnya lebih mahal dibandingkan generasi sebelumnya.
Kondisi ini semakin kompleks dengan munculnya teknologi lanjutan yang mendorong kebutuhan chipset dengan performa lebih tinggi.
Aryo Meidianto, pengamat Gadget mengatakan, faktor lain yang memengaruhi pasar adalah dinamika geopolitik global.
Ketegangan antarnegara, gangguan rantai pasok, serta fluktuasi harga komoditas seperti minyak bumi turut berdampak pada industri teknologi.
Minyak bumi, misalnya, menjadi bahan dasar berbagai komponen seperti plastik dan material perangkat, sehingga kenaikan harga berimbas pada biaya produksi smartphone secara keseluruhan.
Aryo menjelaskan bahwa dampak dari kondisi tersebut mulai terasa pada struktur harga di pasar.
Dalam beberapa tahun terakhir, terjadi pergeseran segmen harga perangkat.
Smartphone yang sebelumnya masuk kategori menengah kini bergeser ke harga lebih tinggi, sementara segmen entry-level menjadi lebih terbatas dari sisi spesifikasi.
Sebagai ilustrasi, perangkat yang dahulu berada di kelas menengah kini berada pada rentang harga sekitar Rp7 juta hingga Rp9 juta, sementara kelas flagship bergerak di kisaran Rp10 juta hingga Rp15 juta.
“Di sisi lain, segmen low-end mengalami tekanan karena kenaikan biaya produksi, sehingga pilihan perangkat dengan harga terjangkau menjadi lebih terbatas,”ujar Aryo, kepada Selular dalam Bincang Eksekutif baru-baru ini.
Perubahan ini juga memengaruhi perilaku konsumen. Aryo mencatat bahwa sebagian masyarakat mulai beralih ke pasar perangkat second atau bekas sebagai alternatif.
Selain itu, beberapa distributor dan vendor juga memanfaatkan unit display atau demo sebagai opsi penjualan dengan harga lebih rendah.
Dari sisi vendor, kondisi pasar memaksa perusahaan untuk menyesuaikan strategi, termasuk dengan menekan margin keuntungan agar tetap kompetitif.
Di tengah tekanan biaya dan perubahan permintaan, produsen perangkat harus menjaga keseimbangan antara inovasi teknologi dan daya beli konsumen.
Pasar smartphone saat ini tidak hanya dipengaruhi oleh inovasi teknologi, tetapi juga oleh faktor eksternal seperti ekonomi global dan geopolitik.
Transisi menuju 5G menjadi salah satu pendorong utama perubahan, namun implementasinya masih menghadapi tantangan dari sisi infrastruktur dan biaya.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa industri smartphone berada dalam fase penyesuaian, di mana teknologi, ekonomi, dan kebijakan global saling memengaruhi.
Arah pasar ke depan akan sangat ditentukan oleh kecepatan adopsi 5G, stabilitas rantai pasok, serta kemampuan vendor dalam menghadirkan perangkat yang tetap relevan dengan kebutuhan pengguna.


