Selular.ID – Xiaomi mengklaim kinerja yang tangguh di semua segmen bisnisnya pada kuartal keempat 2025. Meski terjadi perlambatan permintaan pada divisi smartphone, namun hal itu diimbangi oleh penjualan kendaraan listrik (EV) yang kuat untuk membantu mendorong pendapatan perusahaan
Menghadapi tantangan yang tak ringan termasuk peningkatan biaya memori dan persaingan industri yang semakin ketat, perusahaan teknologi yang berbasis di Beijing itu, mencapai pendapatan tertinggi sepanjang masa sebesar CNY116,9 miliar ($17 miliar), naik 7,3%dibandingkan tahun sebelumnya.
Tercatat laba bersih yang disesuaikan terdampak oleh tantangan tersebut, menurun 23,7% menjadi CNY6,4 miliar.
Pendapatan dari bisnis smartphone menurun 13,6% dari CNY51,3 miliar menjadi CNY44,3 miliar. Pengiriman menurun 11,6% dari 42,7 juta unit menjadi 37,7 juta unit, yang dikaitkan dengan pengurangan aktivitas promosi di pasar luar negeri.
Namun, Xiaomi merujuk pada angka dari perusahaan riset Omdia yang menunjukkan bahwa mereka mempertahankan peringkat tiga besar pengiriman global untuk tahun penuh 2025, dengan pangsa pasar 13,3%.
Gambaran kuartal keempat lebih cerah bagi perusahaan di segmen mobil listrik/EV (Electric Vehicle) pintar, AI, dan inisiatif baru lainnya, dengan pendapatan naik 123,4% menjadi CNY37,2 miliar.
Xiaomi saat ini sangat fokus pada segmen EV, dengan rencana untuk mengirimkan 550.000 mobil tahun ini, ditargetkan naik 34% dibandingkan 2025.
Bisnis kendaraan listrik (EV) Xiaomi mengalami lonjakan besar sepanjang 2025, dengan pengiriman 411.082 unit kendaraan dan pendapatan sebesar 106,1 miliar yuan, jauh melebihi target awal 350.000 unit.
Baca Juga:Â
- Xiaomi Kirim 165,2 Juta Smartphone dan 411 Ribu EV di 2025
- Laris Manis, Xiaomi SU7 Terbaru Laku 15.000 Unit dalam 34 Menit
Seri SU7 mendominasi pasar sedan kelas atas, mendorong lonjakan laba bersih yang disesuaikan perusahaan sebesar 43,8% dan menjadikan Xiaomi sebagai pemain utama di sektor EV China yang kompetitif.
Keberhasilan di pasar domestik, membuat Xiaomi berupaya memperluas jejaknya di luar negeri, dengan tujuan menjual mobil unggulannya di kawasan Eropa pada 2027.
Keputusan Xiaomi menggenjot penjualan EV di pasar global terbilang tepat. Pasalnya, para produsen mobil listrik China diprediksi menjadi pihak paling diuntungkan dengan perang Iran – AS Israel yang kini tengah berkecamuk.
Para analis menilai, melambungnya harga minyak terutama karena penutupan selat Hormuz, dapat mempercepat adopsi global kendaraan listrik, sektor yang membantu China menyalip Jepang untuk menjadi penjual mobil terbesar di dunia tahun lalu.
“Penutupan Selat Hormuz dapat menjadi pengubah permainan bagi kendaraan listrik,” kata David Brown, Direktur Riset Transisi Energi di Wood Mackenzie, dalam sebuah laporan yang dirilis pada Jumat (20/3).
Menurut Brown, lonjakan harga minyak global hingga lebih dari 50% sepanjang bulan ini akan semakin mendorong konsumen untuk beralih ke kendaraan listrik.
Di sisi lain, meski penjualan smartphone menurun, Xiaomi tetap mempertahankan keunggulan di bandingkan merek-merek pesaing.
Raksasa teknologi yang didirikan oleh Lei Jun itu, merujuk pada angka dari perusahaan riset Omdia yang menunjukkan bahwa mereka mempertahankan peringkat tiga besar pengiriman global untuk tahun penuh 2025, dengan pangsa pasar 13,3%.
Pencapaian itu tak lepas dari kinerja Xiaomi di pasar Asia Tenggara. Berdasarkan laporan Omdia, Xiaomi mengamankan posisi kedua di pasar smartphone Asia Tenggara untuk tahun 2025, dengan sekitar 17 juta unit yang dikirimkan, meningkat 4% dibandingkan tahun sebelumnya, hanya tertinggal dari Samsung.
Xiaomi kembali mendapatkan momentum yang kuat pada tahun 2025, menyoroti daya saingnya di pasar yang sensitif terhadap harga di kawasan ini.
Di Indonesia sendiri, kinerja Xiaomi malah terbilang mentereng. Dinukil dari laporan Omdia yang dirilis pada pertengahan Februari 2026, Xiaomi yang membawahi dua merek lain, Redmi dan Poco, didaulat sebagai penguasa ponsel Indonesia sepanjang 2025.
Di tengah kerasnya kompetisi dan menurunnya daya beli masyarakat, merek yang identik dengan warna jingga itu, mampu menggamit 19% pangsa pasar.
Menggenapi posisi lima besar di Indonesia sepanjang 2025, berturut-turut setelah Xiaomi adalah Transsion (18%), Samsung (17%), Oppo (16%), dan Vivo (15%).




