Selular.id – Apple berhasil mencatatkan pencapaian finansial yang impresif dari sektor kecerdasan buatan (AI) generatif sepanjang tahun 2025.
Meski perusahaan yang bermarkas di Cupertino ini sering dianggap tertinggal dalam perlombaan pengembangan model bahasa besar (LLM) orisinal, ekosistem App Store terbukti menjadi mesin pencetak uang yang sangat efektif dengan meraup pendapatan sekitar USD 900 juta atau setara Rp14,2 triliun.
Data terbaru dari firma analisis AppMagic menunjukkan bahwa lonjakan pendapatan ini didorong oleh komisi dari aplikasi pihak ketiga yang menawarkan layanan berlangganan di perangkat iOS.
Antara Januari hingga Agustus 2025 saja, pendapatan Apple dari kategori aplikasi AI generatif dilaporkan meningkat hampir tiga kali lipat. Angka ini mencerminkan betapa besarnya ketergantungan para pengembang AI terhadap basis pengguna iPhone yang sangat loyal dan memiliki daya beli tinggi.
Fenomena ini menjadi menarik karena Apple tidak mendapatkan pundi-pundi tersebut dari produk AI miliknya sendiri, melainkan melalui kebijakan “pajak” App Store sebesar 15 hingga 30 persen.
Menariknya, ChatGPT milik OpenAI menjadi kontributor utama dengan menyumbang sekitar 75 persen dari total komisi tersebut. Di posisi kedua, terdapat aplikasi Grok milik xAI yang menguasai sekitar 5 persen pangsa pasar pendapatan AI di platform tersebut.
Laporan yang pertama kali diungkap oleh The Wall Street Journal ini merinci bahwa pendapatan bulanan Apple dari aplikasi AI meroket dari USD 35 juta pada Januari 2025 menjadi puncaknya sebesar USD 101 juta pada bulan Agustus.
Meskipun sempat terjadi sedikit tren penurunan setelah Agustus akibat melandainya angka unduhan ChatGPT, posisi Apple tetap tidak tergoyahkan sebagai “gerbang utama” bagi konsumen yang ingin mengakses teknologi chatbot tercanggih saat ini.
Strategi Apple yang memanfaatkan distribusi perangkat alih-alih membakar uang untuk infrastruktur pusat data skala raksasa mulai membuahkan hasil.
Sementara kompetitor seperti Google, Microsoft, dan Meta menghabiskan ratusan miliar dolar untuk membangun *frontier model* dan pengadaan chip grafis, Apple justru memposisikan iPhone sebagai jalan tol bagi layanan-layanan tersebut.
Analis dari Wedbush, Dan Ives, menyebut fenomena ini sebagai “strategi AI tidak kasat mata”. Menurutnya, dengan 2,4 miliar perangkat iOS aktif secara global, Apple memiliki lapisan distribusi yang tidak tertandingi untuk memonetisasi tren AI tanpa harus menanggung beban pengeluaran modal (capex) yang terlalu besar untuk riset model dasar.
Nilai lapisan AI dalam ekosistem Apple ini bahkan diprediksi bisa menambah valuasi perusahaan hingga triliunan dolar di masa depan.
Ironisnya, beberapa analis mencatat bahwa biaya lisensi yang mungkin dibayarkan Apple kepada Google untuk mengintegrasikan Gemini ke dalam Siri—yang diperkirakan mencapai USD 1 miliar per tahun—seolah-olah dibiayai oleh para kompetitor Google sendiri melalui komisi App Store.
Hal ini menciptakan dinamika bisnis yang unik di mana Apple tetap diuntungkan terlepas dari siapa pun yang memenangkan perang teknologi chatbot.
Ke depan, Apple diprediksi akan melampaui angka pendapatan USD 1 miliar dari sektor ini pada tahun 2026. Dengan rencana integrasi yang lebih dalam antara iOS dan berbagai penyedia layanan AI melalui pembaruan sistem operasi mendatang, posisi iPhone sebagai perantara utama antara pengguna dan kecerdasan buatan akan semakin kokoh.
Transformasi ini menunjukkan bahwa dalam industri teknologi, memiliki akses langsung ke tangan konsumen sering kali lebih menguntungkan daripada sekadar memiliki teknologi itu sendiri.
Baca juga :Â Tak Ada Suksesi Di Apple, Tim Cook Masih Jadi King Maker




