Selular.ID – Memasuki pekan keempat perang di kawasan Teluk, AS mengklaim telah menghancurkan banyak komponen utama militer Iran, termasuk situs rudal balistik dan sebagian besar angkatan laut negara itu.
Namun, selain keberadaan rudal balistik, keunggulan yang dimiliki Iran adalah Shahed-136. Shahed, sebuah drone serang sekali pakai (kamikaze), berukuran kecil, murah, dan sangat akurat.
Sejak pecahnya perang pada 28 Februari lalu, serangan bergerombol drone Iran telah menyebabkan kematian enam anggota militer AS, merusak fasilitas minyak dan gas alam di Uni Emirat Arab, Qatar, Irak, dan Arab Saudi, dan dengan cepat mengurangi persediaan pencegat Amerika.
Begitu pun dengan Israel. Rekaman drone menunjukkan skala kehancuran di kota Tel Aviv, Arad dan Dimona. Serangan Shahed-136 juga menargetkan pusat industri dirgantara Israel.
Selain itu, serangan drone juga menyasar unit pesawat pengintai milik Amerika Serikat (AS) yang berada di wilayah tersebut.
Dalam sebuah laporan, tentara Iran mengatakan serangan itu menyasar fasilitas dirgantara Israel Aerospace Industries (IAI) dekat Pangkalan Udara Ben Gurion, serta lokasi pesawat pengintai AS di Pangkalan Udara Prince Sultan di wilayah Arab Saudi.
Tak dapat dipungkiri, drone Shahed (terutama Shahed-136) ditakuti karena harganya yang sangat murah (sekitar $35 ribu) namun mampu menghancurkan sasaran strategis dan sulit dideteksi radar.
Menggunakan taktik “serangan kawanan” (swarm attack), drone ini mampu menguras rudal pertahanan udara bernilai jutaan dolar.
Meski berukuran sedang, drone kamikaze ini efektif membawa hulu ledak 20-40 kg sejauh 2.500 km. Drone serang satu arah ini, pada dasarnya digunakan sebagai pengganti rudal jelajah.
Iran menggunakannya untuk menargetkan radar pertahanan udara Amerika, yang diperlukan untuk menemukan drone lain dan menembak jatuh mereka.
Iran menggunakannya untuk menargetkan gedung-gedung pemerintah seperti kedutaan besar dan infrastruktur penting minyak dan gas milik negara-negara sekutu AS di Timur Tengah.
Memasuki awal Maret, serangan drone Iran telah menurun sebesar 83 persen, tetapi skala kampanyenya sangat mencengangkan.
Secara total, lebih dari 2.000 drone Shahed-136 berbiaya rendah dan sekali serang telah memasuki wilayah Teluk sejak perang dimulai. Dari jumlah tersebut, hampir setengahnya menargetkan UEA dalam beberapa hari pertama.
Baca Juga:Â Perang Teluk Buktikan Prediksi Elon Musk Tepat, Serangan Drone Iran Bikin AS dan Israel Keteteran

AS Telah Kehilangan Belasan Drone MQ-9 Reaper
Massifnya serangan drone Shahed-136 milik Iran ke berbagai target di negara-negara teluk, terbilang kontras jika dibandingkan drone milik AS, MQ-9 Reaper.
Untuk diketahui, selain jet-jet tempur, AS juga mengerahkan MQ-9 Reaper. Ini adalah adalah kendaraan udara tak berawak (UAV) ketinggian menengah dengan daya tahan terbang lama yang dikembangkan oleh General Atomics Aeronautical Systems, terutama untuk Angkatan Udara AS.
Pesawat ini merupakan drone pemburu-pembunuh unggulan yang digunakan untuk Intelijen, Pengawasan, dan Pengintaian (ISR) serta serangan presisi, mampu berada di udara selama lebih dari 27 jam.
Reaper mampu terbang hingga ketinggian 15 km, dengan kecepatan maksimum 482 kilometer per jam dan kecepatan jelajah 313 kilometer per jam.
MQ-9 Reaper dapat membawa dua rudal dipandu laser GBU-12 Paveway II, empat rudal udara ke darat Hellfire, dan rudal GBU-38 JDAM (Joint Direct Attack Munitions).
Meski mengusung berbagai keunggulan, MQ-9 Reaper lebih mudah menjadi sasaran di lingkungan dengan sistem pertahanan udara canggih.
Drone tersebut awalnya dirancang untuk operasi kontra-terorisme di daerah dengan pertahanan udara terbatas, bukan di wilayah udara yang dijaga ketat.
Pesawat ini memiliki kecepatan maksimum sekitar 480 kilometer per jam, jauh lebih lambat daripada jet tempur, yang dapat mencapai kecepatan antara sekitar 1.200 dan 1.900 mil per jam.
Terbukti dalam perang Iran –AS yang tengah berkecamuk saat ini, MQ-9 Reaper menjadi target militer Iran. Sejauh ini AS telah kehilangan 11 drone mahal itu selama perang melawan Iran.
Seperti dilaporkan CBS News, kehilangan 11 unit MQ-9 Reaper, menandai salah satu kerugian peralatan paling signifikan dalam perang yang membuat harga minyak melambung. Total biaya pesawat yang hilang diperkirakan lebih dari $330 juta.
Dengan kemampuan Iran yang di luar prediksi, terutama dalam menembak jatuh sasaran, konflik yang memicu perang tersebut mulai menggoyahkan asumsi mengenai dominasi mutlak kekuatan udara AS di medan perang.
Sejak konflik pecah pada 28 Februari lalu, militer AS tercatat telah kerugian sedikitnya 16 pesawat, baik jet tempur maupun drone.
Dilansir dari India Today, Iran berhasil melumpuhkan sejumlah pesawat milik AS. Mulai dari F-35, pesawat tanker KC-135, hingga F-15.
Selain kerugian unit udara, sejumlah aset darat berupa radar pertahanan canggih milik AS dilaporkan mengalami kerusakan serius akibat serangan Iran maupun kecelakaan operasional.
Khusus insiden yang menimpa F-35, membuat AS tak lagi bisa membanggakan pesawat tersebut.
Seperti diketahui, jet tempur F-35 Lightning II buatan Lockheed Martin mengalami insiden ketika perang berkecamuk. Padahal selama ini, F-35 dianggap sebagai mesin perang paling canggih dan hampir mustahil terdeteksi.
Pada 19 Maret, sebuah F-35 milik Angkatan Udara AS atau US Air Force (USAF) terpaksa melakukan pendaratan darurat di pangkalan udara Timur Tengah setelah terkena tembakan yang diduga berasal dari militer Iran.
Baca Juga:Â Teknologi Drone Kamikaze Shahed-136 Mirik Iran Bisa Terbang ke Riyadh Tanpa Ketahuan
Kehadiran LUCAS Sebagai Penyeimbang Drone Shahed-136
Meski kehilangan banyak drone, laporan Wall Street Journal (WSJ), mengutip pejabat militer AS, mengatakan bahwa kerugian tersebut tidak memperlambat Washington, menambahkan bahwa AS menerbangkan lebih dari 10 drone Reaper di atas langit Iran pada waktu tertentu, menargetkan sistem rudal Teheran dan kemampuan militer lainnya.
Reaper dapat tetap berada di udara hingga 20 jam, memungkinkannya untuk melacak dan menyerang peluncur rudal bergerak.
Ketika sebuah drone rusak parah, operator sengaja menghancurkannya untuk menjaga teknologi sensitifnya agar tidak jatuh ke tangan Iran, kata para pejabat kepada WSJ.
Perang drone dalam perang Iran menandai kedatangan presisi massal, strategi penggunaan drone berbiaya rendah dalam jumlah besar yang mengubah medan perang dan prioritas pengadaan.
Drone Low-Cost Uncrewed Combat Attack System (LUCAS) yang baru saja dikerahkan militer AS untuk pertama kalinya dalam perang Teluk menegaskan tren ini.
Dengan LUCAS, yang dimodelkan berdasarkan Shahed-136 milik Iran, AS berupaya mengejar ketertinggalan dari musuhnya itu, terutama dalam pengembangan drone murah yang tidak menguras anggaran.
Baca Juga:Â Setelah Drone Shahed 136, Kini Muncul Drone Bawah Air Azdhar, Bikin Selat Hormuz Semakin Menakutkan




