Selular.ID – Perang antara Iran dan AS Israel kini telah memasuki pekan ketiga. Tak ada tanda-tanda bahwa adu kekuatan militer yang telah menimbulkan kerusakan di kawasan Teluk itu mereda.
Iran bahkan menyatakan siap untuk melanjutkan perang hingga enam bulan ke depan, membuat Presiden AS Donald Trump menjadi gamang. Meski dalam berbagai kesempatan, Trump menyatakan bahwa Iran telah dikalahkan.
Selain deretan rudal balistik yang terus menerus meneror warga Israel, keunggulan Iran untuk terus meladeni konflik bersenjata dengan dua musuh bebuyutannya itu adalah kehadiran drone Shahed 136.
Drone kamikaze ini, memberikan Iran keunggulan strategis melalui kombinasi biaya produksi yang sangat rendah (sekitar $20.000 – $50.000 per unit), jangkauan jauh mencapai 2.500 km, dan taktik serangan swarm (gerombolan).
Drone ini efektif menguras rudal pertahanan udara mahal milik lawan dan menghancurkan infrastruktur penting dengan hulu ledak 20 – 40 kg.
Jika di udara, drone Shahed 136 memberikan keunggulan Iran dalam perang asimetris, maka di bawah air, Iran juga memiliki senjata yang tak kalah mematikan, Azhdar.
Untuk diketahui, Iran menargetkan dua kapal tanker minyak di perairan Irak menggunakan drone bawah laut, Azhdar.
Drone tersebut menghantam dua kapal tanker minyak hingga menimbulkan kobaran api besar yang menyelimuti kapal. Akibat peristiwa itu, satu awak kapal tewas sementara 38 lainnya berhasil diselamatkan.
Dilansir dari The Guardian, Iran mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap dua kapal tanker minyak di perairan Irak tersebut. Serangan drone bawah laut yang membuat dua kapal tanker meledak itu terjadi di Teluk Persia pada Rabu (11/3) malam.
Adapun dua kapal yang terbakar adalah Zefyros berbendera Malta dan Safesea Vishnu berbendera Marshall Islands. Dua kapal tersebut terbakar hebat dengan api yang menyebar ke perairan sekitarnya.
Berdasarkan data pelacakan kapal menunjukkan bahwa kedua kapal tanket itu, berlabuh berdampingan ketika dihantam drone bawah laut Iran.
Tak pelak, kemunculan drone bawah air siluman (UUV) Azhdar bertenaga listrik meningkatkan kecemasan strategis di seluruh komando angkatan laut global, khususnya selat Hormuz yang saat ini nyaris sepenuhnya dikuasai oleh Iran.
Pasalnya, drone bawah air ini dilengkapi dengan propulsi baterai lithium yang hampir tanpa suara, profil daya tahan yang diperpanjang, dan struktur biaya asimetris secara kolektif mengancam untuk membentuk kembali perhitungan keamanan maritim di titik-titik rawan seperti Selat Hormuz, di mana bahkan sistem tanpa awak berbiaya rendah pun dapat mengganggu pelayaran global.
Konsep operasional kendaraan bawah air tanpa awak Azhdar mencerminkan pergeseran teknologi yang lebih luas dalam peperangan laut, di mana propulsi listrik yang senyap, algoritma penargetan otonom, dan model penyebaran berbasis kawanan mulai mengikis dominasi tradisional armada permukaan besar yang secara historis mengamankan jalur maritim sempit dan melindungi jalur pelayaran komersial bernilai tinggi.
Potensi pengerahan kendaraan bawah air tak berawak Azhdar oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) oleh Iran menghadirkan variabel yang mengganggu dinamika keamanan Teluk karena berbagai keunggulan yang dimilikinya.
Mulai dari karakteristik silumannya, daya tahan patroli yang berkelanjutan, dan potensi serangan otonom dapat memungkinkan sistem yang relatif murah untuk menantang kekuatan angkatan laut yang secara teknologi lebih unggul yang beroperasi di dalam perairan terbatas Selat Hormuz.
Baca Juga:
- Teknologi Drone Kamikaze Shahed-136 Mirik Iran Bisa Terbang ke Riyadh Tanpa Ketahuan
- Dampak Perang Timur Tengah, Dua Pusat Data Amazon Kena Serangan Drone
Azhdar: Platform Disrupsi Senyap Bertenaga Lithium

Dilansir dari laman Defence Security Asia, kendaraan bawah air tak berawak (UUV) Azhdar menunjukkan filosofi desain strategis yang berpusat pada kemampuan siluman, daya tahan, dan penolakan asimetris.
Sistem propulsi baterai lithium-nya memungkinkan operasi bawah air yang sangat senyap yang secara signifikan mengurangi jejak akustik di lingkungan maritim yang sempit di mana deteksi sonar tradisional sudah terhambat oleh kondisi perairan dangkal.
Beroperasi dengan kecepatan sekitar 18 hingga 25 knot, drone bawah air Azhdar memberikan keseimbangan antara transit senyap dan kemampuan manuver taktis.
Memungkinkan sistem untuk berpatroli di koridor maritim yang diperebutkan sambil mempertahankan fleksibilitas operasional untuk misi pengawasan, pencegahan, atau serangan terhadap kapal militer dan lalu lintas pengiriman komersial.
Profil daya tahan kendaraan – mampu beroperasi terus menerus hingga empat hari – merupakan pengganda operasional yang signifikan untuk sistem drone bawah air, karena kehadiran berkelanjutan di titik sempit seperti Selat Hormuz.
Hal itu memungkinkan platform otonom untuk memantau, membuntuti, dan berpotensi menyerang target tanpa memerlukan pengawasan manusia terus-menerus atau tautan perintah langsung.
Dengan jangkauan operasional yang diproyeksikan melebihi 600 kilometer, Azhdar dapat dengan tenang melintasi perairan sempit Teluk Persia dan jalur pelayaran di sekitarnya.
Kehadirannya enciptakan lingkungan ancaman bawah air yang terus-menerus yang mempersulit perencanaan perlindungan kekuatan angkatan laut baik untuk armada regional maupun koalisi maritim internasional.
Penggerak baterai lithium menyediakan fondasi teknologi untuk keunggulan siluman Azhdar karena sistem penggerak listrik menghilangkan kebisingan dan getaran mekanis yang terkait dengan mesin pembakaran konvensional, memungkinkan drone bawah air beroperasi dengan tanda akustik yang sangat rendah yang sulit dideteksi oleh sistem sonar konvensional.
Lihat Juga:
View this post on Instagram
Signifikansi strategis dari karakteristik siluman tersebut menjadi sangat penting di jalur air sempit seperti Selat Hormuz, di mana medan bawah air yang kompleks, kepadatan kapal yang tinggi, dan kebisingan latar belakang dari pelayaran komersial sudah mempersulit upaya deteksi anti-kapal selam yang dilakukan oleh pasukan angkatan laut tingkat lanjut.
Karena drone bawah air tidak memerlukan akomodasi awak atau sistem pendukung kehidupan di dalamnya, Azhdar dapat mengalokasikan lebih banyak volume internal untuk penyimpanan energi dan muatan misi, sehingga meningkatkan daya tahan dan jangkauan operasional tanpa meningkatkan ukuran sistem secara keseluruhan atau risiko deteksi.
Prioritas desain ini mencerminkan pergeseran yang lebih luas dalam pengembangan kekuatan angkatan laut di mana sistem bawah air tanpa awak direkayasa secara khusus untuk mengeksploitasi kerentanan geografis titik-titik rawan maritim yang membawa sebagian besar arus perdagangan global.
Dalam lingkungan seperti itu, kendaraan tanpa awak yang beroperasi di bawah permukaan dan memiliki kemampuan siluman dapat menciptakan ketidakpastian yang terus-menerus bagi komandan angkatan laut yang bertanggung jawab untuk melindungi kapal dagang dan mengawal kapal-kapal bernilai tinggi melalui koridor maritim yang sempit dan padat lalu lintas.
Oleh karena itu, Azhdar mewakili lebih dari sekadar sistem senjata tunggal karena mewujudkan pergeseran doktrin menuju strategi penolakan bawah air terdistribusi yang dirancang untuk mempersulit dominasi angkatan laut tradisional di jalur perairan strategis yang terbatas.
Trump Minta Negara Lain Bantu Amankan Selat Hormuz

Tak dapat dipungkiri, kehadiran drone bawah laut Azhdar semakin membuat Donald Trump putus asa. Apalagi upayanya untuk melibatkan negara-negara lain untuk mengamankan selat Hormuz ditanggapi dingin.
Seperti diketahui, demi mencegah terus melambungnya harga minyak, Trump menyebutkan agar negara-negara, seperti China, Jepang, Inggris dan Perancis, bersedia mengirimkan kapal perang bersama, agar Selat Hormuz tetap “terbuka dan aman”. Namun sejauh ini, seruannya itu ditanggapi dingin.
Dia juga mengeluarkan peringatan kepada sekutunya dalam sebuah wawancara di FT, mengatakan bahwa NATO menghadapi masa depan yang “sangat buruk” jika tak mau membantu AS membuka selat Hormuz.
“Sudah sepantasnya orang-orang yang mendapat manfaat dari selat ini membantu memastikan tidak ada hal buruk yang terjadi di sana,” kata Trump kepada surat kabar tersebut.
Meski bernada ancaman – yang selama ini merupakan ciri Trump dalam mengintimidasi negara- negara lain termasuk sekutunya – baik China, Jepang, Inggris, maupun Perancis, tak satu pun yang terbuka mendukung upaya AS untuk terlibat dalam mengamankan jalur sempit yang menjadi urat nadi, dengan sekitar 20% pedagangan minyak dunia bertumpu di sana.
Setidaknya 16 kapal komersial telah diserang di wilayah tersebut sejak perang dimulai pada 28 Februari, menurut UKMTO. Trump berulang kali menyatakan bersedia mengerahkan Angkatan Laut AS untuk mengawal pelayaran komersial melalui selat yang berbatasan dengan Iran, Oman, dan Uni Emirat Arab, jika diperlukan.
Lumpuhnya selat Hormuz membuat harga minyak terus melambung. Mencapai lebih dari 40 persen sejak dimulainya perang, sehingga mendorong kenaikan harga bahan bakar dan meningkatkan kekhawatiran akan perlambatan ekonomi global.
Menurut pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO), tidak lebih dari lima kapal melewati selat tersebut setiap hari sejak dimulainya perang, dibandingkan dengan rata-rata 138 transit setiap hari.
Baca Juga: Iran Siap Serang Google, Microsoft, dan Nvidia, Bisa Porak Poranda Seperti Pusat Data Amazon



