Selular.ID – Samsung dan Motorola masih menjadi dua brand yang paling dominan dalam daftar ponsel flip foldable terbaik yang direkomendasikan sejumlah media teknologi global pada 2026.
Laporan kurasi perangkat terbaru menunjukkan model seperti Samsung Galaxy Z Flip 5 dan Motorola Razr+ (Razr 40 Ultra) masih menjadi acuan utama di segmen smartphone lipat bergaya clamshell berkat kombinasi desain kompak, layar fleksibel, dan peningkatan fitur perangkat lunak.
Kategori ponsel flip atau flip foldable phone merujuk pada smartphone dengan layar fleksibel yang dapat dilipat secara vertikal seperti ponsel lipat klasik.
Berbeda dengan perangkat foldable model buku, desain ini menekankan portabilitas karena ukuran perangkat menjadi lebih kecil saat dilipat, namun tetap menghadirkan layar besar ketika dibuka.
Sejumlah analis industri menyebut peningkatan teknologi layar fleksibel, daya tahan engsel, serta optimalisasi antarmuka Android menjadi faktor utama yang membuat kategori ini semakin berkembang dalam beberapa tahun terakhir.
Dalam berbagai rekomendasi perangkat terbaru, Samsung Galaxy Z Flip 5 masih sering ditempatkan sebagai salah satu ponsel flip paling lengkap di pasar.
Perangkat ini membawa layar utama Dynamic AMOLED 2X berukuran 6,7 inci dengan refresh rate 120Hz, serta cover screen 3,4 inci yang jauh lebih besar dibanding generasi sebelumnya.
Layar sekunder tersebut memungkinkan pengguna menjalankan berbagai fungsi tanpa membuka perangkat, seperti membaca notifikasi, mengontrol musik, hingga menjalankan aplikasi tertentu.
Samsung juga meningkatkan desain engsel yang memungkinkan perangkat menutup rapat tanpa celah.
Galaxy Z Flip 5 ditenagai chipset Qualcomm Snapdragon 8 Gen 2 for Galaxy, yang merupakan varian khusus dari prosesor flagship Qualcomm.
Kombinasi ini menghadirkan performa tinggi untuk aktivitas multitasking, fotografi, maupun penggunaan aplikasi berat.
Selain Samsung, Motorola Razr+atau dikenal juga sebagai Motorola Razr 40 Ultra menjadi pesaing utama di kategori ponsel flip premium.
Perangkat ini menonjolkan cover display berukuran 3,6 inci, salah satu yang terbesar di kelasnya, yang memungkinkan pengguna menjalankan aplikasi penuh langsung dari layar luar.
Motorola juga mengintegrasikan fitur kamera yang memanfaatkan desain lipat perangkat. Ketika dilipat sebagian, smartphone dapat berfungsi seperti tripod mini sehingga memudahkan pengguna mengambil foto atau video tanpa perlu aksesori tambahan.
Motorola Razr+ menggunakan chipset Snapdragon 8+ Gen 1, dipadukan dengan layar utama OLED 6,9 inci dengan refresh rate tinggi.
Desainnya yang tipis dan ringan menjadikan perangkat ini salah satu alternatif utama bagi pengguna yang mencari smartphone lipat dengan bentuk kompak.
Selain dua model tersebut, beberapa perangkat lain juga masuk dalam kategori ponsel flip yang layak dipertimbangkan.
Salah satunya adalah Samsung Galaxy Z Flip 4, yang meskipun bukan model terbaru, masih menawarkan performa yang solid serta harga yang lebih terjangkau dibanding generasi terbaru.
Di sisi lain, Motorola Razr (2023) hadir sebagai opsi yang lebih ekonomis dalam lini Razr. Perangkat ini tetap mempertahankan konsep desain flip klasik, tetapi dengan spesifikasi yang disesuaikan agar dapat menjangkau segmen harga lebih luas.
Persaingan di kategori flip foldable juga diperkirakan akan semakin berkembang seiring meningkatnya investasi produsen smartphone pada teknologi layar fleksibel.
Beberapa vendor lain seperti Oppo dan Huawei telah memperkenalkan perangkat foldable mereka dalam beberapa tahun terakhir, meskipun sebagian besar masih berfokus pada desain lipat model buku.
Berdasarkan data sejumlah firma riset pasar, pengiriman smartphone foldable global terus menunjukkan tren pertumbuhan meskipun masih berada pada segmen premium.
Inovasi pada material layar, ketahanan engsel, serta optimalisasi sistem operasi menjadi faktor utama yang menentukan adopsi perangkat ini di pasar yang lebih luas.
Dengan meningkatnya persaingan di segmen smartphone lipat, produsen diperkirakan akan terus meningkatkan kemampuan layar eksternal, daya tahan perangkat, serta integrasi fitur berbasis kecerdasan buatan untuk mendukung produktivitas pengguna.
Baca Juga:Samsung Ajukan Paten Galaxy Z Flip Versi Lebih Terjangkau
Pendekatan ini menjadi bagian dari upaya industri smartphone untuk menghadirkan pengalaman perangkat mobile yang berbeda dibandingkan smartphone konvensional.



