Selular.ID – Didukung oleh rudal balistik, drone kini terbukti menjadi game changer  dalam perang teluk yang kini telah memasuki pekan ketiga.
Siapa sangka AS yang selama ini disebut-sebut sebagai negara dengan kemampuan militer terkuat di dunia, harus keteteran oleh serangan drone yang masif.
Pesawat tanpa awak yang diluncurkan Iran, terutama Shahed-136, sangat efektif menggempur AS dan Israel karena harganya murah (sekitar $20.000), memungkinkan produksi massal dan taktik swarm attack (serangan berkerumun).
Drone ini dirancang dengan teknologi pintar namun sederhana, membuatnya sulit ditangkal, serta memaksa sistem pertahanan lawan yang mahal mengeluarkan biaya pencegatan yang tinggi.
Sepanjang perang teluk pecah pada 28 Februari lalu, Iran disebut sudah mengerahkan lebih dari 2.000 drone Shahed-136 untuk melumpuhkan pertahanan udara lawan dan menciptakan kekacauan.
Drone ini digunakan Iran untuk membombardir kedutaan besar AS di Timur Tengah, sistem radar, bandara, hingga gedung-gedung tinggi terkait AS dan Israel.
Serangan drone juga mengincar lokasi-lokasi strategis negara-negara yang menjadi sekutu AS, seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, Yordania, dan Kuwait.
Pada 5 Maret lalu, drone kamikaze Shahed-136 berhasil terbang dari Iran hingga menghantam Kedutaan Besar Amerika Serikat di Riyadh, Arab Saudi.
Sebelumnya  bukti visual yang diverifikasi oleh The New York Times pada Sabtu, 28 Februari 2026, memperlihatkan sejumlah drone menghantam bangunan di Bahrain, Kuwait, serta Uni Emirat Arab.
Al Mayadeen juga melaporkan pernyataan Korps Garda Revolusi Islam bahwa Teheran mengonfirmasi drone tempur mereka berhasil menghantam menara pengawas di Pangkalan Udara Palmachim dekat Tel Aviv.
Fasilitas ini merupakan instalasi vital yang digunakan Zionis untuk peluncuran satelit, pengujian rudal, serta markas bagi sistem pertahanan udara David’s Sling dan unit UAV Hermes 900.
Berbagai insiden itu menunjukkan meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Teluk, sekaligus menegaskan kembali reputasi Shahed-136 sebagai senjata murah dengan daya rusak signifikan sebuah kombinasi yang telah terbukti menantang sistem pertahanan modern, seperti terjadi dalam konflik di Ukraina.
Para ahli mengatakan drone Shahed dikerahkan sebagai taktik Iran untuk melemahkan musuh-musuhnya. Pasalnya, drone berbiaya murah dan mudah diproduksi ini tampak mulai berhasil menguras aset militer AS dan Israel.
Imbasnya, negeri zionis itu dilaporkan mengalami kekurangan kritis rudal pencegat untuk sistem pertahanan udara mereka di tengah konflik yang berlanjut dengan Iran, menurut pejabat AS dan laporan media.
Kekurangan ini, terutama untuk pencegat rudal balistik, membuat Israel meminta bantuan ke AS di tengah gempuran rudal dan drone yang gencar.
Di sisi lain, AS terpaksa memindahkan aset militer strategis dari Asia Pasifik ke Timur Tengah per Maret 2026, termasuk marinir dari Jepang dan sistem pertahanan rudal (THAAD/Patriot) dari Korea Selatan.
Langkah ini sebagai respons atas eskalasi konflik dengan Iran, ditujukan untuk memperkuat pertahanan dan mengawal jalur pelayaran di Selat Hormuz dari gangguan rudal dan drone.
Baca Juga:Â
- Setelah Drone Shahed 136, Kini Muncul Drone Bawah Air Azdhar, Bikin Selat Hormuz Semakin Menakutkan
- Teknologi Drone Kamikaze Shahed-136 Mirik Iran Bisa Terbang ke Riyadh Tanpa Ketahuan

Era Pesawat Tempur Berawak Sudah Usang
Tak dapat dipungkiri, serangan drone murah seperti Shahed-136 milik Iran yang terbang beriringan layaknya ribuan lebah itu terbilang mengejutkan bagi AS dan Israel, yang selama ini hanya fokus pada ancaman rudal konvensional.
Namun bagi Elon Musk, kemampuan drone yang mampu menjangkau ribuan kilometer sekaligus merusak banyak target, sudah ia prediksi dua tahun sebelumnya.
Seperti dilansir dari Business Insider (26/11/2024), CEO Tesla, itu memilih untuk bersikap kritis terhadap pengembangan jet siluman generasi kelima andalan Pentagon, F-35 Lightning II Joint Strike Fighter.
Dalam serangkaian unggahan media sosial di X, orang terkaya di dunia itu menyebutnya bodoh untuk terus membangunnya dan mengkritik desainnya.
Merujuk pada perang Ukraina, Musk mengatakan jet yang dikendalikan manusia “usang” dan “tidak efisien” dan “hanya akan menyebabkan pilot terbunuh”.
Pasalnya, taipan pemilik Starlink itu menyebutkan bahwa drone dan ancaman udara lainnya menjadi lebih banyak.
Dalam perang Ukraina, drone melakukan pengawasan dan menyerang kendaraan musuh dan posisi pasukan.
Namun, pesawat-pesawat tersebut bukanlah pengganti jet berawak, yang telah lama diinginkan Kyiv dalam jumlah yang lebih banyak meskipun para pilot menghadapi lingkungan pertahanan udara yang sulit.
Komentar Musk mengikuti pernyataan serupa dari mantan CEO Google, Eric Schmidt, yang menyebutkan bahwa tank “tidak berguna” sambil mendesak Angkatan Darat untuk “memberikannya” dan “membeli drone sebagai gantinya.”
Musk melangkah lebih jauh, berspekulasi tentang cara-cara musuh dapat mengalahkan kemampuan siluman F-35.
Kritiknya terhadap jet tersebut muncul saat ia bersiap untuk menargetkan pengeluaran pemerintah yang “boros” sebagai bagian dari inisiatif Efisiensi Departemen Pemerintah Trump. Belakangan, Musk memilih mundur dari lembaga tersebut, karena bersilang pendapat dengan Trump.
Untuk diketahui, pesawat tempur F-35 Joint Strike Fighter adalah program sistem senjata termahal Pentagon, dengan biaya seumur hidup diperkirakan mencapai lebih dari $2 triliun.
Musk sebelumnya menyatakan bahwa F-35, yang bermasalah dengan berbagai kendala selama pengembangannya, bukanlah pilihan terbaik untuk militer.
Empat tahun lalu, pendiri SpaceX itu mengatakan bahwa pesawat tempur tak berawak yang dikendalikan dari jarak jauh akan menjadi alternatif yang lebih baik daripada F-35 dan berpendapat bahwa masa depan adalah peperangan drone otonom.

Tak tanggung-tanggung, dalam satu postingan di X, dengan tegas Musk menyebutkan: “Pesawat tempur berawak sudah usang di era drone!”.
Pernyataan Musk itu kini menjadi relevan dengan konflik militer di kawasan Teluk yang hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda berakhir.
Investasi pada pengembangan pesawat tempur berawak, terkadang malah berujung pada kerugian, bukan karena serangan musuh namun akibat salah tembak.
Seperti terjadi pada jatuhnya tiga pesawat F-15 milik AS pada 4 Maret 2026 di langit Kuwait yang merugikan AS milyaran rupiah.
Bermula dari kewaspadaan tingkat tinggi militer Kuwait. Ketegangan tersebut dipicu oleh masuknya sejumlah drone Iran ke ruang udara Kuwait, di mana salah satu serangan drone berhasil menghantam pelabuhan komersial dan menewaskan enam personel militer AS.
Belakangan penyelidikan oleh CENTCOM (Pusat Komando AS) menunjukkan, ketiga pesawat canggih tersebut bukan jatuh akibat tembakan sistem pertahanan udara rudal Patriot, melainkan secara tragis ditembak jatuh oleh jet tempur F/A-18 Hornet milik Angkatan Udara Kuwait dalam insiden “friendly fire” atau salah sasaran.
Di sisi lain, seiring dengan meningkatnya penggunaan drone, perusahaan-perusahaan milik Elon Musk, termasuk SpaceX dan xAI, sangat terlibat dalam pengembangan kawanan drone bertenaga AI, yang menargetkan masa depan teknologi pertahanan otonom.
Sistem ini dirancang untuk mengoordinasikan serangan dan, menurut laporan pada 2026, dapat merevolusi taktik militer dengan menawarkan kemampuan pengawasan dan serangan berbasis AI dengan biaya rendah.
Baca Juga: Perang Iran – AS dan Israel: Saat Teknologi AI Tak Mampu Mengalahkan Rudal Monster Khorramshahr 4




