Selular.ID – Lonjakan harga minyak dapat mendorong konsumen di seluruh dunia untuk beralih ke mobil listrik, sehingga meningkatkan penjualan merek-merek China.
Para analis menilai, melambungnya harga minyak yang dipicu oleh perang AS-Israel di Iran dapat mempercepat adopsi global kendaraan listrik – sektor yang membantu China menyalip Jepang untuk menjadi penjual mobil terbesar di dunia tahun lalu.
“Penutupan Selat Hormuz dapat menjadi pengubah permainan bagi kendaraan listrik,” kata David Brown, Direktur Riset Transisi Energi di Wood Mackenzie, dalam sebuah laporan yang dirilis pada Jumat (20/3).
Menurut Brown, lonjakan harga minyak global hingga lebih dari 50 persen sepanjang bulan ini akan semakin mendorong konsumen untuk beralih ke kendaraan listrik.
Minyak mentah Brent diperdagangkan lebih dari US$100 per barel pada Senin (23/3), karena tekanan kenaikan harga minyak terus berlanjut.
“Di negara-negara yang memiliki akses ke kendaraan listrik (EV) China berbiaya rendah, keunggulan kompetitif dibandingkan mobil bermesin bensin akan datang lebih cepat,” pungkas Brown.
Ia juga mencatat bahwa Brasil telah menjadi pasar luar negeri terbesar untuk raksasa EV China, BYD.
Senada dengan David, Justin Feng, seorang ekonom Asia di HSBC, juga menyoroti tren ini dalam sebuah laporan hari Jumat.
Ia mengatakan harga minyak yang lebih tinggi dan lebih fluktuatif dapat menjadikan EV sebagai “proposisi penghematan biaya” yang lebih jelas jika konflik berlanjut, mempercepat elektrifikasi transportasi jalan raya di Asia.
Saat ini ada 39 negara di mana EV menyumbang lebih dari 10 persen dari total penjualan mobil, naik dari empat negara pada tahun 2019, menurut sebuah laporan oleh lembaga think tank Inggris Ember yang dirilis pada Rabu (25/3).
Laporan tersebut menambahkan bahwa pasar negara berkembang mengadopsi mobil listrik dengan cepat, bahkan beberapa di antaranya kini melampaui negara-negara maju dalam hal pangsa penjualan kendaraan listrik.
Meningkatnya minat global terhadap kendaraan listrik—yang semakin dipicu oleh konflik di Timur Tengah—dapat memberikan dorongan besar bagi industri otomotif China, yang untuk pertama kalinya melampaui Jepang dalam penjualan global tahun lalu.
Produsen mobil China memimpin dunia dalam penjualan kendaraan baru global sepanjang 2025, mengakhiri dominasi Jepang selama lebih dari dua dekade di posisi nomor satu, demikian dilaporkan Nikkei pada Sabtu (21/3), mengutip data dari produsen mobil dan perusahaan data MarkLines.
Baca Juga:
- Penjualan Mobil Listrik Turun 36%, BYD dan Hyundai Anjlok
- Klaim Uji Coba Lebih Dari 150 Ribu Kilometer, BYD Siap Produksi Masal Kendaraan Full Otonom
Dua raksasa mobil China, BYD dan Geely, juga melampaui pesaing Jepang mereka, Nissan dan Honda, dalam hal penjualan, tambah laporan tersebut.
Menurut Nikkei, dari 20 produsen mobil teratas dunia berdasarkan penjualan tahun lalu, enam di antaranya berasal dari China dan lima dari Jepang.
Tercatat, China mengekspor 8,32 juta kendaraan pada tahun lalu, meningkat 30% dibandingkan tahun sebelumnya, menurut data dari Asosiasi Dealer Otomotif China.
Total ekspor kendaraan listrik mencapai 2,32 juta, naik signifikan sebesar 38% dibandingkan tahun sebelumnya.
Eropa tetap menjadi pasar ekspor terbesar untuk kendaraan listrik China, diikuti oleh Asia Tenggara, Amerika Latin, dan Timur Tengah, menurut data tersebut.
Meski Jepang masih menjadi salah satu produsen mobil listrik terbesar di dunia, namun tantangan ke depan semakin tidak ringan bagi negeri matahari terbit itu.
Saat ini Produsen mobil Jepang tertinggal dari China dalam pasar Battery Electric Vehicle (BEV) global karena keterlambatan adopsi teknologi EV, fokus pada hybrid (HEV), dan tingginya biaya produksi.
China mendominasi melalui kontrol rantai pasok baterai (LFP) yang lebih murah dan ekspor agresif, membuat harga EV mereka jauh lebih kompetitif dibandingkan merek Jepang.
Imbasnya, produsen mobil utama Jepang, seperti Honda memutuskan untuk membatalkan proyek mobil listrik.
Untuk diketahui, pada Jumat (13/3), Honda resmi mengumumkan bahwa mereka membatalkan pengembangan dan peluncuran mobil listrik 0 Series, yaitu 0 Saloon dan 0 SUV. Honda juga mengumumkan bahwa Acura RSX untuk pasar Amerika Serikat dibatalkan.
Mobil listrik 0 Saloon dan 0 SUV sebenarnya dijadwalkan segera diproduksi di Amerika Serikat dalam beberapa bulan ke depan. Namun, Honda membatalkan proyek mobil listrik tersebut.
Honda mengatakan, keputusan menghentikan pengembangan kendaraan listrik itu dibuat sebagai bagian dari penilaian ulang strategi elektrifikasi otomotifnya. Honda memperkirakan akan mencatat kerugian dalam hasil keuangan konsolidasi untuk tahun fiskal yang berakhir Maret 2026.
Tak tanggung-tanggung, jika Honda melanjutkan proyek tersebut, perusahaan diperkirakan bakal mananggung kerugian hingga Rp 256 triliun.
Terlepas dari pergeseran minat konsumen beralih ke mobil listrik, jika konflik di Timur Tengah berlanjut, guncangan bahan bakar fosil dapat menjadi hambatan jangka pendek bagi manufaktur kendaraan listrik (EV), yang tetap intensif energi dan karbon.
Menurut Feng, Thailand yang merupakan pusat manufaktur EV yang sedang berkembang di Asia, tampaknya sangat rentan terhadap guncangan pasokan energi.
Feng menambahkan, hampir 60 persen impor minyak Thailand dan hampir sepertiga impor gas alamnya berasal dari Teluk.
Sebaliknya, produksi EV China diperkirakan akan lebih tangguh karena rantai pasokan negara yang lebih kuat dan fleksibilitas energi yang lebih besar.




