Selular.ID – Setiap tahun Indonesia dibanjiri sekitar 30 – 40 juta ponsel baru. Menjadikan Indonesia sebagai pasar ponsel terbesar keempat di dunia, setelah China, India dan AS.
Meski demikian, dengan berbagai pertimbangan, tidak semua konsumen doyan berganti ponsel baru.
Alih-alih memburu perangkat baru yang harganya sudah pasti lebih mahal – apalagi saat ini industri ponsel dunia tengah menghadapi masalah keterbatasan chip yang mendorong harga jual – mereka lebih suka membeli ponsel bekas.
Alhasil, kondisi itu menjadikan pasar ponsel bekas di Indonesia terus mengalami tren peningkatan.
Menukil laporan KenResearch yang diterbitkan pada Mei 2022, sejatinya industri smartphone bekas di Indonesia masih dalam tahap awal.
Industri ini mengalami pertumbuhan satu digit sepanjang periode 2016 – 2021. Selama pandemi Covid-19, tingkat pertumbuhan industri menurun karena toko-toko offline tutup.
Penjualan toko offline mendominasi industri dengan pangsa persentase yang besar dibandingkan dengan platform online.
Selain itu, rasa takut untuk keluar rumah menyebabkan munculnya pasar smartphone bekas online di Indonesia. Penetrasi internet yang terus meningkat di seluruh wilayah, membuat pola konsumsi konsumen pun berubah. Terutama berkat kehadiran platform-platform belanja online.
Baca Juga:Â
- Wacana Balik Nama Hp Bekas Seperti Kendaraan Bermotor, Komdigi: Tidak Benar
- Tak Hanya HP Bekas, Smartphone Demo Unit Juga Banyak Diincar Konsumen
Platform belanja online diminati banyak orang karena menawarkan kemudahan, kecepatan, dan kenyamanan (belanja 24/7 dari mana saja) tanpa perlu antre atau bepergian.
Selain itu, faktor harga yang lebih murah, banyaknya promo/diskon (voucher gratis ongkir), serta pilihan produk yang beragam menjadi alasan utamanya
Di sisi brand, sejauh ini orang-orang lebih memilih membeli smartphone bekas, terutama iPhone, karena harga smartphone tersebut yang tinggi.

iPhone bekas tetap laris karena reputasi build quality premium dan daya tahan tinggi, serta dukungan update iOS yang panjang (bisa 5-6 tahun) sehingga performanya tetap kencang bertahun-tahun.
Selain harga lebih terjangkau, gengsi tinggi (simbol status), dan nilai jual kembali yang stabil membuat iPhone bekas diminati.
Secara umum, masyarakat yang lebih suka mengganti ponsel mereka secara berkala dan sadar merek, cenderung lebih memilih membeli ponsel bekas karena lebih murah dan terjangkau ketimbang smartphone baru.
Meningkatnya jumlah pasar online yang bermunculan mendorong kemudahan mendapatkan smartphone bekas di depan pintu rumah dari penjual bersertifikat dan pasar yang terpercaya.
Toko ritel offline juga telah mengadopsi model O2O, yang berarti mereka menyediakan produk mereka baik secara offline maupun online.
Para pemain offline yang merupakan spesialis di pasar ponsel bekas ini, juga memiliki kehadiran yang besar di media sosial, terutama di Facebook dan Instagram.
Mereka memposting semua produk mereka beserta harganya, serta berbagai promo dan diskon lainnya. Membuat konsumen tak ragu membeli ponsel bekas seperti halnya ponsel baru.
Dengan tingginya kebutuhan konsumen terhadap ponsel bekas, para pemain yang menggarap segmen ini juga terus mengalami peningkatan. Para pemain baru tersebut bersaing dengan mereka-mereka yang sudah kelotokan di bisnis ini.
Sebut saja Sinar Mutiara (Gudang Grosir), Maujual (platform online), Gudang Gadget (ITC Depok), dan IPS Gadget (spesialis iPhone).
Mereka menawarkan perangkat berkualitas dengan garansi resmi. Toko-toko modern ini menyediakan berbagai pilihan smartphone Android dan iPhone bekas dengan harga bersaing, jaminan kualitas, serta layanan tukar tambah.
Baca Juga:
- Hal yang Harus Diperhatikan Membeli Hp Bekas
- Harga Smartphone Baru Melambung, Pedagang Ponsel Second Panen Raya



