Selular.ID – Counterpoint Research melaporkan penjualan smartphone di China mengalami penurunan pada periode awal 2026, mencerminkan lemahnya permintaan pasar di tengah dinamika ekonomi domestik dan siklus pembaruan perangkat yang belum sepenuhnya pulih.
Laporan tersebut menyoroti bahwa kinerja pasar pada bulan-bulan pertama tahun ini berada di bawah ekspektasi industri.
Penurunan ini terjadi setelah pasar smartphone China sempat menunjukkan tanda pemulihan terbatas pada akhir 2025.
Namun, menurut Counterpoint Research, momentum tersebut tidak berlanjut secara konsisten memasuki 2026.
Faktor seperti kehati-hatian konsumen dalam belanja serta siklus penggantian perangkat yang lebih panjang disebut sebagai penyebab utama melemahnya penjualan.
Secara umum, pasar smartphone China masih menghadapi tekanan struktural.
Selain kondisi ekonomi makro, kompetisi yang semakin ketat antar vendor juga turut memengaruhi performa penjualan.
Vendor lokal seperti Huawei, Xiaomi, dan OPPO terus bersaing dalam menghadirkan inovasi, terutama pada segmen premium dan menengah.
Memasuki 2026, strategi diferensiasi produk menjadi semakin penting.
Counterpoint Research mencatat bahwa vendor yang mampu menghadirkan fitur berbasis kecerdasan buatan (AI), peningkatan kamera, serta efisiensi daya memiliki peluang lebih besar untuk menarik minat konsumen.
Hal ini sejalan dengan tren global di mana AI mulai menjadi salah satu nilai jual utama perangkat smartphone.

Selain inovasi teknologi, pendekatan distribusi dan promosi juga memainkan peran penting.
Banyak vendor meningkatkan aktivitas pemasaran melalui kanal online dan offline untuk mendorong penjualan, terutama pada periode festival belanja dan promosi musiman di China.
Namun, upaya tersebut belum sepenuhnya mampu mengimbangi lemahnya daya beli konsumen secara keseluruhan.
Di sisi lain, pemulihan pasar juga dipengaruhi oleh siklus peluncuran produk baru. Kehadiran model flagship terbaru dari berbagai brand diharapkan dapat menjadi katalis pertumbuhan dalam beberapa bulan ke depan.
Counterpoint Research menilai bahwa peluncuran perangkat dengan teknologi mutakhir, termasuk integrasi AI generatif di perangkat, dapat mendorong minat upgrade dari pengguna lama.
Laporan tersebut juga menyoroti bahwa pasar China memiliki peran strategis dalam industri smartphone global. Sebagai salah satu pasar terbesar di dunia, perubahan tren di China kerap berdampak pada rantai pasok dan strategi global vendor teknologi.
Oleh karena itu, perlambatan di awal 2026 menjadi indikator penting bagi pelaku industri dalam merumuskan langkah bisnis selanjutnya.
Dalam konteks yang lebih luas, kondisi ini menunjukkan bahwa pemulihan pasar smartphone belum sepenuhnya stabil.
Vendor dihadapkan pada tantangan untuk menyeimbangkan inovasi, harga, dan strategi pemasaran agar tetap relevan di tengah perubahan perilaku konsumen.
Ke depan, Counterpoint Research memperkirakan pasar smartphone China berpotensi mengalami perbaikan secara bertahap, terutama jika didukung oleh peluncuran produk baru dan peningkatan kepercayaan konsumen.
Namun, arah pemulihan akan sangat bergantung pada kondisi ekonomi domestik serta kemampuan vendor dalam menghadirkan nilai tambah yang nyata bagi pengguna.
Baca Juga:Â Festival Musim Semi 2026: Saat Teknologi Kecerdasan Buatan Mengubah Pola Konsumsi Masyarakat China




