Selular.ID – Tak dapat dipungkiri, Oppo kini tengah menghadapi tantangan yang tak ringan. Kerasnya kompetisi membuat predikat sebagai raja ponsel Indonesia yang pernah mereka kuasai beberapa tahun sebelumnya, kini telah lepas ke para pesaingnya.
Untuk diketahui, periode 2019 – 2022, merupakan tahun-tahun terbaik Oppo. Kali pertama Oppo memimpin pasar Indonesia terjadi pada 2019.
Berdasarkan laporan lembaga riset yang berbasis di Singapura, Canalys, pada kuartal kedua 2019, Oppo sukses menggamit 26% pangsa pasar.
Momentum Oppo terus berlanjut. Tengok saja pencapaian pada 2021, berdasarkan data IDC, Oppo mampu menggamit pangsa pasar sekitar 20,8%.
Dengan pencapaian itu, Oppo kembali menempati posisi teratas. Fokus pada segmen low-end dan menengah (mid-range) membuat Oppo berhasil mengirimkan 8,5 juta unit ponsel.
Di tahun selanjutnya, momentum Oppo terus berlanjut. Oppo kembali menjadi penguasa pasar ponsel di Indonesia selama 2022 dengan pangsa pasar mencapai 22,4% menurut data IDC.
Namun tanda-tanda penurunan kinerja Oppo mulai terjadi pada 2023. Samsung yang sebelumnya keteteran menghadapi gempuran merek-merek ponsel China akhirnya kembali bangkit.
Berdasarkan laporan IDC, raksasa elektronik yang berbasis di Seoul – Korea Selatan itu, berhasil memimpin dengan pangsa pasar 20,0%, menggeser Oppo yang menempati posisi kedua (19,1%).
Tahun berikutnya terjadi kejutan. Berdasarkan laporan IDC, Transsion yang membawahi tiga merek (Infinix, Tecno, Itel), menjadi penguasa baru pasar smartphone Indonesia.
Tercatat pangsa pasar Transsion sepanjang tahun itu sebesar 18,3 persen, tumbuh pesat sebesar 61,7 persen secara year-over-year (YoY).
Keberhasilan Transsion menguasai pasar Indonesia, membuat Oppo harus puas berada di peringkat kedua, dengan pangsa pasar 17,8 persen, meski tumbuh 7,6 persen (YoY).
Begitu pun sepanjang 2025, penguasa pasar ponsel di Indonesia kembali berganti. Kali ini Xiaomi yang menjadi jawaranya.
Dinukil dari laporan Omdia yang dirilis pada pertengahan Februari 2026, Xiaomi yang membawahi dua merek lain, Redmi dan Poco, didaulat sebagai penguasa ponsel Indonesia sepanjang 2025.
Di tengah kerasnya kompetisi dan menurunnya daya beli masyarakat, merek yang identik dengan warna jingga itu, mampu menggamit 19% pangsa pasar.
Menggenapi posisi lima besar di sepanjang 2025, berturut-turut setelah Xiaomi adalah Transsion (18%), Samsung (17%), Oppo (16%), dan Vivo (15%).
Baca Juga:
- Dulu Kerap Jadi Raja Ponsel Indonesia, Di Mana Posisi Oppo Sekarang?
- Realme Bantah Merger dengan Oppo hingga Isu PHK

Faktor-Faktor Di Balik Menurunnya Kinerja Oppo
Kinerja Oppo yang kini menurun, menunjukkan tak mudah mempertahankan posisi yang telah diraih. Surplus jumlah pemain, membuat pasar sangat kompetitif.
Sejumlah vendor seperti Transsion (Itel, Infinix, Tecno) terbilang agresif. Begitu pun dengan merek-merek challenger  di luar lima besar, seperti Nubia, Motorola, Poco, iQOO, Sharp, dan Honor. Semuanya bersiap mencuri pasar dari lima pemain teratas.
Merek-merek tersebut berupaya menarik animo pelanggan dengan menawarkan harga yang jauh lebih terjangkau namun dengan spesifikasi yang mampu bersaing dengan Oppo. Padahal selama ini, segmen low end dan mid-range, merupakan kekuatan Oppo.
Di sisi lain, masyarakat Indonesia, khususnya segmen menengah bawah (mid to low end) tengah didera penurunan daya beli, membuat konsumen lebih mempertimbangkan harga.
Imbasnya penjualan produk Oppo menurun secara signifikan, bahkan anjlok hingga 41% pada Q4 2023, berdasarkan laporan IDC.
Alasan lain yang membuat Oppo kedodoran adalah kebanyakan konsumen mulai beralih ke merek lain yang dianggap lebih menawarkan value for money (nilai lebih dibanding harga).
Sejumlah pesaing utama seperti Vivo dan Xiaomi juga agresif dalam merilis produk baru yang relevan dengan pasar, termasuk segmen menengah dan premium, sehingga mempersempit ruang gerak Oppo.
Di sisi lain, Oppo juga mengubah model bisnis. Sejak 2022, Oppo mulai mengejar segmen premium (flagship) terutama untuk merespons pergeseran tren pasar di mana konsumen kini rela membayar lebih untuk pengalaman penggunaan unggul, serta untuk meningkatkan citra merek (brand image) agar lebih bergengsi.
Strategi yang diusung Oppo adalah menghadirkan inovasi teknologi terdepan, seperti teknologi telephoto, batere besar, dan kamera Hasselblad, guna menarik pelanggan premium yang rela merogoh kantong untuk membeli smartphone di atas Rp 10 juta.
Tentu membidik segmen premium adalah langkah tepat karena pasar akan berkembang, meski demikian segmen ini lebih kecil dan konsumen sangat selektif dalam memutuskan untuk membeli produk.
Apalagi Opopo harus bersaing dengan pemain kelotokan yang sudah memiliki basis pelanggan yang loyal di segmen ini, seperti Apple (iPhone) dan Samsung. Padahal, harus diakui citra merek (brand awareness) Oppo di segmen premium, belum sekuat dua kompetitornya itu.
Oppo memang tidak terpental dari lima besar yang merupakan kasta tertinggi vendor-vendor smartphone. Meski demikian, sebagai merek yang pernah menjadi penguasa pasar beberapa tahun lalu, tercecer di posisi empat merupakan alarm keras bagi Oppo.
Pasalnya, jika tidak pandai membaca arah pasar, sekaligus berupaya membenahi strategi sesuai dengan keinginan dan kebutuhan konsumen Indonesia, bukan tidak mungkin, posisi Oppo di tahun-tahun selanjutnya semakin tertinggal dari para pesaing lain yang siap menerkam kesempatan yang ada.
Kini pertanyaan besarnya, mampukah Oppo bangkit kembali menjadi raja ponsel Indonesia? Tentu waktu yang kelak membuktikan.



